PINRANG—Di Pinrang, yang ramai bukan konser.

Yang penuh justru gedung olahraga. Isinya pelajar. Datang dari berbagai kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan. Membawa tas ransel, jas almamater, dan segudang gagasan.

Mereka berkumpul dalam Musyawarah Wilayah (Musywil) XXV Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Sulawesi Selatan. Sebuah forum yang, bagi orang luar, mungkin hanya terlihat sebagai agenda organisasi. Padahal, di ruangan itulah arah gerakan ribuan kader muda Muhammadiyah sedang dipertaruhkan.

Musywil dibuka di Indoor GOR Pinrang, Jumat (10/7/2026), setelah sehari sebelumnya para delegasi mengikuti Konferensi Pimpinan Wilayah di Kantor Bupati Pinrang.

Agenda resminya sederhana: mengevaluasi kepengurusan, menyusun program kerja, lalu memilih pemimpin baru.

Tetapi sesungguhnya yang dicari bukan sekadar ketua.

Yang dicari adalah siapa yang mampu menjaga nyala kaderisasi.

Ketua PWM Sulawesi Selatan, Prof. Ambo Asse, mengingatkan satu hal yang menurutnya tidak boleh berubah, meski zaman berubah sangat cepat.

Perkaderan.

Ia menyebutnya sebagai jantung Muhammadiyah. Organisasi sebesar apa pun, katanya, akan kehilangan tenaga jika berhenti mencetak kader.

Pesan itu seperti mengikat seluruh peserta. Bahwa menjadi pengurus bukan soal jabatan. Melainkan kesiapan menerima estafet perjuangan.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan melalui Kepala Biro Pemerintahan Yarman Yasmin ikut memberikan apresiasi. Pemerintah berharap forum tersebut melahirkan generasi yang mampu mengisi ruang-ruang kepemimpinan di masa depan.

Harapan serupa datang dari Pemerintah Kabupaten Pinrang. Muhammadiyah dinilai selama ini menjadi mitra penting pemerintah dalam pendidikan, sosial, hingga pembangunan masyarakat.

Namun tantangan yang dihadapi kader hari ini berbeda.

Ketua Umum PP IPM, Dany Rahmat Muharram, mengingatkan bahwa generasi pelajar hidup di tengah dunia yang dikendalikan algoritma. Organisasi tidak cukup hanya pandai menggelar rapat. Ia harus hadir di ruang digital, mampu memengaruhi cara berpikir generasi muda, tanpa kehilangan nilai-nilai dasar yang diwariskan Muhammadiyah.

Menjelang akhir pembukaan, suasana mendadak lebih emosional.

Ketua PW IPM Sulsel, Zul Jalali Wal Ikram, berdiri untuk terakhir kalinya sebagai ketua wilayah. Ucapan terima kasihnya kepada para senior, kader, dan alumni terdengar lebih seperti salam perpisahan daripada pidato.

Sesudah itu, peserta berfoto bersama.

Lalu memasuki ruang sidang.

Di situlah perdebatan akan dimulai. Program akan diuji. Gagasan akan dipertemukan. Dan kepemimpinan baru akan lahir.

Sebab organisasi besar tidak pernah kekurangan tokoh.

Yang paling sulit adalah memastikan selalu ada generasi berikutnya yang siap melanjutkan. (*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita pinrang Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar pinrang hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita pinrang terbaru di sini