Sambas, Katasulsel.com — Tidak ada yang berbeda dari pagi itu.

Wardi (36) berangkat seperti biasa.

Membawa alat pancing. Menyusuri sungai. Berharap pulang dengan hasil yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Namun siapa sangka, satu tarikan dari dasar sungai mengubah harinya menjadi cerita yang kini diperbincangkan banyak orang.

Nelayan asal Desa Segarau, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas itu mendadak menjadi sorotan setelah berhasil menangkap seekor ikan tirus yang kemudian terjual dengan nilai fantastis, mencapai Rp140 juta.

Bagi sebagian orang, angka itu mungkin setara hasil kerja bertahun-tahun.

Bagi Wardi, semuanya datang dari seekor ikan.

Kabar tersebut cepat menyebar dari mulut ke mulut. Banyak yang penasaran, apa istimewanya ikan yang bentuknya sekilas tampak biasa itu hingga dihargai setinggi rumah mewah di sebagian daerah.

Ternyata yang dicari bukan dagingnya.

Nilai mahal ikan tirus justru berada pada organ di dalam tubuhnya yang dikenal sebagai gelembung renang atau swim bladder.

Di kalangan perdagangan tertentu, bagian tersebut memiliki harga yang sangat tinggi dan bisa mencapai ratusan juta rupiah per kilogram, tergantung ukuran, kualitas, dan kondisi pasar.

Karena nilainya yang luar biasa, para nelayan di sejumlah daerah pesisir kerap menganggap ikan ini sebagai “harta karun” yang hidup di dalam air.

Namun keberuntungan seperti yang dialami Wardi bukan sesuatu yang mudah didapat.

Banyak nelayan yang bertahun-tahun melaut atau memancing tanpa pernah sekalipun menemukan ikan dengan nilai ekonomi sebesar itu.

Karena itulah, ketika kabar penjualan ikan tirus milik Wardi mencapai Rp140 juta beredar, banyak warga menganggapnya sebagai rezeki yang datang sekali seumur hidup.

Di berbagai daerah, ikan tirus dikenal dengan sejumlah nama, seperti ikan gulama atau ikan pirusan.

Habitatnya tersebar di wilayah perairan tropis dan dapat ditemukan di sejumlah kawasan pesisir yang terhubung dengan laut.

Meski demikian, tidak setiap ikan yang tertangkap memiliki nilai fantastis.

Harga biasanya ditentukan oleh kualitas gelembung renang yang terkandung di dalam tubuh ikan tersebut.

Bagi Wardi, kisah ini menjadi bukti bahwa nasib kadang datang tanpa pemberitahuan.

Pagi itu ia hanya berangkat sebagai nelayan biasa.

Sore harinya, ia pulang membawa rezeki yang nilainya membuat banyak orang terdiam.

Sebab di sungai yang sama, ribuan kail pernah dilempar.

Tetapi hanya satu yang membawa pulang Rp140 juta.(*)