SIDRAP β Selama puluhan tahun, air di banyak sawah Sidrap berjalan tidak semestinya.
Ada yang tersendat karena lumpur. Ada yang bocor di tengah jalan. Ada pula yang tak pernah sampai ke petak sawah paling ujung.
Petani sudah terlalu lama berdamai dengan keadaan itu.
Kini, keadaan tersebut mulai diubah.
Balai Wilayah Sungai (BWS) Saddang bersama Pemerintah Kabupaten Sidrap memulai rehabilitasi jaringan irigasi yang selama sekitar setengah abad nyaris tak pernah disentuh perbaikan besar. Nilai proyek tahap pertama mencapai sekitar Rp15 miliar.
Bukan proyek yang paling megah.
Tetapi bagi petani, inilah proyek yang paling ditunggu.
Saluran sepanjang 12,5 kilometer akan diperbaiki. Jalur air yang melintasi BSI19 hingga BSI23 itu akan kembali menghidupi sekitar 894,5 hektare sawah di Kecamatan Panca Lautang dan Tellu Limpoe.
Jika air kembali lancar, yang ikut mengalir bukan hanya irigasi.
Harapan petani pun ikut bergerak.
Kepala SNVT Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang, Andi Faizal Fahrial, menyebut rehabilitasi itu merupakan bagian dari percepatan menuju swasembada pangan.
Namun ia mengingatkan satu hal.
Pekerjaan pemerintah tidak akan berarti jika saluran kembali dipenuhi sampah dan sedimentasi. Karena itu, petani diminta ikut menjaga jaringan irigasi yang telah dibangun.
Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif menyebut pekerjaan tersebut sebagai jawaban atas keluhan yang diwariskan lintas generasi.
Menurutnya, jaringan irigasi itu terakhir kali mendapat perhatian serius sekitar 50 tahun silam. Sejak itu, saluran terus menua, rusak, bahkan tak lagi mampu mengalirkan air secara merata.
“Hari ini menjadi tonggak sejarah baru. Kita mulai memperbaikinya kembali,” ujarnya.
Pekerjaan ditargetkan berlangsung hingga Desember 2026. Pemerintah daerah juga berharap rehabilitasi tahap berikutnya dapat segera disetujui agar seluruh jaringan induk irigasi bisa dituntaskan.
Yang disiapkan ternyata bukan hanya saluran air.
Pemerintah juga merancang pembangunan Bendung Torere senilai sekitar Rp43 miliar untuk melayani lebih dari seribu hektare sawah, melanjutkan program Optimasi Lahan Non Rawa, hingga membangun irigasi perpompaan di Lajonga dan Elle Salewo.
Semua bermuara pada satu tujuan.
Menjadikan Sidrap tetap pantas menyandang predikat sebagai lumbung pangan Sulawesi Selatan.
Karena di daerah agraris seperti Sidrap, air bukan sekadar mengalir.
Air menentukan musim tanam.
Air menentukan panen.
Dan pada akhirnya, air ikut menentukan isi dapur ribuan keluarga petani.
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
