Oleh: Tipue Sultan

Ada banyak mahasiswa yang begadang karena tugas.

Ada juga yang begadang karena bermain gim.

Dwi Pratiwi Aprilya Wahid berbeda.

Ia begadang karena dua hal sekaligus.

Tugas kuliah.

Dan adonan kue.

Rabu kemarin, namanya diumumkan sebagai lulusan terbaik Universitas Halu Oleo (UHO).

IPK-nya nyaris sempurna: 3,99.

Kurang 0,01 untuk menyentuh angka yang sering dianggap mitos di kampus.

Mahasiswi Teknik Informatika itu lulus dengan predikat cumlaude.

Masa studinya juga tidak sampai empat tahun penuh.

Hanya 3 tahun 8 bulan.

Hebatnya lagi, gadis kelahiran Sidrap, Sulawesi Selatan itu tidak tumbuh di laboratorium komputer sepanjang hari.

Sore hari, setelah kuliah selesai, hidupnya berubah.

Laptop berganti loyang.

Keyboard berganti adonan.

Ruang kelas berganti dapur.

Ia membantu usaha kue milik orang tuanya.

Rutin.

Hampir setiap hari.

Mulai pukul enam sore.

Kadang sampai pukul sepuluh malam.

Kadang lewat tengah malam.

Setelah itu?

Masih ada tugas kuliah yang menunggu.

Masih ada proyek pemrograman yang harus diselesaikan.

Masih ada presentasi yang harus dipersiapkan.

Saya membayangkan jadwal hidupnya.

Pagi kuliah.

Sore bantu orang tua.

Malam membuat kue.

Larut malam mengerjakan coding.

Lalu pagi bangun lagi.

Begitu terus.

Berkali-kali.

Bertahun-tahun.

Ternyata hidup memang tidak selalu memberi pilihan mudah.

Sebagian mahasiswa cukup fokus belajar.

Sebagian harus belajar sambil membantu keluarga.

Dwi memilih yang kedua.

Dan tetap menang.

Ia mengaku sejak awal sudah memasang target tinggi.

Bukan sekadar lulus.

Bukan sekadar cumlaude.

Melainkan menjadi yang terbaik di setiap semester.

Target yang terdengar sederhana.

Tetapi berat dijalankan.

Karena banyak mahasiswa pandai membuat target.

Sedikit yang konsisten mengejarnya.

Apalagi di Teknik Informatika.

Jurusan yang terkenal tidak cukup hanya menghafal teori.

Harus praktik.

Harus membuat program.

Harus membuat website.

Harus presentasi.

Harus siap kalau coding tiba-tiba error lima menit sebelum dikumpulkan.

Mahasiswa informatika pasti paham penderitaan itu.

Karena itu saya tersenyum ketika membaca tips dari Dwi.

Nasihatnya tidak rumit.

Tidak filosofis.

Tidak memakai istilah motivasi yang berlebihan.

Hanya satu:

Jangan menunggu deadline.

Sederhana.

Tapi justru itu yang paling sulit dilakukan banyak orang.

Termasuk orang dewasa.

Termasuk pejabat.

Termasuk wartawan.

Mungkin juga termasuk Anda yang sedang membaca tulisan ini.

Yang membuat kisah Dwi semakin menarik adalah latar belakangnya.

Ia bukan anak konglomerat teknologi.

Bukan pula anak pemilik perusahaan startup.

Ia anak penjual kue.

Dan tidak malu membantu usaha keluarga.

Bahkan ikut mengantar kue ke toko sekitar Pasar Baru Kendari.

Dari dapur itulah lahir seorang lulusan terbaik universitas.

Kadang kehidupan memang lucu.

Kita sering mengira kesuksesan lahir dari ruang ber-AC.

Padahal banyak yang lahir dari dapur panas.

Dari tangan yang bau mentega.

Dari orang-orang yang bekerja ketika sebagian orang lain sedang tidur.

Kini Dwi sudah wisuda.

Target berikutnya lebih besar.

Ia ingin bekerja terlebih dahulu.

Lalu melanjutkan studi S2 Teknik Informatika di UGM.

Langkah yang masuk akal.

Karena orang yang mampu membagi waktu antara coding dan membuat kue biasanya tahu cara mengatur masa depan.

Dan saya kira, perjalanan gadis asal Sidrap ini baru saja dimulai.

Sebab kadang-kadang, cerita terbaik memang tidak dimulai dari laboratorium.

Melainkan dari dapur kecil yang penuh aroma kue hangat. (*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

πŸ‘‰ Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini