Sinjai, Katasulsel.com – Hutan Mangrove Tongke-Tongke di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, tidak tumbuh hanya untuk menjadi kawasan wisata. Hutan bakau ini bermula dari kebutuhan masyarakat pesisir menghadapi abrasi dan gelombang laut yang mengancam kawasan tempat mereka tinggal.

Kini, kawasan tersebut berkembang menjadi salah satu tujuan ekowisata di Sinjai. Pengunjung dapat menyusuri hutan mangrove melalui jembatan yang membentang di atas perairan.

Di balik jalur wisata itu terdapat sejarah panjang keterlibatan masyarakat dalam menanam dan merawat mangrove.

Mangrove Tongke-Tongke Berawal dari Ancaman Abrasi

Kawasan pesisir Tongke-Tongke pernah menghadapi persoalan abrasi yang cukup serius.

Penelitian Universitas Hasanuddin mencatat bahwa pada 1984, gelombang laut mengikis kawasan pesisir Tongke-Tongke. Masyarakat sempat membangun tanggul dari batu karang yang diambil dari pulau di sekitar wilayah tersebut.

Tanggul itu dikerjakan selama sekitar satu tahun. Namun, gelombang laut menghancurkannya hanya dalam waktu sekitar satu bulan.

Kondisi tersebut kemudian mendorong masyarakat mencari cara lain untuk melindungi pesisir. Warga mulai menanam mangrove setelah melihat keberhasilan penanaman bakau di wilayah sekitar yang juga digunakan untuk melindungi tambak.

Dari upaya tersebut, kawasan mangrove Tongke-Tongke berkembang secara bertahap.

Hutan Mangrove Tongke-Tongke Dibangun Masyarakat

Yang membuat Tongke-Tongke menarik bukan hanya hamparan hijaunya.

Hutan mangrove di kawasan ini merupakan hasil penanaman yang dilakukan masyarakat secara bertahap. Upaya tersebut pada awalnya bukan dirancang sebagai proyek wisata, melainkan sebagai bentuk perlindungan terhadap wilayah pesisir.

Penelitian Universitas Hasanuddin mengenai partisipasi masyarakat menyebut hutan mangrove Tongke-Tongke sebagai kawasan yang dibangun masyarakat secara swadaya dengan tujuan awal melindungi wilayah pesisir dari abrasi.

Keterlibatan warga kemudian berkembang dalam bentuk pemeliharaan dan pelestarian.

Penelitian lain dari Universitas Hasanuddin pada 2024 menunjukkan bahwa masyarakat pesisir Tongke-Tongke memiliki bentuk partisipasi dalam pelestarian mangrove, baik melalui gagasan, tenaga, maupun dukungan material.

Dari Hutan Pelindung Menjadi Ekowisata

Perubahan fungsi kawasan mulai terlihat ketika hutan mangrove yang telah tumbuh lebat memiliki nilai lain bagi masyarakat.

Kawasan tersebut dikembangkan sebagai ekowisata. Jembatan kayu dibangun di antara vegetasi mangrove sehingga pengunjung dapat masuk lebih jauh ke dalam kawasan tanpa harus berjalan langsung di atas substrat mangrove.

Penelitian Universitas Hasanuddin tentang strategi pengembangan ekowisata Tongke-Tongke menempatkan masyarakat sebagai salah satu unsur penting dalam pengembangan kawasan wisata tersebut. Kajian itu juga melihat persepsi masyarakat dan wisatawan sebagai bagian dari penyusunan strategi ekowisata berbasis masyarakat.

Kawasan ini kemudian dikenal sebagai salah satu destinasi ekowisata mangrove di Kabupaten Sinjai.

ANTARA mencatat kawasan mangrove Tongke-Tongke memiliki luas sekitar 173,5 hektare dan menjadi salah satu destinasi ekowisata yang ramai dikunjungi wisatawan.

Bukan Sekadar Tempat Berjalan di Atas Jembatan

Jembatan kayu menjadi bagian paling mudah dikenali dari kawasan wisata Mangrove Tongke-Tongke.

Jalur tersebut membawa pengunjung melewati vegetasi mangrove yang tumbuh rapat. Beberapa bagian kawasan juga dilengkapi ruang terbuka dan fasilitas untuk menikmati pemandangan perairan.

Namun, fungsi utama hutan mangrove tetap berada pada ekosistemnya.

Mangrove menjadi habitat berbagai organisme pesisir. Penelitian Universitas Hasanuddin menemukan bahwa Rhizophora mucronata menjadi jenis yang dominan di beberapa stasiun pengamatan di kawasan Mangrove Tongke-Tongke. Penelitian tersebut juga menemukan Avicennia marina pada salah satu lokasi pengamatan.

Akar mangrove yang tumbuh di kawasan pasang surut juga menjadi tempat berbagai organisme kecil hidup dan mencari makan.

Kondisi tersebut membuat hutan mangrove berfungsi sebagai bagian dari rantai kehidupan pesisir, bukan hanya sebagai latar pemandangan bagi wisatawan.

Mangrove Berkaitan dengan Kehidupan Nelayan

Hubungan masyarakat Tongke-Tongke dengan mangrove juga berkaitan dengan mata pencaharian.

Kajian Universitas Hasanuddin mengenai kondisi sosial ekonomi kawasan menyebut masyarakat di sekitar Tongke-Tongke banyak bergantung pada sektor perikanan, baik perikanan tangkap maupun budidaya.

Ekosistem mangrove menyediakan ruang bagi berbagai sumber daya pesisir, termasuk ikan, udang, dan kepiting bakau yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

Karena itu, keberadaan mangrove memiliki hubungan langsung dengan kehidupan masyarakat pesisir.

Hutan yang tumbuh di antara daratan dan laut menjadi ruang ekologis sekaligus ruang ekonomi.

Ancaman Tidak Hilang Setelah Mangrove Tumbuh

Keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak berarti kawasan tersebut terbebas dari persoalan.

Penelitian Universitas Hasanuddin menemukan bahwa pengelolaan kawasan Mangrove Tongke-Tongke tetap menghadapi sejumlah tantangan. Persoalan tersebut antara lain sampah, abrasi, hama tanaman, pengawasan, serta aktivitas manusia di sekitar kawasan.

Penelitian tentang kondisi ekosistem mangrove pascapandemi juga mencatat adanya tekanan dari aktivitas permukiman, pertambakan, dan pariwisata.

Karena itu, pengembangan wisata harus berjalan bersama dengan pemeliharaan ekosistem.

Pada Oktober 2024, Pemerintah Kabupaten Sinjai juga melakukan penanaman mangrove di kawasan Hutan Bakau Takalala yang menjadi bagian dari rangkaian Festival Tongke-Tongke. Pemerintah daerah menyebut penanaman tersebut sebagai salah satu upaya menjaga ekosistem mangrove sekaligus merespons abrasi yang masih terjadi di kawasan pesisir.

Tongke-Tongke dan Penghargaan Lingkungan

Upaya masyarakat Sinjai dalam menjaga mangrove juga mendapat pengakuan.

Pemerintah Kabupaten Sinjai menyebut daerah tersebut pernah menerima penghargaan Kalpataru dalam kategori pelestarian lingkungan melalui program mangrove. Pada 2025, pemerintah daerah kembali menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan kawasan mangrove Tongke-Tongke yang telah menjadi salah satu ikon wisata Sinjai.

Kawasan ini juga tetap berkaitan dengan aktivitas masyarakat pesisir.

Pada 2026, penyuluh perikanan Kabupaten Sinjai melaporkan pendampingan masyarakat di Kampung Nelayan Merah Putih yang berada di Desa Tongke-Tongke. Program tersebut berkaitan dengan kegiatan masyarakat pesisir dan pengembangan sektor perikanan.

Dari pesisir yang pernah terancam abrasi, masyarakat Tongke-Tongke kemudian membangun hutan mangrove secara bertahap. Hutan itu tumbuh menjadi kawasan konservasi, ruang hidup berbagai organisme pesisir, sumber daya bagi masyarakat, sekaligus kawasan ekowisata yang dikenal hingga di luar Sinjai.