Enrekang, Katasulsel.com – Tidak setiap tahun masyarakat adat Kaluppini, Kabupaten Enrekang, menggelar Maccera Manurung. Tradisi yang diwariskan turun-temurun ini disebut berlangsung setiap delapan tahun sekali dan menjadi bagian penting dari kehidupan budaya masyarakat setempat.
Maccera Manurung merupakan tradisi adat sebagai ungkapan rasa syukur atas kesuburan tanah dan keberhasilan hasil pertanian. Pelaksanaannya melibatkan tetua adat serta masyarakat yang mengikuti rangkaian prosesi selama beberapa hari.
Mengutip pemberitaan Radio Republik Indonesia (RRI) pada 16 Mei 2024, upacara Maccera Manurung di Kaluppini berlangsung selama empat hari berturut-turut. Salah satu rangkaian awalnya adalah Mapanongo Gandang, yakni prosesi menurunkan gendang dari masjid untuk kemudian dijemur dan digantung sebelum dipukul sebagai penanda dimulainya kegiatan adat.
Rangkaian berikutnya mencakup Liang Wae dan Ma’peong. Dalam prosesi Ma’peong, beras ketan dimasukkan ke dalam bambu, dicampur santan, kemudian dibakar. Makanan tersebut menjadi bagian dari ungkapan syukur masyarakat atas rezeki yang diperoleh.
Pada bagian puncak, dilakukan penyembelihan hewan seperti kerbau, sapi, dan ayam. Dagingnya kemudian dimasak dan dibagikan kepada masyarakat untuk disantap bersama.
Penelitian Abdullah Al-Fath dari Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar pada 2023 mencatat, rangkaian Maccerang Manurung di Kaluppini juga meliputi Ma’pabangun Tanah, Ma’jaga Bulan, Ma’peong di Bubun Nase, So’diang Gandang, Ma’jaga, Ma’gandang, Mappadendang, Liang Wai, Massemba’, Parallu Nyawa, hingga Massima’ Tanah.
Penelitian tersebut mengidentifikasi nilai spiritual, sosial, dan estetika dalam tradisi ini. Masyarakat memaknainya sebagai ungkapan syukur kepada Allah Swt. atas kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan, serta kesuburan tanah.
Maccera Manurung juga memperlihatkan perjumpaan antara adat dan agama dalam kehidupan masyarakat. Kajian Amelia Arsita dan Arief Fiddienika yang terbit dalam Dinamika Bahasa dan Budaya pada 2024 menemukan adanya integrasi nilai-nilai Islam dalam praktik tradisi Maccera Manurung di Desa Pasang, Kecamatan Maiwa, Enrekang.
Tradisi ini memperlihatkan bahwa warisan budaya di Enrekang tidak hanya tersimpan dalam cerita para tetua adat. Sebagian pengetahuan leluhur tetap hadir melalui rangkaian kegiatan yang melibatkan masyarakat, makanan tradisional, kesenian, dan hubungan antargenerasi.


