Enrekang, Katasulsel.com — Ketika kemarau berlangsung berbulan-bulan, persoalan air bersih tak lagi sekadar urusan keran yang mengering. Bagi sebagian warga Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, menyusutnya debit air mulai menyentuh kebutuhan paling mendasar: mendapatkan air untuk minum, memasak, dan menjalani aktivitas sehari-hari.

Di tengah situasi itu, LAZISMU Kabupaten Enrekang bersama Universitas Muhammadiyah Enrekang (UNIMEN) memilih bergerak langsung. Armada dikerahkan untuk mendistribusikan air bersih secara gratis ke sejumlah wilayah yang terdampak kekeringan.

Gerakan ini ditopang dua sumur yang dibangun Muhammadiyah Enrekang melalui pengurus Takmir Masjid Taqwa Muhammadiyah. Keduanya menjadi titik pengisian air bagi kendaraan yang terlibat dalam distribusi bantuan.

Menariknya, fasilitas tersebut tidak hanya digunakan armada LAZISMU dan UNIMEN. Mobil tangki milik sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD), kepolisian, hingga kendaraan masyarakat umum turut memanfaatkan sumur itu untuk mendukung penyaluran air kepada warga.

Halaman Masjid Taqwa Muhammadiyah pun menjadi salah satu simpul penting dalam gerakan kemanusiaan menghadapi krisis air di Enrekang. Sumber air yang tersedia dimanfaatkan bersama agar distribusi bantuan bisa menjangkau lebih banyak penerima.

Pelaksana Tugas Ketua LAZISMU Enrekang, Achmad Dahlan Muchtar, mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang kesulitan mendapatkan air bersih.

Menurut dia, kebutuhan air tidak bisa menunggu hingga kemarau berakhir. Karena itu, bantuan harus hadir sebagai tindakan nyata, terutama bagi warga yang mulai kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.

“Kami meyakini bahwa kepedulian terhadap sesama harus diwujudkan melalui aksi nyata yang berdampak langsung bagi kelangsungan hidup masyarakat,” kata Dahlan, Jumat (23/10/2026).

Ia menjelaskan, distribusi air telah dilakukan ke sejumlah titik, terutama di kawasan perkotaan Enrekang. Penerima bantuan tidak terbatas pada warga di kawasan perumahan, tetapi juga perorangan yang membutuhkan pasokan air.

LAZISMU, kata dia, akan melanjutkan penyaluran selama masyarakat masih mengalami kesulitan memperoleh air akibat kekeringan. Seluruh bantuan diberikan tanpa pungutan biaya.

Dahlan juga mengajak masyarakat menggunakan air secara bijak, sembari menjaga semangat gotong royong menghadapi kondisi yang belum sepenuhnya pulih.

“Kami mengimbau masyarakat agar memanfaatkan bantuan ini dengan bijak, tetap optimistis, serta saling menguatkan dan bergotong royong menghadapi masa-masa krisis air ini,” ujarnya. Dahlan juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Agama Islam UNIMEN.

Kampus Tak Hanya Mengajar

Keterlibatan UNIMEN memperlihatkan bahwa peran perguruan tinggi tidak berhenti di ruang kuliah. Ketika masyarakat menghadapi persoalan nyata, sumber daya kampus dapat digunakan untuk membantu menjawab kebutuhan di sekitarnya.

Wakil Rektor III UNIMEN, Dr. Saidang, mengatakan pihaknya mengerahkan kendaraan operasional kampus untuk mengangkut air dan mendistribusikannya ke rumah-rumah warga.

Menurut Saidang, penyusutan debit air PDAM telah menyulitkan sebagian masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari, khususnya untuk minum dan memasak.

“Kami merasa terpanggil untuk mengambil bagian dalam meringankan beban masyarakat. Kami berharap upaya ini bisa sedikit membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari sambil menunggu pasokan air kembali normal,” katanya.

Bagi UNIMEN, keterlibatan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perguruan tinggi. Sementara LAZISMU menjalankan peran kemanusiaan dengan membantu masyarakat memperoleh kebutuhan dasar di tengah situasi sulit.

Kolaborasi keduanya menunjukkan bahwa penanganan krisis tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Sumur yang menjadi titik pengisian, kendaraan yang mengangkut air, dan kesediaan berbagai pihak untuk berbagi sumber daya dapat menjadi penopang penting ketika pasokan air warga terganggu.

Namun, distribusi air gratis tetap memiliki batas. Bantuan dapat meringankan beban masyarakat untuk sementara, tetapi pemulihan pasokan air dan ketersediaan sumber air yang dapat diakses warga tetap menjadi kebutuhan jangka panjang.

Selama dampak kemarau masih dirasakan, kerja bersama antara lembaga sosial, perguruan tinggi, pemerintah, kepolisian, dan masyarakat menjadi penting agar bantuan dapat menjangkau warga yang membutuhkan.

Di Enrekang, dua sumur di halaman masjid kini bukan hanya menjadi tempat mengisi tangki. Keduanya menjadi bagian dari ikhtiar bersama agar warga tetap memiliki akses terhadap air bersih ketika kemarau membuat sumber kehidupan itu semakin sulit diperoleh. (FungFi)

K
Katasulsel.com
Ikuti kami di media sosial
Berita terbaru Katasulsel juga hadir di Instagram dan TikTok.
Follow Katasulsel untuk update berita terbaru