Jeneponto, Katasulsel.com – Di Desa Balangloe, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto, bulan Safar memiliki perayaan adat tersendiri. Masyarakat setempat mewarisi Je’ne-Je’ne Sappara, ritual tahunan yang berlangsung selama beberapa hari dan mencapai puncaknya pada 14 Safar dalam kalender Hijriah.

Namanya kerap diterjemahkan sebagai “mandi Safar”. Namun, rangkaian tradisinya jauh lebih luas daripada aktivitas mandi. Penelitian tentang ritual ini mencatat sejumlah prosesi yang melibatkan pertunjukan, permainan tradisional, arak-arakan benda pusaka, hingga kegiatan yang berkaitan dengan air.

Kajian Indarwati dan Lina Mariana dalam jurnal Kibas Cenderawasih mengidentifikasi 11 bentuk ritual dalam Je’ne-Je’ne Sappara. Penelitian lain yang tersimpan di repositori Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar juga mencatat bahwa perayaan ini berlangsung setiap tahun pada bulan Safar dan melibatkan berbagai tahapan adat.

Bukan Cuma Mandi, Ada 11 Bentuk Prosesi

Je’ne-Je’ne Sappara memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi dapat merangkum berbagai ekspresi budaya dalam satu perayaan. Dalam penelitian Indarwati dan Mariana, bentuk-bentuk prosesi yang dicatat antara lain appasempa, a’lili, patoeng, a’rurung kalompoang, dengka pada, pakarena, paolle, pabbatte, a’jeknek, akraga, dan manyukkang.

Setiap prosesi memiliki bentuk dan makna tersendiri. Ada unsur pertunjukan, aktivitas komunal, dan simbol yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat setempat. Karena itu, Je’ne-Je’ne Sappara tidak tepat dipahami hanya sebagai ritual mandi yang dilakukan pada bulan Safar.

Nama dan ejaan beberapa prosesi dapat berbeda antarsumber. Daftar tersebut merujuk pada penelitian yang dipublikasikan di jurnal Kibas Cenderawasih pada 2019, sehingga tidak otomatis berarti seluruh rangkaian selalu ditampilkan dengan bentuk yang sama pada setiap penyelenggaraan.

Puncak Perayaan Bertepatan dengan 14 Safar

Penelitian mengenai Je’ne-Je’ne Sappara di Balangloe mencatat bahwa rangkaian perayaan berlangsung selama sekitar sepekan, dengan puncak pada 14 Safar. Waktu tersebut menjadi bagian penting dari tradisi yang diwariskan masyarakat setempat.

Dalam kajian yang tersimpan di repositori UIN Alauddin Makassar, sejumlah prosesi yang disebut antara lain a’je’ne-je’ne, appasempa, patoeng, dengka pada, serta pertunjukan musik dan seni tradisional. Rangkaian kegiatan itu mempertemukan unsur adat, hubungan sosial, dan keyakinan masyarakat.

Bagi warga yang menjalankannya, perayaan tersebut dimaknai sebagai bagian dari harapan akan keselamatan dan ungkapan syukur. Pemaknaan itu merupakan keyakinan budaya masyarakat, bukan bukti bahwa ritual secara objektif dapat mencegah bencana.

Perbedaan cara memahami tradisi ini juga pernah menjadi bahan penelitian tersendiri. Kajian di jurnal Shautuna pada 2021 membahas pandangan masyarakat serta tinjauan hukum Islam terhadap Je’ne-Je’ne Sappara. Hal itu menunjukkan bahwa tradisi tersebut hidup di tengah pembicaraan mengenai adat, agama, dan cara masyarakat memberi makna pada praktik turun-temurun.

Simbol Adat yang Mulai Berhadapan dengan Perubahan

Je’ne-Je’ne Sappara bukan hanya menyimpan rangkaian acara, tetapi juga simbol-simbol yang diwariskan antargenerasi. Penelitian yang terbit di Jurnal Onoma pada 2025 membahas penggunaan daun sirih, tarian, mantra, dan benda pusaka dalam ritual tersebut.

Penelitian itu menafsirkan simbol-simbol tersebut sebagai bagian dari identitas budaya, hubungan sosial, dan relasi masyarakat dengan alam. Namun, kajian yang sama juga mengidentifikasi tantangan pelestarian, terutama modernisasi, kurangnya dokumentasi, serta keterlibatan generasi muda yang dinilai masih terbatas.

Tantangannya bukan semata-mata menjaga agar perayaan tetap digelar. Pengetahuan mengenai urutan prosesi, makna simbol, dan pihak yang berperan dalam pelaksanaannya juga perlu diwariskan. Tanpa dokumentasi dan regenerasi, sebuah tradisi bisa tetap terlihat dalam kalender acara, tetapi sebagian pengetahuan di baliknya perlahan menghilang.

Peneliti juga mengingatkan bahwa pengembangan Je’ne-Je’ne Sappara sebagai wisata budaya perlu melibatkan masyarakat dan tetap menghormati unsur sakralnya. Tradisi ini memang dapat menarik perhatian pengunjung, tetapi kepentingan pariwisata tidak semestinya menghapus makna yang dipegang oleh komunitas pelaksananya.

Di Balangloe, Je’ne-Je’ne Sappara menyatukan kalender Hijriah, rangkaian prosesi adat, dan ingatan kolektif masyarakat. Catatan penelitian yang tersedia telah mendokumentasikan bentuk-bentuk ritualnya, tetapi keberlanjutan tradisi itu tetap bergantung pada orang-orang yang memahami dan meneruskannya.

K
Katasulsel.com
Ikuti kami di media sosial
Berita terbaru Katasulsel juga hadir di Instagram dan TikTok.
Follow Katasulsel untuk update berita terbaru