Takalar, Katasulsel.com – Nama Karaeng Galesong tidak hanya melekat pada sebuah wilayah di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Tokoh dari lingkungan bangsawan Gowa ini membawa sejarah Galesong hingga ke Jawa ketika perlawanan terhadap VOC berlangsung di berbagai wilayah Nusantara.
Karaeng Galesong dikenal sebagai salah satu tokoh yang terlibat dalam perlawanan setelah kekalahan Gowa dalam Perang Makassar. Ia kemudian bergabung dengan perlawanan Trunajaya terhadap Mataram di Jawa.
Perjalanan tersebut membuat nama Karaeng Galesong tercatat dalam sejarah Sulawesi Selatan sekaligus sejarah politik Jawa pada abad ke-17.
Dari Galesong ke Medan Perlawanan
Karaeng Galesong merupakan bangsawan Gowa yang memiliki hubungan dengan Sultan Hasanuddin.
Sejumlah kajian sejarah mengidentifikasinya sebagai I Maninrori Kare Tojeng, sementara gelar Karaeng Galesong merujuk pada kedudukannya sebagai bangsawan atau penguasa di wilayah Galesong. Kajian UIN Alauddin menyebut Galesong memiliki posisi strategis sebagai wilayah pesisir dan pernah menjadi pusat armada laut Kerajaan Gowa ketika menghadapi VOC.
Setelah Perjanjian Bungaya mengakhiri Perang Makassar pada 1667, tidak semua pejuang Gowa menerima keadaan tersebut.
Karaeng Galesong termasuk tokoh yang melanjutkan perlawanan.
Ia kemudian meninggalkan Sulawesi Selatan bersama pengikutnya dan bergerak ke berbagai wilayah Nusantara.
Perlawanan Tidak Berhenti di Sulawesi
Kisah Karaeng Galesong menjadi menarik karena medan perjuangannya kemudian berpindah jauh dari tanah kelahirannya.
Pada pertengahan 1670-an, ia berada di Jawa dan bergabung dengan Trunajaya, tokoh Madura yang melakukan pemberontakan terhadap Mataram pada masa Amangkurat I.
Pasukan Makassar yang dipimpin Karaeng Galesong menjadi salah satu kekuatan dalam gerakan tersebut.
Catatan sejarah menyebut pasukan Trunajaya dan Karaeng Galesong berhasil menguasai sejumlah wilayah di Jawa Timur. Keterlibatan itu membuat Karaeng Galesong tidak hanya menjadi bagian dari sejarah Gowa, tetapi juga masuk dalam dinamika politik Jawa pada abad ke-17.
Nama Karaeng Galesong Muncul dalam Arsip VOC
Menariknya, keberadaan Karaeng Galesong tidak hanya diketahui melalui cerita lokal atau tradisi lisan.
Namanya muncul dalam arsip administrasi VOC yang kini dihimpun dalam Sejarah Nusantara, proyek digital Arsip Nasional Republik Indonesia.
Salah satu catatan bertanggal 22 November 1678 menyebut Karaeng Galesong berkaitan dengan peristiwa penarikan pasukan dari serangan terhadap Kediri. Catatan lain pada Juli 1678 menyebut Karaeng Galesong berada di Kakaper dan berhubungan dengan VOC terkait kondisi ayahnya serta dukungan yang mungkin diperoleh.
Dokumen-dokumen tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas Karaeng Galesong pada masa itu memang masuk dalam perhatian administrasi kolonial.
Namanya bukan sekadar tokoh yang muncul dalam cerita turun-temurun.
Ia tercatat dalam dokumen sejarah yang dibuat pada masa peristiwa tersebut berlangsung.
Mengapa Galesong Begitu Penting?
Untuk memahami sosok Karaeng Galesong, posisi Galesong sendiri perlu dilihat.
Galesong merupakan wilayah pesisir di bagian selatan Selat Makassar. Letaknya membuat kawasan tersebut memiliki hubungan erat dengan aktivitas maritim.
Kajian mengenai sejarah Galesong menyebut kawasan ini memiliki hubungan dengan Kerajaan Gowa dan berkembang sebagai komunitas maritim. Pada masa tertentu, wilayah Galesong juga mencakup sejumlah pulau di sekitarnya.
Posisi tersebut membuat kemampuan pelayaran dan jaringan laut menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Galesong.
Karena itu, ketika terjadi konflik antara Gowa dan VOC, wilayah pesisir seperti Galesong memiliki nilai strategis.
Dari Perlawanan Makassar ke Perlawanan Trunajaya
Keterlibatan Karaeng Galesong dalam perlawanan Trunajaya juga menunjukkan bahwa politik Nusantara pada abad ke-17 tidak berlangsung dalam batas kerajaan yang kaku.
Pejuang dari Sulawesi Selatan dapat bergerak ke Jawa dan bergabung dengan kekuatan lokal yang memiliki kepentingan berbeda tetapi sama-sama berhadapan dengan Mataram dan VOC.
Aliansi tersebut memperlihatkan adanya jaringan politik dan militer antardaerah.
Bagi Karaeng Galesong dan pengikutnya, Jawa menjadi medan baru setelah perubahan politik di Sulawesi Selatan.
Perjalanan Berakhir di Jawa
Perlawanan tersebut akhirnya mengalami kemunduran.
Pasukan Mataram dan VOC berhasil merebut kembali sejumlah wilayah yang sebelumnya dikuasai pasukan Trunajaya dan Karaeng Galesong.
Karaeng Galesong kemudian meninggal pada 1679. Sumber-sumber sejarah berbeda mengenai penyebab kematiannya, tetapi ia diketahui telah menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya dalam rangkaian konflik di Jawa.
Jejaknya kemudian tetap ditemukan di Jawa.
Makam yang dikaitkan dengan Karaeng Galesong berada di wilayah Ngantang, Kabupaten Malang. Sejumlah kajian dan pemberitaan mengenai situs tersebut mencatat keterlibatannya dalam perlawanan terhadap VOC di kawasan Jawa Timur.
Namanya Tetap Hidup di Galesong
Di wilayah asalnya, nama Karaeng Galesong tetap menjadi bagian dari ingatan sejarah masyarakat.
Galesong sendiri masih menyimpan sejumlah peninggalan dan tradisi yang berkaitan dengan sejarah kerajaan. Salah satunya adalah Balla Lompoa Galesong, rumah panggung yang menjadi salah satu jejak sejarah komunitas Galesong. Kajian Universitas Negeri Makassar menyebut bangunan tersebut sebagai salah satu peninggalan yang masih dapat ditelusuri di wilayah Galesong.
Tradisi dan struktur sosial Galesong juga masih menjadi objek kajian akademik. Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan mencatat bahwa pranata kepemimpinan tradisional Karaeng Galesong memiliki posisi penting dalam kebudayaan masyarakat Galesong.
Dengan demikian, Karaeng Galesong bukan hanya nama seorang tokoh perang.
Namanya melekat pada identitas sebuah komunitas yang memiliki sejarah panjang sebagai masyarakat pesisir dan maritim.
Dari Takalar hingga Jawa
Jejak Karaeng Galesong memperlihatkan betapa luasnya hubungan antardaerah dalam sejarah Nusantara.
Ia berangkat dari lingkungan politik Gowa dan Galesong, menghadapi perubahan besar setelah Perang Makassar, kemudian membawa pasukannya ke berbagai wilayah hingga Jawa.
Namanya muncul dalam arsip VOC, kisah perlawanan Trunajaya, dan jejak sejarah di Malang.
Sementara di Galesong, namanya tetap hidup sebagai bagian dari sejarah dan ingatan masyarakat.
Seorang tokoh yang berasal dari pesisir Sulawesi Selatan itu akhirnya meninggalkan jejak jauh di luar tanah kelahirannya.
(*)
