Jeneponto, Katasulsel.com – Jeneponto selama ini lekat dengan kuda dan garam. Namun, daerah di bagian selatan Sulawesi Selatan ini juga menyimpan jejak sejarah kerajaan yang panjang.

Salah satunya adalah Kerajaan Binamu. Jejak kerajaan tersebut masih dapat ditelusuri melalui Kompleks Makam Raja-Raja Binamu di Bontoramba.

Kompleks ini bukan sekadar pemakaman lama. Pemerintah menetapkannya sebagai cagar budaya peringkat nasional melalui Surat Keputusan Nomor 240/M/1999 pada 4 Oktober 1999.

Catatan Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan menyebut Binamu pernah menjadi pusat sebuah kerajaan yang tumbuh dalam perkembangan kerajaan-kerajaan di jazirah Sulawesi Selatan.

Sejarah Binamu juga tidak berdiri sendiri. Kajian mengenai kerajaan-kerajaan di wilayah Jeneponto menunjukkan bahwa perkembangan Binamu dan Bangkala berkaitan dengan pertumbuhan permukiman pertanian di sejumlah lembah sungai. Sumber sejarah yang digunakan untuk menelusuri masa awal wilayah tersebut antara lain lontara, tradisi lisan, penelusuran tempat bersejarah, dan temuan arkeologis.

Makam Raja-Raja Binamu

Salah satu peninggalan paling penting Kerajaan Binamu berada di Bontoramba.

Kompleks Makam Raja-Raja Binamu menyimpan ratusan makam dengan bentuk dan ukuran yang beragam. Dokumen kebudayaan pemerintah mencatat terdapat sekitar 639 makam di dalam kompleks tersebut.

Makam-makam itu memiliki bentuk yang khas. Sebagian menggunakan susunan papan batu bertingkat dengan ragam hias pada jirat dan nisan.

Karakter tersebut membuat kompleks makam Raja-Raja Binamu memiliki nilai penting dalam kajian sejarah dan arkeologi Sulawesi Selatan.

Keberadaan makam juga menunjukkan bagaimana masyarakat masa lalu memberikan penanda terhadap orang-orang yang memiliki kedudukan tertentu dalam struktur sosial kerajaan.

Dengan demikian, makam tidak hanya menjadi tempat pemakaman. Bentuk bangunan, nisan, ragam hias, dan penempatannya dapat menjadi sumber untuk membaca kehidupan sosial dan budaya masyarakat pada masa lalu.

Binamu dan Sejarah Jeneponto

Membicarakan sejarah Jeneponto tidak cukup hanya dengan melihat pembentukan wilayah administratif modern.

Jauh sebelum nama Jeneponto dikenal sebagai sebuah kabupaten, wilayah ini telah memiliki sejumlah kerajaan dan komunitas lokal. Binamu menjadi salah satu kekuatan penting dalam perkembangan kawasan tersebut.

Kajian mengenai Binamu dan Bangkala menunjukkan bahwa masyarakat di wilayah ini telah membangun permukiman pertanian sejak berabad-abad lalu. Perkembangan pertanian ikut mendorong terbentuknya unit-unit pemerintahan lokal.

Jejak tersebut memperlihatkan bahwa sejarah Jeneponto tidak hanya berkaitan dengan kondisi alamnya yang relatif kering. Wilayah ini juga memiliki sejarah politik, pertanian, perdagangan, dan kebudayaan yang berkembang dari komunitas-komunitas lokal.

Karena itu, keberadaan Kompleks Makam Raja-Raja Binamu menjadi penting. Situs tersebut membantu mempertemukan sejarah yang tercatat dalam sumber tertulis dengan peninggalan fisik yang masih dapat dilihat hingga sekarang.

Warisan yang Perlu Dikenalkan

Kompleks Makam Raja-Raja Binamu telah mendapat status perlindungan sebagai cagar budaya. Namun, keberadaan status tersebut tidak otomatis membuat sejarahnya dikenal luas.

Pengenalan situs sejarah tetap penting, terutama kepada generasi muda di Jeneponto.

Mengenal Binamu berarti mengenal salah satu bagian dari perjalanan panjang masyarakat Jeneponto. Dari makam, orang dapat melihat bagaimana sejarah kerajaan meninggalkan jejak melalui arsitektur, simbol, dan tradisi.

Situs seperti ini juga dapat menjadi bagian dari pengembangan wisata berbasis sejarah dan budaya. Bukan sekadar tempat untuk dikunjungi, tetapi ruang untuk memahami bagaimana masyarakat Jeneponto terbentuk dan berkembang.

Jeneponto memang dikenal sebagai daerah kuda dan garam. Namun, identitas daerah ini jauh lebih luas.

Di Bontoramba, jejak Kerajaan Binamu masih tersimpan. Ia menjadi pengingat bahwa di balik wilayah yang kini dikenal sebagai Jeneponto, pernah tumbuh kekuatan politik dan kebudayaan yang meninggalkan warisan hingga hari ini.(*)