Luwu Timur, Katasulsel.com — Di sekitar pesisir Danau Matano, ada tumbuhan yang mungkin tampak biasa bagi sebagian orang. Namun bagi masyarakat Desa Nuha, Kabupaten Luwu Timur, tumbuhan itu dapat diolah menjadi kerajinan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Namanya teduhu, atau dikenal pula sebagai pakis hutan.
Bagian dalam batang teduhu dimanfaatkan sebagai bahan utama untuk membuat anyaman. Dari serat tersebut, pengrajin dapat menghasilkan berbagai benda, mulai dari tas, keranjang, tempat tisu, tempat pensil hingga bosara.
Kerajinan itu dikenal sebagai Anyaman Teduhu dan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui SK Nomor 372/M/2021 dalam domain Kemahiran dan Kerajinan Tradisional.
Berawal dari Batang Pakis Hutan
Anyaman Teduhu berkembang di masyarakat pesisir Danau Matano, khususnya Desa Nuha. Penelitian tentang kerajinan tersebut mencatat bahwa bahan utama diperoleh dari pakis hutan yang tumbuh di sekitar wilayah tersebut.
Teduhu tidak langsung dianyam begitu saja. Batangnya harus melalui sejumlah tahapan agar bagian serat di dalamnya dapat digunakan.
Penelitian yang dilakukan terhadap masyarakat Desa Nuha mencatat proses mulai dari pengambilan teduhu, pemotongan, pengupasan, pengikisan dan perautan serat, hingga pengumpulan bahan. Rotan juga digunakan sebagai bagian dari konstruksi anyaman. Setelah bahan siap, barulah proses menganyam dilakukan.
Dalam pengembangannya, teduhu dapat menghasilkan bentuk anyaman yang beragam. Tas jinjing, misalnya, dibuat dalam beberapa ukuran. Ada pula keranjang, tempat pensil, tempat tisu dan bosara dengan karakter bentuk masing-masing.
Pemerintah Kabupaten Luwu Timur juga mencatat bahwa anyaman teduhu dahulu digunakan sebagai wadah pakaian dan makanan. Kini, bentuk produknya semakin beragam dan telah berkembang menjadi suvenir.
Seratnya Diambil dari Bagian Dalam
Keunikan teduhu terletak pada cara bahan tersebut diproses.
Pengrajin tidak menggunakan seluruh bagian batang. Setelah dipanen, batang teduhu dikupas untuk mendapatkan bagian dalam yang kemudian diolah menjadi serat.
Dalam sebuah kegiatan pengenalan Anyaman Teduhu di Sulsel Craft 2022, pengrajin menjelaskan bahwa batang teduhu harus melalui proses pengupasan dan penghalusan sebelum dapat dijadikan bahan kerajinan. Rotan kemudian dapat ditambahkan untuk membentuk pola dan struktur produk.
Karakter bahan alam tersebut pula yang membuat hasil akhirnya memiliki tampilan khas. Produk dapat dibuat dalam bentuk pipih maupun bulat, kemudian dikembangkan menjadi berbagai benda kebutuhan sehari-hari.
Dari Kebutuhan Rumah Tangga hingga Produk Kerajinan
Perubahan fungsi membuat Anyaman Teduhu tidak berhenti sebagai benda kebutuhan rumah tangga.
Di tangan pengrajin, bahan tradisional tersebut dikembangkan menjadi produk yang dapat dipasarkan. Nuha Handicraft, salah satu sentra yang mengembangkan anyaman serat alam di Desa Nuha, misalnya, membuat tempat tisu, bosara, keranjang dan tas.
Bahan tambahan seperti kain dan kulit juga digunakan untuk menyesuaikan produk dengan kebutuhan pasar, tanpa menghilangkan ciri khas anyaman teduhu.
Dalam sebulan, sentra tersebut pernah mencatat produksi sekitar 150 buah anyaman teduhu. Pemasarannya tidak hanya dilakukan di tingkat lokal, tetapi juga menjangkau sejumlah daerah di Indonesia melalui media sosial dan kegiatan pameran.
Artinya, sebuah keterampilan yang berangkat dari tumbuhan di sekitar Danau Matano dapat bergerak dari ruang domestik menuju pasar yang lebih luas.
Tantangannya Bukan Sekadar Pasar
Di balik perkembangan produk, ada persoalan lain yang ikut menentukan keberlangsungan Anyaman Teduhu: regenerasi pengrajin.
Sumber-sumber mengenai kerajinan ini menunjukkan bahwa keterampilan mengolah teduhu selama ini banyak diwariskan melalui masyarakat setempat, termasuk perempuan yang lebih tua. Penelitian mengenai proses pembuatannya bahkan menggunakan pengrajin perempuan lanjut usia sebagai informan utama.
Pada 2026, tantangan regenerasi tersebut kembali menjadi perhatian. Dalam pemberitaan mengenai pengembangan UMKM Luwu Timur, Anyaman Teduhu disebut menghadapi berkurangnya jumlah pengrajin karena minat generasi muda yang tidak sebesar generasi sebelumnya.
Pelatihan kepada anak-anak muda kemudian dilakukan agar keterampilan tersebut tidak terputus.
Persoalannya akhirnya bukan hanya bagaimana menjual produk lebih banyak, tetapi bagaimana memastikan masih ada orang yang mengetahui cara mengambil bahan, mengolahnya, dan menganyamnya ketika generasi sebelumnya sudah tidak lagi mengerjakannya.
Teduhu dan Pengetahuan yang Tumbuh dari Alam
Anyaman Teduhu memperlihatkan bagaimana masyarakat Desa Nuha memanfaatkan apa yang tersedia di lingkungan mereka.
Pakis hutan yang tumbuh di sekitar wilayah Danau Matano tidak berhenti sebagai tumbuhan liar. Melalui pengetahuan yang diwariskan, bagian tertentu dari tanaman tersebut diolah menjadi material kerajinan.
Pengetahuan itu mencakup hal-hal yang sangat praktis: kapan mengambil bahan, bagian mana yang digunakan, bagaimana mengupasnya, bagaimana mengolah serat, hingga bagaimana menyusunnya menjadi benda yang dapat digunakan.
Karena itu, nilai Anyaman Teduhu tidak hanya terletak pada bentuk produk akhirnya.
Di dalamnya terdapat pengetahuan mengenai alam, keterampilan tangan, pemanfaatan bahan lokal, sekaligus cara sebuah masyarakat mempertahankan keterampilan lama ketika kebutuhan dan selera pasar terus berubah.
Anyaman Teduhu telah ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda. Namun keberlangsungannya tetap bergantung pada satu hal yang jauh lebih sederhana: masih ada atau tidak orang yang mau belajar menganyamnya.(*)
