Wajo, Katasulsel.com – Sebelum Sengkang berkembang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Wajo, kawasan Tosora di Kecamatan Majauleng pernah menjadi pusat Kerajaan Wajo. Wilayah yang berada di sekitar Sungai Cenrana dan Danau Tempe itu menyimpan jejak sejarah berupa masjid tua, makam tokoh penting, benteng, hingga sumur kuno.
Tosora bukan sekadar permukiman lama. Pada masa kejayaannya, kawasan ini berkembang sebagai pusat pemerintahan sekaligus perdagangan yang menghubungkan masyarakat Bugis dengan pedagang dari berbagai wilayah.
Penelitian Arifuddin Akil, Dias Pradadimara, Edward Syarif, dan Syarif Beddu yang diterbitkan dalam International Review for Spatial Planning and Sustainable Development pada 2022 menjelaskan bahwa Tosora berkembang sebagai kota kecil Kerajaan Wajo sejak abad ke-15 hingga abad ke-20.
Letaknya yang strategis di dekat Sungai Cenrana menjadikan kawasan tersebut penting bagi jalur transportasi dan perdagangan. Sungai menjadi salah satu sarana penghubung Tosora dengan wilayah lain, termasuk kawasan Bone.
Dalam perkembangannya, Tosora menjadi tujuan pedagang lokal, regional, hingga internasional. Aktivitas perdagangan tersebut turut membentuk pertumbuhan permukiman dan kehidupan ekonomi masyarakat.
Jejak kejayaan itu masih dapat ditelusuri melalui peninggalan arkeologis yang tersebar di kawasan Tosora. Penelitian Akin Duli dalam Jurnal Walennae (2010) mencatat sejumlah peninggalan, antara lain masjid, musala, gedung penyimpanan, makam, benteng, sumur kuno, pelabuhan, meriam, serta pecahan keramik dan gerabah.
Salah satu peninggalan pentingnya adalah Masjid Tua Tosora. Berdasarkan penelitian Amhardianti dari Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar pada 2022, masjid tersebut dibangun pada 1621, ketika Kerajaan Wajo dipimpin Arung Matowa XV La Pakallongi To Allinrung.
Perjalanan masjid itu tidak selalu berjalan mulus. Bangunannya pernah mengalami keruntuhan akibat peristiwa Rumpa’na Wajo, kemudian beberapa kali diperbaiki hingga akhirnya diresmikan sebagai bangunan cagar budaya pada 8 Januari 2022.
Tujuh dari 10 Pekerja Wajo Berada di Sektor Informal, Perlindungan Kerja Masih Jadi PersoalanKini, masjid tersebut kembali difungsikan sebagai tempat ibadah, meskipun penggunaannya dalam penelitian itu tercatat terutama untuk salat Jumat. Kawasan ini juga menjadi ruang kegiatan masyarakat, mulai dari kajian keagamaan hingga kegiatan kebudayaan.
Pusat pemerintahan Kerajaan Wajo kemudian berpindah dari Tosora ke Sengkang pada abad ke-20. Perubahan tersebut menandai berkurangnya peran Tosora sebagai pusat kekuasaan, tetapi tidak menghapus jejak sejarah yang tertinggal di dalamnya.
Penelitian Akil dan rekan-rekannya juga mengingatkan bahwa sejumlah peninggalan Tosora berisiko rusak atau hilang apabila tidak dikelola dengan baik. Perubahan penggunaan lahan, pembangunan modern, dan kurangnya pemeliharaan dapat mengancam keberadaan warisan sejarah tersebut.
Tosora menyimpan lebih dari sekadar cerita tentang kerajaan yang pernah berjaya. Di antara bangunan tua dan sisa-sisa peninggalannya, kawasan ini merekam perjalanan Wajo sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, dan perkembangan Islam di Sulawesi Selatan.

