Sidrap, Katasulsel.com β Ada pegawai yang kerjanya ramai dibicarakan. Ada pula yang tidak banyak bicara, tetapi pekerjaannya selalu beres.
Yang pertama mudah terlihat. Yang kedua kadang baru terasa ketika ia tidak ada.
Di Kantor Kecamatan Tellu Limpoe, ada pesan menarik dari Camat H. Ridwan Bachtiar, S.E., M.Si setelah setahun memimpin: orang yang bekerja baik akan dihargai, orang yang disiplin akan dilihat.
Kalimatnya sederhana. Tidak perlu istilah manajemen yang rumit. Tetapi bagi sebuah kantor pelayanan publik, pesan itu punya arti penting.
Sebab, kantor kecamatan bukan panggung untuk berlomba siapa paling pandai berbicara. Di sana, yang paling dibutuhkan masyarakat justru orang-orang yang bisa diandalkan.
Warga datang membawa urusan. Ada yang mengurus administrasi, ada yang membutuhkan informasi, ada pula yang sekadar ingin mendapat kepastian. Mereka tentu tidak terlalu peduli siapa pegawai paling populer.
Mereka hanya ingin urusannya dilayani dengan baik.
Itulah sebabnya, disiplin dan tanggung jawab sering kali lebih berharga daripada banyaknya kata-kata.
Pesan tersebut disampaikan Ridwan saat apel gabungan di Lapangan Upacara Kantor Camat Tellu Limpoe, Senin (26/10/2026).
Dalam kesempatan itu, ia mengevaluasi perjalanan setahun kepemimpinannya sekaligus mengingatkan pentingnya kerja sama, ketulusan, dan keikhlasan dalam menjalankan tugas sebagai aparatur sipil negara.
Ada satu kalimat yang terasa paling panjang umurnya, meski diucapkan dengan sederhana.
βTidak selamanya kita berada di tempat yang sama dan tidak selamanya kita menduduki jabatan yang sama. Namun, yang akan tertinggal adalah nama baik melalui tugas, tanggung jawab, dan pengabdian kita,β ungkapnya.
Dalam apel itu, Ridwan memberikan bingkisan kepada Muhammad Rustang.
Bukan karena jabatan Rustang paling tinggi. Bukan pula karena ia paling sering tampil di depan.
Bingkisan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas kontribusi dan dedikasinya selama setahun terakhir. Ridwan menilai Rustang sebagai sosok pelayan yang bekerja dengan disiplin.
Di tengah rutinitas kantor, penghargaan semacam ini punya pesan tersendiri.
Bahwa pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh tidak seharusnya dianggap biasa hanya karena sudah menjadi kewajiban.
Memang, disiplin adalah bagian dari tugas pegawai. Datang tepat waktu, menyelesaikan pekerjaan, dan melayani masyarakat merupakan tanggung jawab yang melekat pada profesi.
Tetapi mengakui orang yang menjalankan tanggung jawabnya dengan baik juga penting. Bukan untuk membuat pegawai lain merasa kecil, melainkan untuk menunjukkan standar kerja yang ingin dibangun bersama.
Kalau yang bekerja baik dihargai, yang lain punya alasan untuk ikut memperbaiki diri.
Kalau kedisiplinan diperhatikan, budaya kerja perlahan terbentuk.
Dan kalau pelayanan menjadi kebiasaan, masyarakatlah yang akhirnya menikmati hasilnya.
Ridwan memahami satu hal: jabatan memiliki batas waktu.
Hari ini seseorang menjadi camat. Suatu saat, jabatan itu akan diserahkan kepada orang lain. Begitu pula dengan pegawai, yang bisa berpindah tugas atau memasuki masa purnabakti.
Tetapi nama baik kantor tidak boleh ikut berganti setiap kali pejabatnya berubah.
Kantor Kecamatan Tellu Limpoe harus tetap dikenal sebagai tempat masyarakat mendapatkan pelayanan yang baik. Siapa pun yang memimpin dan siapa pun yang bertugas di dalamnya.
Begitu pula nama baik Tellu Limpoe. Ia bukan milik seorang camat, bukan milik satu kelompok pegawai, dan bukan pula milik satu periode pemerintahan.
Nama baik itu dibangun bersama.
Dari cara pegawai menyambut warga. Dari kesungguhan menyelesaikan pekerjaan. Dari kemauan memberikan penjelasan tanpa membuat masyarakat merasa dipersulit.
Hal-hal kecil seperti itu mungkin tidak masuk berita setiap hari. Namun, justru di situlah kepercayaan masyarakat tumbuh.
Ada harapan yang ingin dibawa dalam semangat kerja di Kecamatan Tellu Limpoe: Madeceng Tellu Limpoe, Malomo Rakyatna.
Tellu Limpoe yang baik, rakyatnya dimudahkan.
Sebuah kalimat yang terdengar sederhana, tetapi bisa menjadi pegangan dalam bekerja.
Kalau kantor ingin disebut baik, masyarakat harus merasakan kemudahannya. Kalau pegawai ingin dihargai, pengabdiannya harus terlihat dari pekerjaan. Kalau pimpinan ingin meninggalkan kesan, yang paling lama diingat bukanlah lamanya duduk di kursi jabatan, melainkan apa yang berubah selama ia berada di sana.
Setahun kepemimpinan memang belum tentu menyelesaikan semua pekerjaan. Namun, ia bisa menjadi waktu untuk menegaskan arah: membangun kerja sama, merawat disiplin, dan menghargai pengabdian.
Di Kantor Camat Tellu Limpoe, pesan Ridwan cukup jelas. Yang bekerja baik akan dihargai. Yang disiplin akan diperhatikan.
Sebab, kantor yang baik tidak dibangun hanya oleh seorang pemimpin. Ia tumbuh dari pegawai yang bekerja dengan hati, menjalankan tanggung jawab, dan memahami bahwa di balik setiap urusan administrasi, ada warga yang berharap dibantu.
Pada akhirnya, jabatan hanyalah persinggahan.
Yang tinggal adalah cerita tentang bagaimana seseorang bekerja, bagaimana sebuah kantor melayani, dan bagaimana masyarakat mengenang tempat itu.
Bukan sekadar kalimat untuk diucapkan. Melainkan harapan agar setiap orang yang datang ke kantor kecamatan pulang dengan urusan yang lebih mudah. (edy)
