Oleh: Tipue Sultan
Ada lagi kabar yang membuat nama Sidrap kembali disebut.
Tapi. Ini agak kurang enak sih.
Soal sabu.
Begini.
Seorang pria berinisial B, 29 tahun, warga Sidrap, ditangkap polisi di Kabupaten Polewali Mandar, Rabu, 14 Juli kemarin.
Saat tertangkap.
Polisi menemukan sabu seberat 23,4 gram di tangannya. Nilainya sekitar Rp25 juta.
Lumayan.
Kalau dijual eceran, bisa jadi lebih dari itu.
Yang membuat banyak orang mengernyit justru satu kalimat dari polisi.
Pria itu disebutnya residivis.
Artinya pernah tertangkap.
Pernah diproses.
Pernah merasakan dinginnya lantai tahanan.
Tapi kembali lagi ke dunia yang sama.
Seperti pemain bola yang kembali ke klub lamanya. Hanya saja ini klub yang salah.
Lalu, ada yang bertanya, bagaimana ceritanya?
Begini.
Awalnya polisi Polman mendapat informasi dari warga. Ada gerak-gerik mencurigakan di wilayah Pakkadoang, Kecamatan Binuang.
Polisi pun bergerak.
Mereka tidak perlu waktu lama.
Pria itu diamankan.
Sabu pun ditemukan.
Handphone juga ikut disita.
Lalu
Cerita mulai terbuka.
Menurut pengakuannya, barang itu didapat dari seseorang di Sidrap.
Pembayarannya cukup canggih.
Cara transfer.
Tidak perlu bertemu.
Tidak perlu salaman.
Tidak perlu kopi-kopi dulu.
Uang jalan. Barang jalan.
Model bisnis yang sayangnya semakin akrab di dunia narkoba.
Yang menarik, sabu itu dikirim menggunakan mobil penumpang.
Saya membayangkan.
Mungkin penumpang lain duduk tenang sambil main ponsel.
Tidak tahu ada barang haram ikut bepergian bersama mereka.
Polisi kini memburu pemasok yang disebut-sebut berada di Sidrap.
Katanya sudah dikembangkan.
Katanya sudah dicari.
Tapi belum ditemukan.
Biasanya memang begitu.
Kurir tertangkap.
Pengguna tertangkap.
Bandar sering lebih licin.
Lebih pandai bersembunyi.
Lebih cepat mencium bahaya.
Kasus seperti ini sebenarnya bukan cerita baru.
Yang baru hanya nama pelakunya.
Yang berubah hanya lokasi penangkapannya.
Modusnya hampir sama.
Jaringannya juga sering saling terkait.
Karena itu polisi tidak boleh berhenti pada satu orang.
Kalau hanya kurir yang ditangkap, besok lusa akan muncul kurir baru.
Kalau hanya pemain kecil yang masuk penjara, bandar besar akan tetap tersenyum.
Perang melawan narkoba memang tidak sesederhana menangkap satu orang membawa sabu.
Yang lebih penting adalah memutus rantainya.
Sampai ke atas.
Sampai ke pemasok.
Sampai ke pemodal.
Kalau tidak, cerita seperti ini akan terus berulang.
Hari ini di Polman.
Besok mungkin di Sidrap.
Lusa entah di mana lagi.
Dan kita kembali membaca judul yang sama:
Lagi-lagi sabu. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
