Sinjai, Katasulsel.com– Dari kejauhan, kebun cengkeh mungkin tampak seperti deretan pohon hijau. Di Sinjai, pohon-pohon itu tumbuh di banyak kebun yang dikelola masyarakat dan menjadi bagian dari aktivitas perkebunan daerah.
Data Sensus Pertanian 2023 mencatat 25.314 usaha pertanian perorangan di Sinjai mengusahakan cengkeh. Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi di antara komoditas yang masuk dalam daftar sepuluh tanaman pertanian paling banyak diusahakan di daerah itu.
Cengkeh juga tersebar di sejumlah kecamatan.
Pada 2023, produksi cengkeh Sinjai tercatat 5.241 ton. Produksi tersebut berasal antara lain dari Sinjai Barat, Sinjai Borong, Sinjai Selatan, Tellulimpoe, Sinjai Timur, Sinjai Tengah, dan Bulupoddo.
Tellulimpoe menjadi salah satu wilayah dengan produksi terbesar, mencapai 1.399 ton pada 2023. Sinjai Selatan menghasilkan 1.141 ton, sedangkan Sinjai Tengah mencapai 933 ton.
Angka tersebut menunjukkan bahwa cengkeh tidak bertumpu pada satu kawasan saja. Tanaman ini tersebar dalam kebun-kebun yang dikelola masyarakat di sejumlah wilayah Sinjai.
Pekerjaannya juga tidak selesai ketika pohon mulai menghasilkan.
Cengkeh merupakan tanaman yang membutuhkan waktu sebelum dapat dipanen. Karena itu, kebun yang hari ini belum menghasilkan tetap membutuhkan perawatan dan menjadi bagian dari siklus perkebunan jangka panjang.
Pemerintah Kabupaten Sinjai juga masih mendorong pengembangan tanaman tersebut.
Pada November 2024, pemerintah daerah menyerahkan 66.500 bibit cengkeh kepada 45 kelompok tani yang tersebar di enam kecamatan. Bantuan itu menjadi bagian dari upaya pengembangan perkebunan cengkeh di Sinjai.
Artinya, cengkeh yang ada di kebun-kebun lama bukan satu-satunya cerita.
Ada pula bibit baru yang ditanam.
Ada petani yang merawat pohon yang sudah menghasilkan. Ada yang menunggu tanaman muda tumbuh. Ada kebun yang memasuki masa panen, sementara kebun lain masih berada dalam tahap pemeliharaan.
Dari kebun, hasil cengkeh kemudian masuk ke rantai perdagangan.
Namun, produksinya tidak selalu berada pada angka yang sama. Data BPS mencatat produksi cengkeh Sinjai mencapai 5.626 ton pada 2022, kemudian turun menjadi 5.241 ton pada 2023.
Perubahan produksi menjadi bagian dari dinamika perkebunan yang harus dihadapi petani dari waktu ke waktu.
Sementara itu, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penopang utama perekonomian Sinjai. Pada 2025, sektor tersebut menyumbang 46,49 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Sinjai.
Di dalam bentang ekonomi pertanian itu, cengkeh menempati ruangnya sendiri.
Pohon-pohon tumbuh di kebun rakyat. Hasilnya dipanen ketika waktunya tiba. Setelah itu, cengkeh bergerak dari tangan petani menuju rantai perdagangan yang lebih panjang.
Siklusnya kemudian kembali ke kebun.
Bibit ditanam. Pohon dirawat. Bunga ditunggu. Panen datang pada waktunya.
Satu kebun selesai dipanen. Di kebun lain, pohon-pohon cengkeh masih menunggu musimnya.(*)
