Sidrap, Katasulsel.com ā Lima juta butir telur sehari bukan angka kecil. Itu berarti jutaan kebutuhan pakan harus dipenuhi secara terus-menerus. Sekali pasokan jagung tersendat atau biaya pakan melonjak, dampaknya bisa menjalar dari kandang peternak hingga ke meja makan masyarakat.
Di situlah kabar dari Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, menjadi penting.
Pemerintah Kabupaten Sidrap menyebut alokasi jagung melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk daerah itu meningkat menjadi 8.260 ton pada tahap ketiga. Bagi peternak ayam petelur, tambahan pasokan ini diharapkan menjadi penyangga agar usaha tetap berjalan di tengah tekanan biaya produksi.
Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, menyampaikan perkembangan tersebut dalam pertemuan bersama Perum Bulog dan peternak se-Sidrap.
Ia memaparkan, alokasi jagung SPHP yang diterima Sidrap meningkat dari 1.000 ton pada tahap pertama menjadi 2.183 ton pada tahap kedua, kemudian 8.260 ton pada tahap ketiga.
Angkanya melonjak. Dari 1.000 ton menjadi 8.260 ton.
Namun, bagi peternak, yang paling menentukan bukan sekadar besarnya angka di atas kertas. Jagung itu harus benar-benar sampai ke kandang, tersedia saat dibutuhkan, dan dapat diakses oleh peternak yang memenuhi persyaratan.
Sidrap memiliki sekitar 340 peternak dengan populasi ayam petelur mencapai 5,4 juta ekor. Produksinya diperkirakan sekitar 5 juta butir telur setiap hari.
Skala itu membuat persoalan pakan bukan lagi urusan satu-dua peternak. Ia berkaitan dengan keberlangsungan industri peternakan daerah, perputaran ekonomi, hingga ketersediaan telur di pasar.
Karena itu, tambahan alokasi jagung SPHP memiliki arti lebih luas. Bukan hanya membantu peternak memperoleh bahan baku pakan, tetapi juga menjaga agar aktivitas produksi tidak terganggu oleh persoalan pasokan.
Dari total alokasi jagung SPHP tahap ketiga untuk Sulawesi Selatan sebesar 19.000 ton, Sidrap memperoleh alokasi 8.260 ton. Sebanyak 3.000 ton disebut akan menjadi stok awal untuk memenuhi kebutuhan peternak. Penyaluran selanjutnya dilakukan bertahap mengikuti ketersediaan pasokan Bulog.
Artinya, pekerjaan belum selesai ketika alokasi ditetapkan. Tantangan berikutnya adalah memastikan distribusi berjalan dan penerima yang membutuhkan tidak tertinggal.
Ada persoalan lain yang tak kalah penting: siapa yang bisa mengakses jagung SPHP?
Bersambung………
