Wajo, Katasulsel.com – Jalangkote dikenal sebagai salah satu jajanan yang lekat dengan kuliner Sulawesi Selatan. Di Wajo, makanan berbentuk setengah lingkaran dengan kulit tipis dan isian gurih ini juga menjadi bagian dari usaha masyarakat.

Salah satunya Suciati, penjual jalangkote asal Wajo yang menabung dari hasil berjualan selama kurang lebih 16 tahun. Ia mendaftarkan diri sebagai calon jemaah haji pada 2010 dan akhirnya berangkat ke Tanah Suci pada 2026 bersama Kloter 10 Embarkasi Makassar.

Kisah tersebut memperlihatkan sisi lain dari jalangkote di Wajo. Makanan yang dijual dengan harga terjangkau itu menjadi bagian dari usaha yang dijalani Suciati selama bertahun-tahun.

Jalangkote bukan makanan asal Wajo

Meski ditemukan dalam aktivitas kuliner masyarakat Wajo, jalangkote tidak tepat disebut sebagai makanan yang berasal dari kabupaten tersebut.

Sejumlah sumber kuliner menyebut jalangkote sebagai makanan khas Makassar yang kemudian dikenal luas di berbagai daerah Sulawesi Selatan. Jalangkote juga tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2015.

Karena itu, istilah jalangkote di Wajo digunakan untuk menunjukkan keberadaan dan praktik kuliner tersebut di Wajo, bukan untuk menetapkan daerah asalnya.

Bentuk jalangkote mudah dikenali. Kulitnya dibuat tipis, kemudian diisi bahan seperti mi atau bihun, kentang, wortel, taoge, dan telur. Setelah dilipat, bagian tepinya dipilin sebelum digoreng hingga renyah.

Jalangkote biasanya disajikan bersama saus cair bercita rasa pedas dan asam. Kombinasi kulit yang renyah, isian gurih, dan saus menjadi ciri yang membuat jajanan ini berbeda dari pastel.

Ada versi cerita tentang nama jalangkote

Di balik bentuknya yang sederhana, jalangkote memiliki cerita mengenai asal penamaannya.

Budayawan Bugis-Makassar Universitas Hasanuddin, Firman Saleh, menjelaskan salah satu versi bahwa nama jalangkote berkaitan dengan kebiasaan penjual yang dahulu menjajakan makanan dengan berjalan dari satu tempat ke tempat lain sambil menawarkan dagangannya.

Dalam penjelasan tersebut, kata jalang dikaitkan dengan aktivitas berjalan, sedangkan kote dikaitkan dengan suara atau teriakan ketika menawarkan dagangan. Penjelasan ini merupakan salah satu versi yang berkembang mengenai asal nama jalangkote.

Kebiasaan penjualan keliling tersebut juga dikaitkan dengan cara orang menyantap jalangkote. Karena jajanan dijual tanpa tempat makan khusus, pembeli disebut terbiasa menikmatinya sambil jongkok. Dari sini muncul istilah makan jalangkote sambil jongkok.

Dari jajanan pasar ke sumber penghasilan

Jalangkote kemudian berkembang dalam berbagai bentuk penjualan. Makanan ini dapat ditemukan di pasar, lapak makanan, hingga penjual takjil.

Di Bone, misalnya, jalangkote masih menjadi salah satu jajanan yang dicari masyarakat ketika Ramadan.

Di Wajo, cerita Suciati memperlihatkan bagaimana jajanan tersebut masuk ke dalam kehidupan ekonomi masyarakat.

Selama sekitar 16 tahun, ia menyisihkan hasil berjualan untuk memenuhi kebutuhan berhaji. Ia mendaftarkan diri pada 2010 sebelum akhirnya mendapat kesempatan berangkat pada 2026.

Tidak ada keterangan yang cukup dalam sumber yang tersedia mengenai nama lengkap, usia, desa atau kecamatan tempat Suciati tinggal maupun lokasi persis ia berjualan. Karena itu, informasi mengenai dirinya cukup disebut sebagai Suciati, penjual jalangkote asal Wajo.

Jalangkote akhirnya punya cerita yang berbeda di setiap tempat. Di Wajo, salah satunya tercatat melalui perjalanan seorang penjual yang menyisihkan hasil dagangannya selama bertahun-tahun hingga sampai pada keberangkatan ke Tanah Suci pada 2026.