Kisah Imran membawa pesan yang lebih luas daripada kemenangan di lapangan.

Pesan itu sederhana: tempat seseorang pernah belajar bukan batas bagi cita-citanya. Pesantren, sekolah, kampung, maupun daerah kecil tidak harus menjadi garis akhir perjalanan.

Dari Benteng, Sidrap, seorang alumnus bisa melangkah hingga arena internasional. Dari masa pendidikan selama enam tahun, lahir cerita yang kini membanggakan keluarga, guru, teman-teman, dan masyarakat yang mengenalnya.

Tentu, keberhasilan seorang atlet tidak bisa dibebankan hanya kepada satu lembaga. Latihan, pelatih, dukungan keluarga, kesempatan bertanding, serta pembinaan olahraga ikut menentukan perjalanan panjangnya.

Namun, pesantren memiliki alasan kuat untuk ikut berbangga. Imran pernah menjadi bagian dari lingkungan pendidikan mereka. Kini, prestasinya menjadi inspirasi bagi santri yang sedang merintis jalan masing-masing.

Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026 berlangsung pada 18–24 Oktober, dengan mempertandingkan 18 cabang olahraga dan diikuti kontingen dari 45 negara serta teritori di Asia.

Di antara persaingan para atlet dari berbagai negara itu, nama Muh Al Imran ikut tercatat sebagai peraih medali Indonesia.

Dan bagi Pesantren Benteng, ada kebahagiaan tersendiri ketika kabar dari Jepang itu tiba.

Enam tahun pernah dihabiskan Imran di sana. Kini, ia mengirimkan pulang sesuatu yang jauh lebih besar daripada kenangan masa sekolah: kebanggaan yang bisa dirasakan bersama. (edybasri)

K
Katasulsel.com
Ikuti kami di media sosial
Berita terbaru Katasulsel juga hadir di Instagram dan TikTok.
Follow Katasulsel untuk update berita terbaru