Sinjai, Katasulsel.com — Ada cara yang tidak biasa untuk merayakan rasa syukur di Sinjai. Bukan dengan sekadar menggelar jamuan di daratan, melainkan dengan membawa banyak orang ke sungai, menaiki perahu, lalu menghalau ikan bersama-sama dari bagian hulu menuju muara.

Tradisi itu dikenal sebagai Marrimpa Salo.

Dalam bahasa masyarakat setempat, marrimpa salo berarti menghalau ikan di sungai. Tradisi ini berkembang di kawasan pesisir Sungai Appareng dan dilaksanakan secara turun-temurun sebagai bagian dari pesta adat masyarakat. Pemerintah Kabupaten Sinjai menyebutnya sebagai bentuk ungkapan syukur atas rezeki dari hasil pertanian dan perikanan.

Yang menarik, Marrimpa Salo bukan kegiatan satu kampung yang berjalan sendiri.

Tradisi ini mempertemukan masyarakat Desa Sanjai, Kecamatan Sinjai Timur, dan Desa Bua, Kecamatan Tellulimpoe. Pelaksanaannya dilakukan secara bergiliran oleh kedua desa tersebut. Penelitian mengenai Marrimpa Salo mencatat bahwa tradisi ini menjadi ruang pertemuan sosial bagi masyarakat yang hidup di sekitar sungai.

Di sinilah sungai mendapatkan peran yang lebih besar daripada sekadar jalur air.

Ikan Dihalau dari Hulu Menuju Muara

Bagian utama Marrimpa Salo berlangsung di sungai.

Warga menggunakan perahu untuk bergerak dari arah hulu menuju muara. Dalam prosesi tersebut, ikan dihalau secara beramai-ramai hingga berkumpul di bagian sungai yang menjadi lokasi penangkapan.

Suasana prosesi diperkuat bunyi gendang dan bunyi-bunyian dari batang bambu. Dokumentasi penelitian tentang Marrimpa Salo mencatat penggunaan perahu, jala, bambu, daun kelapa, serta perlengkapan lain yang dipersiapkan masyarakat sebelum pesta adat berlangsung.

Hasil tangkapan kemudian menjadi bagian dari pesta bersama.

Pemerintah Kabupaten Sinjai pada pelaksanaan Festival Budaya Pesisir Marrimpa Salo 2025 menggambarkan prosesi tersebut sebagai kegiatan menghalau ikan dari hulu menuju muara dengan perahu, diiringi tabuhan gendang yang bersahut-sahutan dan bunyi dari batang bambu.

Tradisi itu memperlihatkan satu hal sederhana: menangkap ikan dalam Marrimpa Salo bukan pekerjaan yang dilakukan seorang diri.

Ada pembagian peran, persiapan bersama, dan keputusan yang dibicarakan sebelum kegiatan berlangsung. Penelitian mengenai pelaksanaan pesta adat tersebut mencatat bahwa tokoh masyarakat, tokoh agama, dan masyarakat terlibat dalam persiapan serta pembagian tugas.

Dari Hasil Panen hingga Ikan di Sungai

Marrimpa Salo tidak hanya berkaitan dengan ikan.

Dalam kajian tentang tradisi tersebut, pesta adat ini juga dikaitkan dengan rasa syukur atas keberhasilan lao ruma, yakni panen padi dan jagung, serta ma’paenre bale, hasil tangkapan ikan masyarakat nelayan. Karena itu, sungai dan lahan pertanian sama-sama hadir dalam cara masyarakat memaknai pesta adat tersebut.

Makna ini penting karena menjelaskan mengapa Marrimpa Salo tidak tepat jika hanya disebut sebagai tradisi menangkap ikan.

Ikan memang menjadi bagian paling terlihat dari prosesi. Namun, di belakangnya ada gagasan tentang rezeki yang diterima masyarakat dan rasa syukur yang kemudian diwujudkan dalam kegiatan bersama.

Penelitian lain mengenai Marrimpa Salo di Desa Bua juga menunjukkan bahwa tradisi tersebut mengalami proses pengelolaan dan penyesuaian dalam masyarakat Muslim. Pelaksanaannya diawali dengan doa bersama dan melibatkan kerja kolektif warga.

Dengan kata lain, tradisi ini tidak berhenti pada apa yang terjadi di atas perahu.

Ia juga hidup melalui hubungan sosial orang-orang yang menyiapkannya.

Sungai yang Mempertemukan Dua Desa

Ada bagian lain yang membuat Marrimpa Salo menarik.

Sungai dalam tradisi ini bukan batas yang membuat masyarakat terpisah. Justru sebaliknya, sungai menjadi ruang perjumpaan.

Desa Sanjai dan Desa Bua berada di wilayah berbeda, tetapi masyarakat keduanya terhubung melalui tradisi yang sama. Pelaksanaannya dilakukan bergantian sehingga kedua desa memiliki peran dalam menjaga keberlangsungannya.

Dalam penelitian sosiologis mengenai Marrimpa Salo, fungsi sosial tradisi ini terlihat dalam hubungan antarmasyarakat, gotong royong, dan silaturahmi. Persiapan pesta tidak hanya menjadi urusan penyelenggara, tetapi melibatkan berbagai kelompok masyarakat.

Karena itu, Marrimpa Salo dapat dibaca sebagai bentuk pengetahuan sosial yang diwariskan bersama.

Bukan hanya cara menghalau ikan, tetapi juga cara masyarakat mengatur pekerjaan, berbagi peran, dan menjaga hubungan antarkelompok.

Tradisi Lama yang Masuk ke Kalender Budaya

Marrimpa Salo kini tidak hanya dipertahankan sebagai pesta adat masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Sinjai mengembangkannya sebagai Festival Budaya Pesisir Marrimpa Salo. Pada 2025, pemerintah daerah menyebutnya masuk dalam Calendar of Event Provinsi Sulawesi Selatan dan terverifikasi dalam Kharisma Event Nusantara (KEN).

Dalam pelaksanaannya, rangkaian festival juga berkembang dengan berbagai kegiatan pendukung seperti lomba perahu hias, balap perahu, kuliner dan buah lokal, layang-layang, serta lomba video konten budaya. Namun, inti pesta adatnya tetap berada pada prosesi menghalau ikan di sungai.

Perubahan bentuk seperti ini menunjukkan bahwa tradisi tidak selalu bertahan dengan cara yang persis sama.

Marrimpa Salo tetap mempertahankan inti prosesi, sementara kemasannya dapat menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan pariwisata budaya.

Sudah Menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Secara nasional, Marrimpa Salo telah mendapat pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Basis data Warisan Budaya Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mencatat Marrimpa Salo Sinjai sebagai karya budaya asal Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, dengan domain adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan. Penetapannya tercantum dalam SK Nomor 264/M/2018.

Pengakuan tersebut membuat Marrimpa Salo memiliki tempat dalam peta kebudayaan Indonesia.

Namun, status sebagai warisan budaya bukan berarti tradisi berhenti pada sebuah sertifikat atau daftar.

Keberadaannya tetap bergantung pada masyarakat yang menjalankannya.

Sebab, kekuatan Marrimpa Salo bukan hanya terletak pada ikan yang digiring dari hulu ke muara. Ada perahu yang bergerak bersama, warga yang berbagi pekerjaan, dua desa yang bergantian menjadi pelaksana, dan sebuah sungai yang terus menjadi ruang perjumpaan.

Di tengah perubahan zaman, tradisi seperti Marrimpa Salo mengingatkan bahwa sebuah sungai tidak selalu hanya dilihat sebagai bentang alam.

Bagi masyarakat di sekitarnya, sungai juga bisa menjadi tempat untuk bersyukur, berkumpul, berbagi hasil, dan menjaga hubungan yang diwariskan dari generasi ke generasi.(*)