Takalar, Katasulsel.com — Biasanya sebuah program pembangunan identik dengan beton.

Dengan jalan.

Dengan bangunan.

Dengan proyek yang bisa dilihat mata.

Namun ada proyek lain yang jauh lebih sulit.

Mengubah perilaku manusia.

Itulah pekerjaan yang sedang dipersiapkan sekelompok mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin di Kabupaten Takalar.

Mereka tidak datang membawa alat berat.

Tidak membawa desain gedung.

Tidak pula menawarkan proyek miliaran rupiah.

Yang mereka bawa adalah gagasan.

Sebuah konsep bernama OCEANS.

Dan sebelum program itu menyentuh masyarakat, mereka terlebih dahulu mengetuk pintu pemerintah.

Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Himpunan Mahasiswa Kesehatan Masyarakat (HIMAKAHA) Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin melakukan audiensi dengan Camat Galesong Selatan, Nurhidayat Abdullah, S.TP., M.Si.

Pertemuan yang berlangsung di Kantor Kecamatan Galesong Selatan itu bukan sekadar kunjungan formal.

Itu adalah langkah awal membangun kerja sama.

Sebab mahasiswa sadar, perubahan tidak bisa dikerjakan sendirian.

Apalagi jika targetnya adalah stunting.

Masalah yang selama bertahun-tahun menjadi pekerjaan rumah bangsa ini.

Melalui Program OCEANS (One Health Coastal Environment and Nutrition Sustainability), mahasiswa HIMAKAHA FK Unhas ingin menghadirkan pendekatan yang lebih menyeluruh dalam mendukung pengendalian faktor risiko stunting di Desa Popo.

Mereka melihat stunting bukan sekadar persoalan makanan.

Bukan sekadar soal tinggi badan anak.

Tetapi persoalan lingkungan, sanitasi, perilaku hidup bersih, akses air bersih, hingga pola pengasuhan keluarga.

Karena itu program yang disiapkan tidak berdiri sendiri.

Ada edukasi gizi seimbang.

Ada peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Ada penguatan akses air bersih.

Ada pula pemberdayaan potensi lokal yang diharapkan mampu mendukung kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.

Camat Galesong Selatan, Nurhidayat Abdullah, menyambut baik kehadiran mahasiswa tersebut.

Ia bahkan secara terbuka menyampaikan dukungan terhadap pelaksanaan program di Desa Popo.

Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam pembangunan masyarakat merupakan energi positif yang dibutuhkan desa.

“Selamat datang di Kecamatan Galesong Selatan. Kami berharap program yang dijalankan benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat dan mampu mendorong perubahan perilaku hidup bersih dan sehat secara berkelanjutan,” ujarnya.

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana.

Tetapi maknanya besar.

Karena keberhasilan sebuah program pengabdian masyarakat sering kali tidak ditentukan oleh seberapa banyak kegiatan yang dilakukan.

Melainkan seberapa lama dampaknya bertahan setelah mahasiswa pulang.

Di situlah tantangan sebenarnya.

Tim PPK Ormawa HIMAKAHA FK Unhas tampaknya memahami hal tersebut.

Mereka tidak hanya datang membawa program.

Mereka juga membangun kemitraan.

Mengajak pemerintah kecamatan, pemerintah desa, dan masyarakat berjalan bersama.

Sebab perubahan perilaku tidak pernah lahir dari satu pihak.

Ia lahir dari kolaborasi.

Dari kesadaran bersama.

Dan dari proses yang dilakukan secara terus-menerus.

Audiensi itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam.

Namun bagi Desa Popo, pertemuan tersebut bisa menjadi awal dari perjalanan yang lebih panjang.

Perjalanan menuju desa yang lebih sehat.

Perjalanan menekan faktor risiko stunting.

Perjalanan membangun generasi yang lebih kuat.

Karena pada akhirnya, pembangunan terbaik bukanlah yang meninggalkan bangunan megah.

Melainkan yang meninggalkan perubahan dalam kehidupan masyarakat.

Dan itulah misi yang sedang dibawa mahasiswa HIMAKAHA FK Unhas ke pesisir Galesong Selatan.