Wajo, Katasulsel.com ā Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, mencatat produksi rumput laut sebanyak 376.518,3 ton basah dalam data sementara perikanan budidaya hingga triwulan III 2025. Angka tersebut memperlihatkan besarnya potensi rumput laut sebagai komoditas ekonomi daerah.
Data Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan mencatat produksi rumput laut Wajo terdiri atas 342.578,3 ton jenis Cottonii dan 33.940 ton jenis Gracilaria.
Angka tersebut berasal dari dokumen sementara produksi komoditas unggulan perikanan budidaya 2025. Karena cakupannya baru sampai triwulan III, data itu belum dapat dianggap sebagai total produksi sepanjang tahun.
Besarnya produksi membuka peluang bagi Wajo untuk memperkuat sektor rumput laut, bukan hanya melalui penjualan bahan mentah, tetapi juga melalui pengembangan industri pengolahan.
Rumput Laut Wajo dan Peluang Nilai Tambah
Rumput laut memiliki beragam kegunaan dalam industri pangan dan nonpangan. Jenis tertentu dapat diolah menjadi karagenan, agar-agar, serta bahan yang digunakan dalam sejumlah produk industri.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan juga mendorong hilirisasi rumput laut agar komoditas tersebut menghasilkan nilai tambah lebih besar. Pengembangan yang didorong mencakup pengolahan, penyediaan fasilitas penyimpanan dingin, dan penguatan rantai pasok.
Bagi Wajo, pengembangan tersebut dapat menjadi peluang untuk memperluas kegiatan ekonomi di sekitar budidaya rumput laut. Namun, besarnya produksi belum otomatis menunjukkan bahwa industri pengolahan lokal telah berkembang dalam skala yang sama.
Kondisi tersebut perlu ditelusuri melalui data unit pengolahan, kapasitas produksi, jumlah tenaga kerja, serta volume rumput laut yang diproses di dalam kabupaten.
Produksi Besar Belum Menjawab Persoalan Pendapatan Pembudidaya
Angka produksi menggambarkan jumlah hasil budidaya, tetapi tidak langsung menunjukkan pendapatan yang diterima pembudidaya.
Pendapatan dipengaruhi oleh harga jual, biaya bibit, tenaga kerja, perawatan, pengangkutan, serta kualitas hasil panen. Perubahan permintaan dan harga juga dapat memengaruhi nilai ekonomi komoditas meskipun produksi tetap tinggi.
Karena itu, perkembangan rumput laut Wajo perlu dibaca bersama data harga di tingkat pembudidaya dan nilai produksi. Informasi tersebut diperlukan untuk mengetahui seberapa besar manfaat ekonomi yang benar-benar diterima masyarakat pesisir.
Keterangan pembudidaya dan pelaku perdagangan juga penting untuk menjelaskan jalur pemasaran, tujuan pengiriman, serta kendala yang mereka hadapi.
Tantangan Berikutnya Ada pada Pengolahan
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan telah memasukkan hilirisasi rumput laut sebagai salah satu arah pengembangan komoditas unggulan. Produk olahan seperti karagenan dan agar-agar memiliki penggunaan dalam industri pangan, sedangkan pemanfaatan lain dapat dikembangkan sesuai jenis bahan baku dan kebutuhan pasar.
Meski demikian, peluang tersebut memerlukan dukungan teknologi, investasi, kepastian pasokan, dan akses pasar. Tidak semua jenis rumput laut dapat diolah dengan proses yang sama karena karakteristik bahan bakunya berbeda.
Data produksi Wajo hingga triwulan III 2025 memberi dasar untuk melihat skala budidaya yang dimiliki daerah ini. Langkah berikutnya adalah menelusuri berapa banyak hasil panen yang dijual sebagai bahan mentah dan berapa banyak yang masuk ke industri pengolahan.
Informasi tersebut akan membantu menilai apakah besarnya produksi rumput laut sudah diikuti pertumbuhan nilai tambah bagi ekonomi lokal.
