Takalar, Katasulsel.com — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Cikoang, Kabupaten Takalar, memiliki bentuk yang berbeda dari perayaan Maulid pada umumnya.
Masyarakat tidak hanya berkumpul untuk membaca selawat dan memperingati kelahiran Nabi.
Ada pula julung-julung, perahu kecil yang dihias dan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan Maudu Lompoa.
Berbagai makanan dan perlengkapan tradisional disusun dalam rangkaian perayaan tersebut. Masyarakat kemudian berkumpul dalam sebuah kegiatan adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Tradisi itu dikenal sebagai Maudu Lompoa Cikoang.
Maudu Lompoa ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui SK Nomor 244/P/2016 dengan domain Adat Istiadat Masyarakat, Ritus, dan Perayaan-Perayaan.
Maulid yang Menjadi Identitas Kampung
Maudu Lompoa berlangsung di Cikoang, Kecamatan Mangara Bombang, Kabupaten Takalar.
Bagi masyarakat setempat, peringatan Maulid bukan hanya agenda keagamaan tahunan.
Tradisi tersebut berkembang menjadi bagian dari identitas sosial masyarakat Cikoang.
Penelitian mengenai Maudu Lompoa mencatat bahwa pelaksanaannya melibatkan masyarakat dalam menyiapkan berbagai kebutuhan upacara. Bahan yang digunakan juga berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat yang bertani, beternak, dan menjadi nelayan.
Karena itu, apa yang muncul dalam perayaan tidak berdiri sendiri.
Makanan, hasil pertanian, hasil ternak, serta perlengkapan upacara berkaitan dengan kehidupan masyarakat yang menjalankannya.
Maudu Lompoa menjadi semacam titik temu antara kehidupan sehari-hari dan tradisi keagamaan.
Ada Julung-Julung di Tengah Perayaan
Salah satu unsur yang membuat Maudu Lompoa mudah dikenali adalah keberadaan julung-julung.
Perahu tersebut dihias dan digunakan sebagai bagian dari perlengkapan perayaan.
Keberadaan perahu tidak dapat dilepaskan dari karakter Cikoang sebagai kawasan yang memiliki hubungan kuat dengan kehidupan pesisir.
Dalam pelaksanaan Maudu Lompoa, julung-julung kemudian tidak sekadar menjadi benda yang digunakan masyarakat.
Ia menjadi bagian dari simbol dan bentuk visual sebuah perayaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dari sinilah Maudu Lompoa memiliki tampilan yang berbeda dibandingkan peringatan Maulid yang hanya berlangsung di dalam masjid atau rumah.
Ruang perayaannya dapat meluas ke lingkungan kampung dan kawasan sungai Cikoang.
Ada Sejarah Panjang di Baliknya
Maudu Lompoa juga memiliki hubungan erat dengan sejarah komunitas Cikoang.
Sejumlah penelitian mengaitkan perkembangan tradisi tersebut dengan Sayyid Jalaluddin al-Aidid, tokoh yang memiliki hubungan dengan komunitas Islam Sayyid di Cikoang.
Kajian Balai Arkeologi mencatat Sayyid Jalaluddin al-Aidid datang ke kawasan tersebut pada akhir abad ke-16. Komunitas keturunannya kemudian tetap dapat ditemukan di wilayah Kecamatan Mangara Bombang, Kabupaten Takalar.
Riwayat tersebut menjadi salah satu bagian dari narasi sejarah yang berkembang di tengah masyarakat Cikoang.
Karena itu, Maudu Lompoa tidak hanya berbicara tentang satu hari perayaan.
Di dalamnya terdapat ingatan tentang perkembangan komunitas, ajaran keagamaan, hubungan kekerabatan, dan sejarah kampung.
Tiga Pekan untuk Sebuah Perayaan
Persiapan Maudu Lompoa juga tidak berlangsung secara singkat.
Penelitian tentang tradisi tersebut mencatat bahwa rangkaian persiapan dan pelaksanaan melibatkan masyarakat dalam waktu yang cukup panjang.
Pada perkembangannya, kegiatan Maudu Lompoa pernah mengalami perpindahan lokasi. Penelitian mencatat bahwa setelah jumlah pengikut bertambah, pelaksanaan pernah dipindahkan ke kawasan sungai dengan menggunakan perahu, kemudian kembali ke muara Sungai Cikoang pada 1991.
Perubahan lokasi tersebut memperlihatkan bahwa tradisi tidak selalu berjalan dalam bentuk yang benar-benar tetap.
Ia dapat menyesuaikan diri dengan kondisi masyarakat.
Namun, unsur kebersamaan tetap menjadi bagian penting di dalamnya.
Ketika Makanan Menjadi Simbol Kebersamaan
Salah satu kekuatan Maudu Lompoa terletak pada keterlibatan masyarakat dalam menyiapkan berbagai kebutuhan perayaan.
Penelitian mencatat adanya aturan dalam penggunaan bahan untuk perlengkapan upacara. Bahan yang digunakan dianjurkan berasal dari lingkungan sekitar dan diusahakan sendiri oleh masyarakat.
Hal ini membuat persiapan Maudu Lompoa tidak sekadar persoalan menyediakan makanan dalam jumlah banyak.
Ada proses kerja bersama di belakangnya.
Masyarakat menyiapkan bahan.
Keluarga terlibat dalam persiapan.
Perlengkapan dibuat dan dirawat.
Kemudian semuanya dipertemukan dalam satu perayaan.
Karena itu, Maudu Lompoa juga dapat dibaca sebagai ruang untuk mempertahankan solidaritas sosial.
Kajian mengenai Maudu Lompoa bahkan secara khusus melihat tradisi tersebut dari perspektif solidaritas sosial dan geografi budaya.
Bukan Sekadar Ramai Saat Maulid
Setiap daerah memiliki cara sendiri dalam merayakan Maulid Nabi.
Ada yang menonjolkan pembacaan selawat.
Ada yang menghidangkan makanan bersama.
Ada pula yang mengembangkan perayaan menjadi tradisi budaya masyarakat.
Cikoang memiliki jalannya sendiri.
Maudu Lompoa mempertemukan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan sejarah komunitas, kehidupan pesisir, makanan, perahu hias, serta kerja bersama masyarakat.
Tradisi itu kemudian diwariskan bukan hanya melalui cerita, tetapi juga melalui keterlibatan langsung dalam persiapannya.
Anak-anak melihatnya.
Orang tua menjalankannya.
Generasi berikutnya kembali mengenalnya.
Begitulah sebuah perayaan keagamaan dapat tumbuh menjadi identitas budaya sebuah kampung.
Dari Cikoang, Tradisi Itu Terus Diingat
Maudu Lompoa telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2016.
Penetapan tersebut menjadi salah satu bentuk pengakuan bahwa tradisi yang hidup di Cikoang memiliki nilai budaya yang penting.
Namun, warisan budaya pada akhirnya tidak hanya bergantung pada sertifikat atau penetapan.
Ia bergantung pada masyarakat yang masih mau menjalankannya.
Di Cikoang, Maudu Lompoa tetap menjadi ruang pertemuan antara agama, sejarah, dan kehidupan sosial.
Perahu hias dan makanan yang disusun dalam perayaan hanyalah bagian yang terlihat.
Di baliknya terdapat kerja banyak orang, ingatan tentang leluhur, hubungan antarkeluarga, serta cara sebuah komunitas mempertahankan identitasnya.
Maudu Lompoa karena itu bukan sekadar cara masyarakat Cikoang memperingati Maulid Nabi. Ia adalah cara sebuah kampung menjaga ingatan dan kebersamaan melalui tradisi yang terus diwariskan.(*)
