ENREKANG — Mencari pekerjaan di tengah perubahan teknologi dan kebutuhan dunia kerja yang bergerak cepat tidak cukup hanya bermodal ijazah.

Di Kabupaten Enrekang, pemerintah daerah kini mencoba mendorong masyarakat memiliki bekal lain: keterampilan yang bisa langsung dipakai untuk bekerja, bahkan menjadi modal membuka usaha sendiri.

Hal itu terlihat dari dibukanya Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) Batch 5 yang digelar Pemerintah Kabupaten Enrekang bekerja sama dengan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Pangkep, Selasa (6/10/2026).

Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan peserta yang selesai mengikuti pelatihan dan membawa pulang sertifikat.

Lebih jauh, keterampilan yang diperoleh diharapkan benar-benar bisa digunakan ketika peserta kembali ke tengah masyarakat.

20 Hari yang Diharapkan Tak Berhenti di Ruang Pelatihan

Pelatihan berlangsung selama 20 hari. Setiap kelas diikuti 16 peserta.

Kepala BPVP Pangkep Ashari Arifuddin mengatakan pihaknya menyiapkan 60 paket pelatihan. Pelaksanaannya menyesuaikan kesiapan peserta sekaligus kebutuhan kompetensi yang diperlukan.

Setiap paket dirancang dengan kapasitas 16 orang.

Artinya, pelatihan tersebut diarahkan bukan sekadar memperbanyak peserta, tetapi memberikan ruang belajar yang lebih terukur agar keterampilan yang diperoleh memiliki hubungan dengan kebutuhan dunia kerja maupun peluang usaha mandiri.

Di sinilah persoalannya menjadi lebih besar daripada sekadar pelatihan.

Satu keterampilan bisa menjadi pintu masuk seseorang untuk memperoleh penghasilan.

Dan ketika keterampilan itu berkembang menjadi usaha, satu orang yang awalnya mencari pekerjaan justru berpotensi menciptakan pekerjaan bagi orang lain.

Enrekang Melihat Skill sebagai Jalan Keluar

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kopumkmnakertrans) Enrekang, Hasbar, mengatakan peningkatan kompetensi menjadi salah satu bentuk intervensi pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas tenaga kerja.

Menurutnya, masyarakat yang memiliki kompetensi lebih baik akan mempunyai peluang lebih besar untuk masuk ke dunia kerja atau membangun usaha secara mandiri.

Karena itu, pelatihan juga dikaitkan dengan upaya menekan pengangguran dan pengentasan kemiskinan ekstrem.

Logikanya sederhana.

Ketika seseorang memiliki kemampuan yang dibutuhkan pasar, pilihan ekonominya menjadi lebih banyak. Ia bisa mencari pekerjaan, menerima pekerjaan berbasis keterampilan, atau mencoba menciptakan usaha sendiri.

Program tersebut diharapkan ikut mendukung visi Enrekang Sejahtera untuk Semua.

Bupati Enrekang: Jangan Berhenti pada Sertifikat

Bupati Enrekang Yusuf Ritangnga saat membuka pelatihan mengingatkan peserta agar mengikuti seluruh proses dengan sungguh-sungguh.

Perubahan teknologi dan kebutuhan dunia kerja membuat kemampuan untuk beradaptasi semakin penting.

Karena itu, pembangunan sumber daya manusia menjadi salah satu bagian penting dalam pembangunan daerah.

Menurut Bupati, PBK merupakan langkah konkret untuk membekali masyarakat dengan keterampilan praktis yang dapat digunakan di tempat kerja maupun dikembangkan menjadi usaha.

Namun ada pesan yang cukup menarik dari Bupati.

Pelatihan jangan berhenti ketika sertifikat sudah berada di tangan.

Peserta justru diharapkan membawa keterampilan itu keluar dari ruang pelatihan dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Baik untuk mendapatkan pekerjaan maupun menciptakan peluang kerja.

Dengan kata lain, sertifikat bukan tujuan akhir.

Ia seharusnya menjadi bukti bahwa seseorang telah memperoleh bekal untuk melangkah ke tahap berikutnya.

Tantangan Sesungguhnya Justru Setelah Pelatihan

Pembukaan PBK Batch 5 sekaligus memperlihatkan satu tantangan yang sering muncul dalam program peningkatan keterampilan: apa yang terjadi setelah pelatihan selesai?

Pelatihan selama 20 hari memang dapat memberikan pengetahuan dan keterampilan awal.

Namun dampak ekonominya akan jauh lebih terasa apabila keterampilan tersebut benar-benar tersambung dengan kebutuhan industri, dunia usaha, akses permodalan, sertifikasi, maupun pasar kerja.

Karena itu, kolaborasi antara Pemkab Enrekang, BPVP Pangkep, lembaga pelatihan, dunia usaha dan dunia industri menjadi penting.

Semakin dekat materi pelatihan dengan kebutuhan nyata di lapangan, semakin besar pula peluang keterampilan itu digunakan setelah peserta kembali ke masyarakat.

Bagi Enrekang, pekerjaan rumahnya bukan hanya bagaimana melatih lebih banyak orang.

Tetapi juga bagaimana memastikan keterampilan yang sudah dipelajari tidak berhenti menjadi angka peserta dan tumpukan sertifikat.

Harapannya sederhana: setelah 20 hari belajar, ada lebih banyak warga Enrekang yang memiliki kemampuan untuk bekerja, menghasilkan pendapatan, dan bila memungkinkan, membuka kesempatan kerja bagi orang lain.

Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah pelatihan bukan hanya berapa banyak orang yang duduk di ruang kelas.

Tetapi berapa banyak yang kemudian mampu berdiri dengan keterampilannya sendiri. (FungFi)