Sidrap, Katasulsel.com — Tidak semua hadiah bisa dibungkus. Tidak semua kebanggaan bisa diucapkan dengan kata-kata.

Bagi Pondok Pesantren Al Urwatul Wutsqaa Benteng, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, hadiah itu datang dari Jepang. Bukan kiriman paket. Bukan pula piala yang dibawa pulang untuk dipajang di lemari.

Hadiah itu berupa medali emas dan perunggu Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026.

Pembawanya adalah Muh Al Imran, alumni pesantren tersebut yang kini mengharumkan nama Indonesia melalui cabang para bulu tangkis.

Ada cerita menarik di balik dua medali itu. Sebelum berdiri di arena olahraga Asia, Imran pernah menghabiskan enam tahun masa pendidikannya di Pesantren Al Urwatul Wutsqaa Benteng. Kini, namanya menjadi kebanggaan bagi tempat yang pernah ikut menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Pimpinan pesantren, KH Suardi Latarebbi, mengaku haru dan bangga atas pencapaian alumninya tersebut. Prestasi Imran terasa semakin istimewa karena hadir berdekatan dengan momentum Hari Santri Nasional 2026.

ā€œIni merupakan kado istimewa bagi pesantren, khususnya Pesantren Benteng, di Hari Santri Nasional ini,ā€ ujar Suardi dalam keterangan yang diterima di Makassar, Jumat.

Bagi Suardi, keberhasilan itu bukan sekadar urusan medali. Ada kebanggaan ketika seorang anak yang pernah menimba ilmu di pesantren mampu berdiri di panggung internasional dan membawa nama Indonesia.

Di Jepang, Imran tidak datang untuk sekadar meramaikan pertandingan.

Bersama Suryo Nugroho, ia merebut medali emas nomor ganda putra SL3-SU5. Pasangan Indonesia itu mengalahkan wakil Korea Selatan, Shin Kyung Hwan dan Cho Nadan, melalui dua gim langsung dengan skor 25-23 dan 21-8.

K
Katasulsel.com
Ikuti kami di media sosial
Berita terbaru Katasulsel juga hadir di Instagram dan TikTok.
Follow Katasulsel untuk update berita terbaru