KONAWE UTARA—Ia hampir berhasil menghilang.
Bukan karena berlari lebih cepat.
Melainkan karena sempat membuang barang yang paling memberatkannya.
Namun rencana itu gagal.
Seorang pria berinisial RAS (36) justru lebih dulu terkepung warga di Desa Lambo Bajo, Kecamatan Wawolesea. Warga curiga ketika pria asal Desa Morombo Pantai, Kecamatan Lasolo Kepulauan, itu berusaha memasuki kawasan permukiman dengan gerak-gerik mencurigakan.
Situasi sempat memanas.
Warga memilih tidak mengambil jalan sendiri. Mereka menyerahkan pria tersebut ke Polsek Lasolo agar diperiksa sesuai prosedur hukum.
Di situlah cerita berubah.
Satresnarkoba Polres Konawe Utara yang menerima laporan langsung turun tangan. Dipimpin Kasat Resnarkoba Iptu Hasdinar, tim melakukan pemeriksaan intensif terhadap RAS.
Lama menutup rapat mulutnya, pria itu akhirnya mengaku.
Sebelum dikepung warga, ia sempat membuang sejumlah paket yang diduga sabu di beberapa lokasi.
Polisi pun menyisir titik-titik yang disebutkan.
Temuan pertama hanya sebuah bungkus rokok merek Scorpion.
Sekilas tak ada yang istimewa.
Namun ketika dibuka, di dalamnya tersimpan dua paket kristal yang diduga sabu.
Pencarian belum berhenti.
Beberapa meter dari lokasi itu, petugas kembali menemukan puluhan paket lain yang disembunyikan di belakang sebuah bangunan aula.
Total ada 58 paket diduga sabu dengan berat bruto mencapai 18,02 gram.
Tak hanya itu, polisi juga menyita telepon genggam yang diduga digunakan untuk bertransaksi, alat isap sabu, puluhan plastik kemasan kosong, serta potongan pipet yang biasa dipakai membagi narkotika ke dalam paket-paket kecil.
Bagi penyidik, penemuan itu mengubah dugaan.
Bukan lagi sekadar pengguna.
RAS diduga memiliki peran lebih besar sebagai penguasa sekaligus pengedar narkotika.
Kini ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan sangkaan Pasal 114 ayat (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.
Namun bagi polisi, penangkapan ini belum dianggap akhir.
Justru sebaliknya.
Nama-nama lain diyakini masih berada di balik peredaran barang haram tersebut. Sampel sabu telah dikirim ke Laboratorium Forensik Makassar, sementara penyidik terus mengembangkan kasus untuk memburu pemasok yang berada di atas tersangka.
Kasus ini kembali menunjukkan satu kenyataan.
Sering kali jaringan narkoba tidak runtuh karena operasi besar.
Melainkan berawal dari kecurigaan warga yang memilih melapor, bukan menghakimi.
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Makassar Hari Ini .
