Jakarta, Katasulsel.com — Pengakuan seorang disc jockey (DJ) bernama Anggun Maharani atau yang dikenal sebagai DJ Maharani menghebohkan publik. Perempuan yang aktif tampil di berbagai acara hiburan itu mengaku menjadi korban dugaan kekerasan fisik dan pelecehan seksual saat menghadiri sebuah pesta tertutup di kawasan elite SCBD, Jakarta Selatan.

Kasus tersebut kini telah ditangani Polda Metro Jaya setelah korban melayangkan laporan resmi sejak Februari 2026.

Menurut pengakuan DJ Maharani, peristiwa bermula ketika dirinya menerima undangan untuk mengisi acara sebagai DJ dalam sebuah pesta ulang tahun yang disebut berkaitan dengan seorang pejabat.

Awalnya, ia menganggap acara tersebut sebagai pekerjaan profesional seperti biasanya.

Namun suasana berubah ketika dirinya berada di lokasi acara yang berlangsung di salah satu ruang privat kawasan ASHTA District 8, Jakarta Selatan.

Korban mengaku mulai merasa tidak nyaman karena akses komunikasinya dibatasi. Telepon genggam disebut dimatikan, sementara pintu ruangan diklaim dalam keadaan terkunci.

Situasi tersebut, menurutnya, membuat dirinya sulit meninggalkan lokasi.

Puncak kejadian terjadi ketika korban mengaku mendapat permintaan bernuansa seksual yang tidak diinginkannya.

Ia menegaskan telah menolak permintaan tersebut.

Penolakan itu, menurut keterangannya, justru memicu tindakan kekerasan.

“Dia mau perkosa aku dan aku nggak mau. Tiba-tiba aku diseret dan dipukulin,” ungkap DJ Maharani dalam keterangannya.

Tidak hanya itu, ia juga mengaku dikejar, didorong menggunakan benda tertentu, serta mengalami tindakan kasar lainnya di dalam ruangan yang tertutup dari akses publik.

Merasa menjadi korban tindak pidana, DJ Maharani kemudian melaporkan peristiwa tersebut ke Polda Metro Jaya.

Laporan itu tercatat secara resmi dan telah dilengkapi Surat Tanda Penerimaan Laporan (STPL).

Perkembangan perkara kini memasuki tahap yang lebih serius.

Berdasarkan informasi yang beredar, hasil visum menunjukkan adanya sejumlah luka pada tubuh korban yang diduga akibat kekerasan benda tumpul.

Temuan tersebut menjadi salah satu bahan bagi penyidik untuk mendalami kasus yang kini telah naik ke tahap penyidikan.

Kasus ini langsung menyita perhatian publik karena disebut terjadi dalam sebuah pesta privat yang melibatkan kalangan tertentu dan berlangsung di kawasan prestisius ibu kota.

Di media sosial, berbagai respons bermunculan. Sebagian warganet memberikan dukungan kepada korban dan meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas perkara tersebut.

Sementara itu, kalangan pemerhati hukum mengingatkan pentingnya proses penyidikan dilakukan secara profesional, objektif, dan menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah terhadap seluruh pihak yang terkait.

Hingga kini, penyidik masih terus mengumpulkan alat bukti dan meminta keterangan dari sejumlah pihak guna mengungkap secara utuh kronologi peristiwa yang sebenarnya terjadi.

Kasus DJ Maharani pun menjadi sorotan nasional karena tidak hanya menyangkut dugaan tindak pidana kekerasan seksual dan penganiayaan, tetapi juga membuka kembali perdebatan mengenai keamanan pekerja hiburan saat bertugas di ruang-ruang privat yang minim pengawasan.

Publik kini menanti hasil penyidikan aparat untuk mengungkap fakta di balik peristiwa yang disebut terjadi di balik pintu tertutup kawasan elite Jakarta tersebut. (*)