Soppeng, Katasulsel.com – Pasar malam di Soppeng, Sulawesi Selatan, pernah menjadi ruang pertunjukan tari yang melibatkan penari dan penonton dalam satu keramaian. Namanya Pajogek Lambangsare, kesenian yang tercatat dalam dokumentasi tari Bugis sebagai hiburan pada masa Kerajaan Soppeng.

Berbeda dari pertunjukan di panggung modern, Pajogek Lambangsare berlangsung dengan penerangan sulo atau obor. Para penari membentuk pola melingkar, sedangkan penonton berkumpul menyaksikan gerakan mereka. Dalam kesempatan tertentu, penonton juga dapat ikut menari atau memberikan hadiah kepada penari yang disukai.

Keterangan tersebut tercantum dalam buku Tari Daerah Bugis yang tersedia di repositori Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dokumentasi itu menyebut pertunjukan Pajogek Lambangsare digelar untuk memeriahkan pasar malam atas perintah Raja Soppeng.

Catatan tersebut membuka gambaran tentang kehidupan hiburan masyarakat Bugis pada masa kerajaan. Pasar malam bukan hanya tempat berkumpul, tetapi juga menjadi ruang pertemuan sosial, termasuk bagi muda-mudi.

Penari BerkonΒ­de dan Pertunjukan Berobor

Dokumentasi Tari Daerah Bugis menyebut para penari Pajogek Lambangsare dengan istilah passimpolong. Istilah Bugis tersebut dijelaskan sebagai sebutan bagi orang yang memakai konde. Sumber itu juga mencatat bahwa penarinya merupakan kelompok yang dalam terminologi lama disebut wadam.

Para penari mengenakan sarung sutra, baju bodo, dan selendang yang disampirkan di bahu. Mereka menari dengan pola lantai melingkar di bawah penerangan obor.

Catatan yang sama menggambarkan perubahan suasana ketika malam semakin larut. Gerakan penari menjadi lebih ekspresif dan memancing sorakan penonton laki-laki.

Detail tersebut memperlihatkan bahwa Pajogek Lambangsare memiliki karakter pertunjukan yang berkaitan erat dengan suasana pasar malam. Penerangan, busana, gerak tari, dan respons penonton menjadi bagian dari pengalaman pertunjukan.

Namun, gambaran tersebut bersumber dari dokumentasi sejarah. Penjelasan lebih lanjut mengenai aturan pertunjukan dan makna geraknya membutuhkan kajian tersendiri agar tidak menambahkan tafsir yang tidak didukung bukti.

Penonton Tidak Hanya Menyaksikan

Salah satu unsur yang menonjol dalam catatan tentang Pajogek Lambangsare ialah keterlibatan penonton. Mereka dapat ikut menari atau memberikan hadiah kepada penari yang disukai.

Dokumentasi tersebut menyebut kegiatan pemberian hadiah itu sebagai mapposompe.

Praktik ini memberikan gambaran tentang hubungan antara pertunjukan dan kehidupan sosial masyarakat. Penonton tidak selalu berada di luar kegiatan kesenian. Mereka dapat terlibat langsung dalam suasana yang terbentuk di sekitar penari.

Pasar malam juga menjadi tempat pertemuan muda-mudi. Dengan demikian, Pajogek Lambangsare tidak hanya tercatat sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bagian dari aktivitas sosial masyarakat Soppeng pada masa kerajaan.

Meski begitu, dokumen yang tersedia belum menjelaskan secara lengkap aturan pemberian hadiah, kedudukan penari dalam struktur sosial, atau pandangan masyarakat terhadap pertunjukan tersebut. Aspek itu memerlukan penelusuran melalui arsip lokal dan penelitian kebudayaan.

Pajogek Lambangsare dan Ragam Tari Bugis

Pajogek Lambangsare bukan satu-satunya bentuk seni pertunjukan yang menggunakan nama Pajoge di Sulawesi Selatan. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan juga mendokumentasikan Pajoge Makkunrai Bone, yang berkembang di sekitar Kerajaan Bone dan menyebar ke sejumlah daerah, termasuk Soppeng, Wajo, dan Barru.

Kedua bentuk pertunjukan itu perlu dibedakan. Kesamaan nama tidak otomatis menunjukkan bahwa keduanya mempunyai sejarah, karakter, dan tata pertunjukan yang sama.

Karena itu, pembahasan tentang Pajogek Lambangsare perlu bertumpu pada sumber yang secara khusus mencatat tradisi tersebut di Soppeng. Pendekatan ini membantu menjaga ketepatan informasi ketika menelusuri sejarah seni pertunjukan Bugis.

Menelusuri Keberadaannya Hari Ini

Dokumentasi sejarah memberikan informasi mengenai bagaimana Pajogek Lambangsare pernah hadir dalam keramaian pasar malam di Soppeng. Namun, catatan tersebut belum cukup untuk memastikan apakah pertunjukan ini masih diwariskan atau dipentaskan oleh masyarakat setempat.

Kondisi terkini perlu dikonfirmasi kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Soppeng, budayawan, serta komunitas seni tradisional. Penelusuran itu dapat menjelaskan keberadaan pelaku, bentuk pewarisan, dan kemungkinan dokumentasi atau pementasan kembali.

Bagi Soppeng, catatan tentang Pajogek Lambangsare menjadi salah satu pintu untuk memahami sejarah hiburan dan interaksi sosial masyarakat Bugis pada masa kerajaan. Informasi mengenai keberlanjutan tradisi tersebut masih memerlukan bukti dari lapangan.

K
Katasulsel.com
Ikuti kami di media sosial
Berita terbaru Katasulsel juga hadir di Instagram dan TikTok.
Follow Katasulsel untuk update berita terbaru