Enrekang, Katasulsel.com – Kabupaten Enrekang menjadi daerah penghasil tomat terbesar di Sulawesi Selatan pada 2023. Produksinya mencapai 29.457 ton, hampir setengah dari total produksi tomat provinsi yang tercatat sebanyak 64.804 ton pada tahun yang sama.

Data tersebut tercantum dalam publikasi Statistik Tanaman Hortikultura Provinsi Sulawesi Selatan 2023. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi tomat Sulawesi Selatan berasal dari lahan panen seluas 4.468 hektare, dengan produktivitas rata-rata 14,50 ton per hektare.

Besarnya produksi Enrekang menempatkan kabupaten ini sebagai salah satu pusat penting komoditas tomat di Sulawesi Selatan. Namun, angka produksi belum menjelaskan keseluruhan kondisi usaha tani, mulai dari biaya produksi hingga harga yang diterima petani.

Enrekang Menyumbang Hampir Separuh Produksi Tomat Sulsel

Dari total produksi tomat Sulawesi Selatan sebanyak 64.804 ton pada 2023, Enrekang menyumbang sekitar 45,5 persen.

Artinya, hampir separuh tomat yang tercatat diproduksi di provinsi ini berasal dari Enrekang. Angka tersebut menunjukkan besarnya peran daerah ini dalam penyediaan tomat di tingkat provinsi.

Meski demikian, data produksi tidak bisa langsung digunakan untuk menyimpulkan bahwa seluruh tomat Enrekang dipasarkan ke luar kabupaten. Tujuan distribusi dan volume perdagangan membutuhkan data tersendiri dari pelaku pasar atau instansi terkait.

Data produksi juga tidak otomatis menggambarkan keuntungan petani. Hasil panen yang besar perlu dibaca bersama informasi harga jual, biaya benih, pupuk, tenaga kerja, transportasi, serta risiko kerusakan hasil panen.

Dari Kebun ke Pasar, Bagaimana Petani Mendapatkan Harga?

Besarnya produksi membuat rantai pemasaran menjadi salah satu aspek penting untuk ditelusuri. Tomat merupakan komoditas hortikultura yang mudah rusak, sehingga waktu pengangkutan dan penanganan setelah panen dapat memengaruhi kualitas produk.

Dalam rantai pemasaran hasil pertanian, petani dapat berhubungan dengan pengepul, pedagang grosir, hingga pedagang eceran. Namun, pola tersebut tidak boleh dianggap sebagai gambaran pasti seluruh petani tomat di Enrekang tanpa data lapangan.

Pertanyaan pentingnya adalah berapa harga yang diterima petani saat panen, bagaimana biaya angkut memengaruhi pendapatan, dan apakah petani memiliki pilihan pasar yang cukup untuk menjual hasil kebunnya.

Jawaban atas pertanyaan tersebut memerlukan keterangan petani, pedagang pengumpul, serta data harga produsen. BPS Sulawesi Selatan menerbitkan statistik harga produsen pertanian yang dapat menjadi salah satu rujukan untuk menelusuri harga pada tingkat petani.

Produksi Besar Belum Cukup Menggambarkan Kesejahteraan Petani

Angka produksi sering menjadi indikator untuk melihat besarnya kegiatan pertanian di suatu daerah. Namun, tingginya produksi tidak serta-merta berarti seluruh petani memperoleh pendapatan yang tinggi.

Pendapatan usaha tani bergantung pada selisih antara penerimaan penjualan dan biaya yang dikeluarkan. Ketika harga jual turun atau biaya produksi meningkat, petani dapat menghadapi tekanan meskipun hasil panennya banyak.

Karena itu, data produksi tomat Enrekang perlu dibaca bersama perkembangan harga dan biaya usaha tani. Kombinasi data tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai posisi petani dalam rantai ekonomi komoditas.

Bagi pemerintah daerah, informasi itu juga relevan untuk mengevaluasi kebutuhan infrastruktur pascapanen, akses pasar, dan ketersediaan informasi harga bagi petani.

Data Terbaru Perlu Terus Dipantau

BPS Kabupaten Enrekang telah menyediakan tabel produksi tanaman sayuran dan buah-buahan semusim menurut kecamatan dan jenis tanaman untuk 2025. Data tersebut dapat digunakan untuk menelusuri perkembangan produksi tomat pada periode yang lebih baru.

Namun, angka produksi 2025 perlu dibaca langsung dari tabel resmi sebelum dibandingkan dengan capaian 2023. Perbandingan antartahun harus menggunakan satuan, cakupan, dan status data yang sesuai.

Dengan produksi 29.457 ton pada 2023, Enrekang memiliki posisi penting dalam produksi tomat Sulawesi Selatan. Tantangan berikutnya bukan sekadar mempertahankan jumlah panen, tetapi juga memastikan data harga, biaya produksi, dan pemasaran tersedia untuk menilai kondisi ekonomi petani secara lebih menyeluruh.

    K
    Katasulsel.com
    Ikuti kami di media sosial
    Berita terbaru Katasulsel juga hadir di Instagram dan TikTok.
    Follow Katasulsel untuk update berita terbaru