Bantaeng, Katasulsel.com — Jauh sebelum dikenal dengan nama Bantaeng seperti sekarang, daerah ini pernah muncul dalam catatan kolonial dengan nama Bonthain.

Nama tersebut bukan sekadar ejaan lama.

Bonthain merupakan nama yang digunakan dalam historiografi kolonial untuk menyebut Bantaeng, wilayah yang berada di sisi timur laut Teluk Bonthain. Catatan perjalanan seorang pelaut Inggris, Captain Carteret, bahkan menyebut Bonthain ketika melakukan perjalanan menuju Makassar pada 1768.

Berabad-abad kemudian, jejak dari masa itu belum sepenuhnya hilang.

Sejumlah bangunan peninggalan pemerintahan kolonial Belanda masih dapat dilacak di kawasan Bantaeng, terutama di wilayah antara Sungai Tangnga-Tangnga dan Sungai Calendu yang berada tidak jauh dari pesisir teluk.

Jejak tersebut memperlihatkan bahwa kawasan Bantaeng pernah menjadi bagian dari jaringan pemerintahan kolonial yang cukup penting di wilayah selatan Sulawesi.

Bonthain dalam Catatan Lama

Nama Bonthain muncul dalam berbagai catatan masa kolonial.

Dalam penelitian arkeologi berjudul Jejak Kolonial Belanda di Timur Laut Teluk Bonthain, peneliti dari Balai Arkeologi Sulawesi Selatan mencatat bahwa Bantaeng dalam historiografi kolonial dikenal sebagai Bonthain.

Teluk Bonthain juga menjadi bagian penting dalam gambaran geografis kawasan tersebut.

Dalam catatan perjalanan Captain Carteret pada Mei 1768, Bonthain digambarkan sebagai sebuah teluk besar yang dapat menjadi tempat kapal berlindung ketika musim hujan. Ia juga mencatat keberadaan perbukitan Bonthain di sekitar kawasan tersebut.

Catatan itu menunjukkan bahwa kawasan Bantaeng telah dikenal dalam lalu lintas pelayaran jauh sebelum perkembangan kota modern seperti sekarang.

Letaknya di kawasan teluk membuat Bantaeng memiliki posisi strategis dalam hubungan antara wilayah pesisir, perdagangan, dan pemerintahan.

Belanda Membangun Kotanya

Ketika pemerintahan kolonial Belanda semakin berkembang, kawasan Bantaeng tidak hanya menjadi tempat persinggahan.

Berbagai bangunan didirikan untuk menunjang kebutuhan pemerintahan kolonial.

Hasil survei Balai Arkeologi Sulawesi Selatan pada 2017 menemukan jejak bangunan kolonial yang berkaitan dengan sejumlah fungsi, mulai dari pemerintahan, peribadatan, pendidikan, pelayanan publik, hunian hingga pemakaman.

Bangunan-bangunan tersebut terkonsentrasi di kawasan antara Sungai Tangnga-Tangnga dan Sungai Calendu, tidak jauh dari pesisir Teluk Bonthain.

Dengan kata lain, jejak kolonial Bantaeng tidak berdiri sebagai satu bangunan yang terpisah.

Ia merupakan bagian dari sebuah kawasan.

Ada bangunan pemerintahan.

Ada fasilitas pendidikan.

Ada tempat ibadah.

Ada rumah tinggal.

Ada pula fasilitas pelayanan publik dan pemakaman.

Keseluruhannya membentuk gambaran tentang bagaimana sebuah kawasan perkotaan ditata pada masa pemerintahan kolonial.

Ada Sekolah yang Kini Masih Dikenal

Salah satu tinggalan yang menarik adalah bangunan yang dahulu digunakan sebagai sekolah Eropa atau Europeesche School.

Dalam dokumentasi penelitian arkeologi, bangunan tersebut kemudian dikenal sebagai bagian dari kompleks SMPN 1 Bantaeng. Penelitian yang sama juga mendokumentasikan bekas kantor pengadilan, rumah tinggal, serta rumah dinas kepala polisi Bantaeng.

Jejak seperti ini membuat sejarah kolonial terasa lebih dekat.

Sebab, peninggalannya bukan hanya berupa artefak yang tersimpan di museum.

Sebagian jejak berada di ruang yang pernah dan masih digunakan masyarakat.

Bangunan yang dahulu memiliki fungsi tertentu dalam pemerintahan kolonial dapat berubah fungsi mengikuti kebutuhan zaman.

Di situlah sejarah kota menjadi menarik untuk dibaca.

Sebuah bangunan bisa berganti fungsi, tetapi bentuk fisiknya tetap membawa sebagian cerita masa lalu.

Mengapa Bangunan Kolonial Dibangun Dekat Teluk?

Letak bangunan kolonial di sekitar pesisir bukan tanpa alasan.

Penelitian arkeologi tersebut menunjukkan bahwa kompleks bangunan kolonial berada tidak jauh dari Teluk Bonthain. Kawasan teluk sendiri memiliki posisi penting dalam aktivitas pelayaran dan hubungan antardaerah.

Dalam catatan Carteret pada 1768, Teluk Bonthain disebut sebagai tempat yang memungkinkan kapal berlindung ketika musim hujan.

Posisi geografis seperti itu membuat kawasan pesisir memiliki nilai strategis.

Pemerintahan, perdagangan, transportasi, dan aktivitas masyarakat dapat berkembang di sekitar wilayah yang memiliki akses ke jalur laut.

Karena itu, ketika pemerintah kolonial membangun berbagai fasilitas di kawasan tersebut, lokasinya tidak dapat dilepaskan dari karakter Bantaeng sebagai kota pesisir.

Dari Bonthain Menjadi Bantaeng

Nama Bonthain perlahan menjadi bagian dari sejarah.

Hari ini, masyarakat mengenalnya sebagai Bantaeng.

Namun, perubahan nama tersebut tidak serta-merta menghapus lapisan sejarah yang pernah ada.

Catatan lama, peta, foto, bangunan, dan tinggalan arkeologis masih dapat membantu menelusuri bagaimana kawasan ini berkembang.

Penelitian Balai Arkeologi Sulawesi Selatan bahkan menggunakan peta lama, foto, catatan perjalanan, serta survei lapangan untuk membaca kembali jejak kolonial di kawasan Bantaeng.

Artinya, sejarah Bantaeng tidak hanya dapat dicari melalui cerita tentang kerajaan atau masa prasejarah.

Ada pula babak kolonial yang meninggalkan jejak pada bentuk ruang kota.

Kota yang Menyimpan Banyak Lapisan

Bantaeng sering disebut sebagai salah satu wilayah tua di Sulawesi Selatan.

Tetapi menjadi tua bukan berarti hanya memiliki satu cerita.

Di satu tempat, terdapat sejarah masyarakat lokal.

Di tempat lain, terdapat jejak perdagangan dan pelayaran.

Di kawasan yang sama, pernah berdiri bangunan pemerintahan kolonial.

Semua lapisan itu kemudian bertemu dalam Bantaeng yang dikenal sekarang.

Nama Bonthain mungkin sudah tidak digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, nama tersebut masih penting untuk memahami bagaimana Bantaeng pernah dicatat dan ditempatkan dalam peta sejarah kawasan Sulawesi Selatan.

Dan ketika menyusuri kawasan lama Bantaeng, jejak itu sebenarnya tidak sepenuhnya hilang.

Ia masih tersimpan dalam bangunan, tata ruang, peta lama, serta ingatan tentang sebuah kota yang pernah dikenal dunia luar dengan nama Bonthain.

Bantaeng hari ini berdiri di atas sejarah yang berlapis. Salah satunya adalah jejak kolonial yang pernah membentuk sebagian wajah kota di sekitar Teluk Bonthain.