Gim pertama berlangsung ketat. Selisih angka tipis memperlihatkan betapa pentingnya menjaga konsentrasi ketika lawan terus memberikan tekanan.

Namun, setelah melewati pertarungan sengit pada gim pertama, pasangan Indonesia tampil lebih meyakinkan pada gim kedua. Skor 21-8 memastikan emas menjadi milik mereka.

Imran juga membawa pulang medali perunggu dari nomor tunggal putra SL3. Langkahnya terhenti di semifinal setelah kalah dari wakil India, Nitesh Kumar, dengan skor 19-21 dan 16-21.

Satu emas dan satu perunggu. Dua nomor berbeda, dua ujian berbeda, tetapi keduanya menjadi bagian dari pencapaian Imran di ajang olahraga disabilitas tingkat Asia tersebut.

Prestasi di Jepang itu bukan cerita tentang keberuntungan yang tiba-tiba datang.

Menurut Suardi, Imran telah menekuni bulu tangkis sejak duduk di bangku sekolah dasar. Artinya, perjalanan menuju panggung Asia dibangun melalui proses panjang, latihan, ketekunan, dan kerja keras.

Imran juga pernah menempuh pendidikan di Ma’had Aly As’adiyah Sengkang, Kabupaten Wajo. Jejak pendidikannya memperlihatkan bahwa perjalanan seorang atlet tidak selalu berlangsung di satu tempat. Ada banyak fase yang membentuk dirinya hingga mampu bersaing di tingkat internasional.

Pada Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) 2024 di Solo, Jawa Tengah, Imran yang memperkuat kontingen Jawa Barat juga berhasil meraih medali emas.

Prestasi tersebut turut membuka jalan menuju pemusatan latihan nasional untuk persiapan Asian Para Games 2026.

Dari kompetisi nasional ke panggung Asia, Imran terus melangkah. Medali di Jepang menjadi bukti bahwa kerja panjang di belakang layar akhirnya menemukan panggungnya.

K
Katasulsel.com
Ikuti kami di media sosial
Berita terbaru Katasulsel juga hadir di Instagram dan TikTok.
Follow Katasulsel untuk update berita terbaru