Jeneponto, Katasulsel.com – Adonan tepung beras dituangkan dari sebuah cetakan kecil ke dalam minyak panas. Tangannya bergerak cepat. Adonan yang jatuh tidak dibuat menjadi bulatan atau lembaran, melainkan dibiarkan saling silang hingga membentuk jalinan tipis seperti benang.

Dari situlah bannang-bannang mendapatkan bentuk yang menjadi cirinya.

Kue tradisional ini masih dikenal dalam masyarakat Jeneponto. Penelitian tentang bannang-bannang di Jeneponto mencatat keberadaannya dalam berbagai kegiatan keluarga dan adat, mulai dari lamaran dan rangkaian pernikahan hingga acara tahlilan.

Dibuat dengan Gerakan yang Tidak Bisa Sembarangan

Bannang-bannang dibuat dari bahan yang relatif sederhana: tepung beras, gula, minyak, dan air. Namun, bagian yang tidak sederhana justru terletak pada cara membentuknya.

Dalam penelitian yang diterbitkan Pangadereng, adonan dimasukkan ke dalam cetakan berbentuk batok kelapa yang memiliki lubang. Cetakan kemudian digerakkan di atas minyak panas hingga adonan keluar membentuk jalinan seperti benang. Saat mulai matang, adonan dilipat menggunakan sendok agar membentuk ukuran dan bentuk yang diinginkan.

Teknik tersebut membuat bannang-bannang memiliki tampilan yang mudah dikenali. Jalinannya tampak seperti benang yang kusut, tetapi justru bentuk itulah yang menjadi identitas kue.

Pada masa lalu, prosesnya lebih panjang. Tepung beras dibuat sendiri dengan merendam beras, meniriskannya, menumbuk menggunakan lesung, kemudian mengayaknya. Gula aren dan minyak kelapa juga dapat dibuat sendiri sebelum digunakan untuk memasak.

Sekarang prosesnya lebih praktis. Tepung beras siap pakai dan bahan kemasan lebih mudah digunakan.

Dari Lamaran sampai A’matoang

Bannang-bannang punya tempat khusus dalam rangkaian pernikahan masyarakat Jeneponto.

Penelitian etnomatematika yang terbit pada 2025 mencatat kue ini hadir dalam kegiatan pernikahan sejak lamaran hingga a’matoang, tradisi setelah resepsi pernikahan. Bannang-bannang juga ditemukan dalam acara tahlilan pada hari ke-20, ke-40, ke-100, hingga peringatan satu tahun.

Artinya, kue ini tidak hanya muncul ketika keluarga sedang merayakan perkawinan. Ia juga dapat hadir dalam acara yang berkaitan dengan keluarga yang telah meninggal.

Ada pula alasan praktis mengapa pembuatannya dahulu sering dilakukan bersama. Bannang-bannang dibuat dalam jumlah banyak untuk dibagikan kepada kerabat dan tamu dalam pesta. Penelitian Pangadereng mencatat proses pembuatannya di pedesaan dilakukan secara bergotong royong bersama keluarga atau tetangga.

Di titik ini, cerita bannang-bannang bukan lagi soal rasa manis. Ada pekerjaan bersama yang ikut menyertainya.

Mengapa Bentuknya Seperti Benang?

Bentuk bannang-bannang memang mengundang tafsir.

Penelitian mengenai masyarakat Jeneponto mencatat bentuknya yang menyerupai benang kusut sering dikaitkan dengan hubungan yang saling terjalin. Dalam konteks pernikahan, bentuk tersebut ditafsirkan sebagai hubungan dua keluarga yang menjadi satu.

Namun, tafsir itu sebaiknya ditempatkan sebagai pemaknaan budaya masyarakat, bukan sebagai satu-satunya asal-usul bentuk kue.

Nama bannang-bannang sendiri berkaitan dengan kata bannang yang berarti benang dalam bahasa Makassar. Sebutan dan jenis kue serupa juga dikenal di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan dengan nama berbeda. Penelitian Pangadereng mencatat bahwa versi penggunaan bahan dapat berbeda menurut daerah, termasuk Jeneponto, Pinrang, dan Sidrap.

Kini Tak Semudah Dulu Menemukannya

Bannang-bannang masih dapat ditemukan di Jeneponto, tetapi pembuatannya membutuhkan keterampilan yang tidak bisa digantikan hanya dengan mencampur bahan dan menggorengnya.

Sebuah laporan KompasTV pada 2021 mencatat kue ini mulai jarang dibuat di Jeneponto. Saat itu, bannang-bannang masih dapat ditemukan dalam acara perkawinan dan upacara kematian, sementara di Pasar Turatea Karisa, hanya tersisa beberapa penjual yang membuatnya.

Di Desa Wisata Batu Rinring, Kecamatan Turatea, bannang-bannang juga masih tercatat sebagai salah satu produk kuliner yang ditawarkan bersama tumpi.

Dari adonan yang jatuh setipis benang ke minyak panas, sebuah kue kemudian terbentuk menjadi jalinan yang sulit dipisahkan. Di Jeneponto, bentuk itu masih muncul ketika keluarga menyiapkan hajatan, menerima kerabat, atau berkumpul dalam rangkaian tradisi.