Kepulauan Selayar, Katasulsel.com — Warga membawa aneka makanan dari rumah menuju pantai. Anak-anak dan orang tua berjalan bersama, diiringi tabuhan rebana serta suara puik-puik, alat musik tiup khas Kepulauan Selayar.

Sesampainya di tepi laut, makanan tersebut tidak disantap bersama.

Sajian itu diletakkan di atas rakit yang telah disiapkan, kemudian dihanyutkan ke laut dengan doa dan rangkaian ritual tertentu.

Tradisi tersebut dikenal sebagai Attoana Turiere, yang secara harfiah dimaknai sebagai “menjamu penghuni air”.

Tradisi ini berkembang di Kampung Tulang, Desa Barugaiya, Kecamatan Bontomanai, Kabupaten Kepulauan Selayar. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, laut dan perairan di sekitar kampung diyakini memiliki “penghuni air” yang perlu dihormati.

Namun, Attoana Turiere tidak berhenti pada cerita tentang apa yang dihanyutkan ke laut.

Di dalamnya terdapat cara masyarakat pesisir memaknai alam, membangun kebersamaan, dan menjaga tradisi yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Dari Kampung di Bantaran Sungai

Attoana Turiere merupakan pesta adat yang berkembang di Kampung Tulang, wilayah Desa Barugaiya.

Pemerintah daerah mencatat tradisi tersebut sebagai bagian dari kehidupan masyarakat yang dahulu tinggal di kawasan bantaran sungai. Dalam pelaksanaannya, warga membawa makanan dari salah satu rumah penduduk menuju pantai untuk kemudian dihanyutkan ke laut.

Arak-arakan menjadi salah satu bagian penting dalam prosesi.

Warga dari berbagai usia ikut berjalan menuju lokasi. Rebana dan puik-puik mengiringi perjalanan, sementara seorang pemangku adat memimpin rangkaian kegiatan.

Setelah sampai di pantai, sajian makanan dihanyutkan bersama rakit yang dibuat khusus untuk kegiatan tersebut.

Ada doa dan ritual yang menyertai prosesi.

Siapa “Penghuni Air” Itu?

Istilah “penghuni air” berasal dari kepercayaan masyarakat yang menjalankan tradisi tersebut.

Dalam dokumentasi pemerintah daerah, masyarakat Kampung Tulang meyakini adanya penghuni air yang menjaga laut dan perairan di sekitar kampung. Attoana Turiere kemudian dipandang sebagai bentuk “interaksi” masyarakat dengan penghuni alam tersebut.

Kepercayaan tersebut merupakan bagian dari cerita dan pandangan hidup masyarakat setempat.

Karena itu, keberadaan “penghuni air” dalam tradisi ini perlu dipahami sebagai kepercayaan masyarakat, bukan sebagai fakta yang dapat dibuktikan secara ilmiah.

Dalam pemaknaan yang lebih luas, pemerintah daerah menyebut Attoana Turiere sebagai simbol harmoni antara manusia dan alam, termasuk lingkungan perairan tempat masyarakat menggantungkan kehidupan.

Bukan Sekadar Makanan yang Dihanyutkan

Jika hanya melihat prosesi akhirnya, Attoana Turiere mungkin tampak seperti kegiatan menghanyutkan makanan ke laut.

Namun, rangkaian tradisinya jauh lebih panjang.

Ada masyarakat yang berkumpul.

Ada makanan yang disiapkan.

Ada musik tradisional.

Ada pemangku adat yang memimpin.

Dan ada ruang bagi warga untuk kembali bertemu dalam satu kegiatan bersama.

Dalam pelaksanaan Festival Budaya Attoana Tu Riere pada 2018, Pemerintah Desa Barugaiya menyebut tradisi tersebut sebagai ungkapan rasa syukur atas keindahan alam dan keanekaragaman hayati. Kegiatan itu juga diarahkan untuk membangun kepedulian masyarakat terhadap lingkungan, memperkuat kearifan lokal, dan menjalin silaturahmi.

Artinya, tradisi tersebut memiliki fungsi sosial selain fungsi budayanya.

Warga tidak hanya menjalankan sebuah prosesi.

Mereka juga menciptakan ruang untuk berkumpul.

Ketika Tradisi Lama Dibawa ke Zaman Sekarang

Attoana Turiere kemudian tidak hanya dikenal sebagai tradisi masyarakat Kampung Tulang.

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar pernah memasukkannya dalam kalender kegiatan budaya daerah dan menggelarnya dalam bentuk festival.

Pada 2018, Festival Budaya Attoana Tu Riere dilaksanakan di Kampung Penyu, Dusun Tulang, Desa Barugaiya. Kegiatan tersebut melibatkan pemerintah desa, masyarakat, pemerhati lingkungan, serta sejumlah unsur masyarakat lainnya.

Dalam sambutan pemerintah daerah ketika itu, Attoana Tu Riere disebut sebagai budaya lama yang diangkat kembali dalam konteks pelestarian budaya.

Pemerintah juga menegaskan bahwa penyelenggaraan festival tersebut dimaknai sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, bukan sebagai ritual penyembahan.

Di sinilah sebuah tradisi lama menemukan bentuk baru.

Cerita tentang masa lalu tetap dipertahankan.

Prosesi budaya tetap dikenalkan.

Tetapi pemaknaannya dapat ditempatkan kembali sesuai kehidupan masyarakat sekarang.

Laut sebagai Ruang Kehidupan

Kepulauan Selayar merupakan wilayah kepulauan yang kehidupan masyarakatnya tidak dapat dilepaskan dari lingkungan pesisir dan laut.

Karena itu, laut dalam tradisi masyarakat bukan hanya ruang untuk mencari penghidupan.

Ia juga menjadi ruang sosial dan budaya.

Attoana Turiere memperlihatkan bagaimana hubungan tersebut diterjemahkan melalui sebuah tradisi.

Masyarakat membawa makanan ke tepi laut.

Mereka berkumpul.

Mereka menjalankan prosesi yang diwariskan.

Dan dalam perkembangannya, tradisi tersebut juga digunakan untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan.

Konteks itu terlihat dalam pelaksanaan festival Attoana Tu Riere yang juga dirangkaikan dengan kegiatan lingkungan, termasuk pelepasan tukik di Kampung Penyu.

Tradisi kemudian menjadi jembatan antara cerita lama dan kebutuhan masyarakat hari ini.

Mengapa Masih Menarik Dibicarakan?

Tidak semua tradisi bertahan dengan bentuk yang sama.

Sebagian berubah mengikuti zaman. Sebagian lainnya hanya tersisa dalam ingatan.

Attoana Turiere menjadi menarik karena tradisi tersebut masih dapat dibicarakan melalui beberapa lapisan sekaligus: kepercayaan masyarakat, hubungan dengan lingkungan, kebersamaan warga, musik tradisional, hingga upaya pemerintah dan masyarakat mengemasnya sebagai warisan budaya.

Yang dihanyutkan ke laut hanyalah salah satu bagian dari keseluruhan cerita.

Di baliknya ada masyarakat yang hidup dekat dengan air dan membangun cara sendiri untuk memahami lingkungan di sekitarnya.

Pada akhirnya, Attoana Turiere bukan hanya tentang makanan yang dibawa ke pantai.

Ia adalah cerita tentang bagaimana masyarakat pesisir Selayar memandang laut: bukan semata tempat mengambil hasil, tetapi bagian dari ruang hidup yang dihormati, diingat, dan diwariskan.(*)