Wajo, Katasulsel.com – Kisah-kisah dalam La Galigo tidak hanya tersimpan dalam manuskrip kuno. Di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, warisan sastra Bugis tersebut juga dikenal melalui tradisi Massure’, seni membacakan atau melantunkan kisah yang bersumber dari naskah peninggalan leluhur.

Tradisi Massure’ menjadi salah satu cara masyarakat Bugis Wajo mempertahankan pengetahuan dan cerita masa lampau. Melalui tradisi lisan ini, kandungan manuskrip tidak berhenti sebagai teks tertulis, tetapi hadir dalam kegiatan sosial dan upacara adat.

Penelitian Hamsiati, Wardiah Hamid, dan Mustolehudin yang diterbitkan dalam Jurnal Lektur Keagamaan pada 2021 mengulas hubungan manuskrip La Galigo dengan tradisi Massure’ di Wajo.

Penelitian tersebut menemukan bahwa sebagian manuskrip La Galigo masih tersimpan sebagai koleksi pribadi masyarakat. Dalam konteks sosial dan keagamaan, naskah itu dipraktikkan melalui seni Massure’ oleh komunitas Bugis Wajo.

Menariknya, Massure’ tidak hanya ditemukan dalam satu jenis kegiatan. Tradisi ini dapat dijumpai dalam sejumlah upacara masyarakat Bugis, seperti Maddoja Bine, Mappenre’ Tojang, Menre’ Bola Baru atau prosesi memasuki rumah baru, Tudang Penni, hingga festival kebudayaan.

Kehadiran Massure’ dalam berbagai kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa sastra lisan memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat. Kisah-kisah yang diwariskan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media penyampaian pengetahuan, nilai, dan ingatan kolektif.

Dalam penelitian itu, para penulis menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi untuk menelusuri keberadaan manuskrip serta praktik Massure’ di tengah masyarakat.

Warisan La Galigo sendiri memiliki kedudukan penting dalam khazanah sastra Sulawesi Selatan. Melalui Massure’, sebagian kandungan karya tersebut terus diperkenalkan dalam ruang kebudayaan masyarakat Bugis.

Tradisi ini menunjukkan bahwa pelestarian sastra tidak selalu berlangsung melalui perpustakaan atau ruang akademik. Di Wajo, cerita leluhur juga menemukan tempatnya melalui suara para pembaca dan kegiatan adat yang masih dijalankan masyarakat.