Soppeng, Katasulsel.com – Bunyi lesung biasanya mengingatkan orang pada kegiatan menumbuk padi. Namun, di Desa Paroto, Kecamatan Lilirilau, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, bunyi yang dihasilkan dari benturan kayu dan lesung juga menjadi bagian penting dalam ritual adat membersihkan benda pusaka.
Tradisi itu dikenal sebagai Mabbissa Arajang. Dalam pelaksanaannya, ritual tersebut diiringi pertunjukan padéndang, yakni permainan lesung dan alu yang menghasilkan irama tertentu. Keterkaitan keduanya begitu erat hingga ritual Mabbissa Arajang dalam penelitian tentang masyarakat Paroto disebut tidak lengkap tanpa pertunjukan padéndang.
Hubungan tersebut didokumentasikan Arisal dan A. Remmang Rilangi dalam kajian yang diterbitkan Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan pada 2017. Penelitian itu menelusuri tahapan pertunjukan, fungsinya dalam ritual, serta nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat Bugis Soppeng.
Ketika Lesung Menjadi Bagian dari Ritual Adat
Mabbissa Arajang berkaitan dengan kegiatan membersihkan benda-benda pusaka yang dipandang sakral oleh masyarakat pemiliknya. Pelaksanaannya mengikuti kesepakatan keluarga pemilik arajang bersama tokoh adat, sehingga tidak memiliki jadwal tetap yang berlaku seragam untuk semua tempat.
Dalam konteks Desa Paroto yang diteliti, padéndang bukan sekadar pertunjukan untuk menghibur penonton. Bunyi lesung memiliki kedudukan tersendiri dalam rangkaian ritual.
Pertunjukan ini melibatkan Indoq Padéndang, sebutan bagi pemain perempuan, dan Amboq Padéndang, sebutan bagi pemain laki-laki. Mereka menumbukkan alu ke lesung dengan irama yang teratur, disertai gerakan yang membuat pertunjukan lebih hidup.
Penelitian tersebut juga mencatat adanya pemain cadangan yang dapat menggantikan pemain ketika kelelahan. Dengan demikian, padéndang memerlukan kerja sama antarpemain, bukan hanya kemampuan menghasilkan bunyi yang selaras.
Tiga Tahap Pertunjukan Padéndang
Dalam penelitian Arisal dan Rilangi, pertunjukan padéndang pada ritual Mabbissa Arajang di Paroto terdiri atas tiga tahap, yakni mappammula padéndang, macculé, dan mappaleppeq padéndang.
Tahap pertama, mappammula padéndang, merupakan persiapan sebelum pertunjukan berlangsung. Penelitian tersebut mencatat keterlibatan pemimpin ritual yang disebut sanro, penyiapan perlengkapan, serta rangkaian pembukaan yang mengikuti tata cara setempat.
Tahap kedua adalah macculé, yaitu saat pertunjukan berlangsung. Para pemain mulai menumbukkan alu ke lesung dengan pola irama tertentu. Gerakan pemain laki-laki menjadi salah satu unsur yang menarik perhatian penonton, sementara pemain lainnya menjaga kesinambungan permainan.
Tahap terakhir, mappaleppeq padéndang, menandai berakhirnya pertunjukan. Dalam rangkaian yang diteliti, tahap ini juga berkaitan dengan penyajian sesajian sebagai bagian dari tata cara ritual masyarakat setempat.
Ketiga tahap tersebut memperlihatkan bahwa padéndang mempunyai susunan tersendiri. Pertunjukan tidak dimulai dan diakhiri begitu saja, melainkan mengikuti urutan yang dipahami oleh orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Ada Nilai Kebersamaan di Balik Bunyi Lesung
Padéndang dalam ritual Mabbissa Arajang juga memperlihatkan hubungan antara kesenian dan kehidupan sosial masyarakat. Persiapan acara melibatkan pemilik ritual, pemimpin adat, pemain, dan warga yang membantu pelaksanaannya.
Arisal dan Rilangi mengidentifikasi sejumlah nilai budaya dalam pertunjukan tersebut, termasuk kebersamaan, gotong royong, dan sikap berserah diri kepada Tuhan. Nilai-nilai itu dibaca melalui perilaku para pelaku dan rangkaian kegiatan yang mereka jalankan.
Penelitian tersebut juga menggambarkan padéndang sebagai pertunjukan yang memiliki fungsi hiburan. Gerakan pemain, irama lesung, dan keterlibatan penonton membuat kegiatan ini memiliki sisi pertunjukan yang dapat dinikmati masyarakat.
Dua fungsi itu hadir bersamaan dalam konteks yang diteliti. Padéndang menjadi bagian dari ritual adat sekaligus ruang pertemuan warga.
Kajian lain mengenai Mabbissa Arajang yang diterbitkan dalam Jurnal Idiomatik pada 2025 juga menyoroti nilai kebersamaan, penghormatan terhadap leluhur, dan upaya mempertahankan tradisi sebagai bagian dari identitas masyarakat Soppeng.
Meski demikian, praktik dan tata cara adat dapat berbeda antarkomunitas. Karena itu, temuan tentang pertunjukan padéndang di Desa Paroto tidak serta-merta mewakili seluruh pelaksanaan Mabbissa Arajang di Kabupaten Soppeng.
Di Paroto, bunyi lesung yang berpadu dengan gerak para pemain menyimpan cerita lebih luas daripada kegiatan menumbuk padi. Ia menjadi bagian dari rangkaian adat yang mempertemukan benda pusaka, kesenian, dan kebersamaan warga.
