Wajo, Katasulsel.com – Jauh sebelum Islam berkembang menjadi bagian penting sejarah Wajo, masyarakat di wilayah ini telah membangun permukiman, mengolah hasil pertanian, dan menggunakan peralatan batu. Jejaknya ditemukan di sejumlah situs megalitik di Kecamatan Pammana, di sebelah tenggara Danau Tempe.
Penelitian arkeologi mengidentifikasi tiga situs utama, yakni Allangkanange, Cilellang, dan Tobattang. Ketiganya menyimpan tinggalan yang menunjukkan aktivitas manusia sejak sekitar abad ke-13 hingga abad ke-15 Masehi. Temuan tersebut memperluas pemahaman tentang kehidupan masyarakat Wajo sebelum periode sejarah kerajaan dan Islam yang lebih banyak dikenal dalam catatan tertulis.
Penelitian yang dilakukan Hasanuddin dari Balai Arkeologi Sulawesi Selatan dan diterbitkan dalam jurnal Kapata Arkeologi pada 2017 menemukan 36 lumpang batu di ketiga situs tersebut. Benda-benda itu berkaitan dengan aktivitas pengolahan bahan pangan, sementara temuan menhir, gerabah, dan pecahan porselen memberi petunjuk lain mengenai kehidupan serta perkembangan permukiman.
Lumpang Batu Menjadi Petunjuk Kehidupan Agraris
Salah satu temuan yang menonjol di kawasan ini adalah lumpang batu, yakni batu yang memiliki lubang untuk menumbuk atau mengolah bahan. Dalam masyarakat agraris, alat semacam ini dapat digunakan untuk mengolah biji-bijian dan bahan pangan lainnya.
Sebanyak 36 lumpang batu ditemukan di situs Allangkanange, Cilellang, dan Tobattang. Temuan tersebut menjadi salah satu dasar bagi peneliti untuk menyimpulkan bahwa pertanian merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat yang menempati kawasan itu.
Namun, lumpang batu bukan satu-satunya bukti. Fragmen gerabah menunjukkan penggunaan wadah berbahan tanah liat, sedangkan pecahan porselen memberi petunjuk mengenai hubungan masyarakat dengan benda-benda yang berasal dari luar kawasan.
Kombinasi temuan itu membantu arkeolog membaca kehidupan sehari-hari masyarakat masa lalu, mulai dari pengolahan pangan hingga penggunaan barang dalam rumah tangga. Fungsi setiap artefak tetap harus ditentukan berdasarkan bentuk, konteks penemuan, dan analisis arkeologisnya.
Allangkanange Diduga Memiliki Kedudukan Lebih Tinggi
Dari ketiga situs tersebut, Allangkanange memiliki karakteristik yang menonjol. Penelitian Hasanuddin mencatat luas situs ini lebih besar, tinggalan arkeologinya lebih beragam, dan letaknya lebih tinggi dibandingkan Cilellang serta Tobattang.
Berdasarkan perbedaan itu, peneliti mengajukan kemungkinan bahwa Allangkanange memiliki kedudukan lebih tinggi dalam hierarki permukiman. Situs tersebut bahkan diduga pernah menjadi pusat administrasi bagi kawasan di sekitarnya.
Kesimpulan ini masih berupa interpretasi arkeologis, bukan bukti pasti bahwa Allangkanange merupakan ibu kota sebuah kerajaan. Meski begitu, perbedaan luas, posisi geografis, dan keragaman artefak memberikan dasar untuk meneliti bagaimana masyarakat di kawasan tersebut mengatur permukiman dan hubungan sosialnya.
Kajian lanjutan mengenai karakteristik situs megalitik di Kecamatan Pammana yang disusun Andi Muh. Hidayat Makkasau di Universitas Hasanuddin pada 2025 juga mencakup Allangkanange, Cilellang, Tobattang, Lapaukke, dan Tanah Bangkalae. Penelitian itu membedakan situs yang menunjukkan karakter permukiman sekaligus penguburan dari situs yang memiliki tinggalan dengan fungsi lebih khusus.
Menhir, Gerabah, dan Porselen Menyimpan Cerita Berbeda
Selain lumpang batu, situs-situs di Pammana menyimpan menhir, makam kuno, fragmen gerabah, serta pecahan porselen. Menhir merupakan batu yang didirikan secara tegak dan dalam konteks megalitik dapat berkaitan dengan praktik religi, penanda makam, atau fungsi sosial tertentu.
Penelitian Hasanuddin mengenai tinggalan megalitik di Wajo mengingatkan bahwa fungsi menhir tidak selalu sama. Sebagian dapat berhubungan dengan pemujaan leluhur, sementara yang lain berfungsi sebagai nisan atau penanda batas wilayah.
Pecahan porselen juga menjadi petunjuk penting untuk memahami kronologi dan hubungan masyarakat dengan dunia luar. Namun, satu fragmen tidak cukup untuk membuktikan adanya hubungan perdagangan langsung dengan wilayah asal pembuatnya. Peneliti perlu mempertimbangkan jenis keramik, perkiraan umur, konteks lapisan tanah, dan temuan lain yang menyertainya.
Karena itu, situs-situs di Pammana tidak hanya menyimpan batu-batu tua. Tinggalan yang beragam memungkinkan peneliti menelusuri perubahan kehidupan masyarakat selama beberapa abad.
Sejarah Wajo Tidak Dimulai dari Satu Periode Saja
Wajo kerap dikenal melalui sejarah kerajaan, lontara, dan perkembangan Islam. Temuan arkeologi di Pammana menambahkan lapisan sejarah yang lebih tua, ketika masyarakat telah menempati kawasan tersebut dan meninggalkan jejak aktivitasnya.
Penelitian Hasanuddin memperkirakan situs Allangkanange, Cilellang, dan Tobattang berkembang pada abad ke-13 hingga ke-15 Masehi. Penelitian lain di Cilellang oleh Dian Ayu Lestari, Universitas Hasanuddin, juga mengidentifikasi tinggalan megalitik dan artefak yang menunjukkan aktivitas manusia sejak abad ke-14 hingga awal abad ke-17.
Perbedaan rentang waktu dalam penelitian tersebut mengingatkan bahwa setiap situs memiliki kronologi dan konteksnya sendiri. Tidak semua lokasi harus memiliki usia, fungsi, atau riwayat perkembangan yang identik.
Bagi sejarah Wajo, temuan-temuan ini penting karena memperlihatkan bahwa kehidupan masyarakat di kawasan Danau Tempe memiliki akar yang lebih panjang daripada periode yang tercatat dalam sumber tertulis. Batu, gerabah, dan pecahan porselen menjadi petunjuk yang membantu mengisi bagian sejarah yang tidak seluruhnya tersimpan dalam lontara.
