Kepulauan Selayar, Katasulsel.com — Sebuah perkampungan di dataran tinggi Kabupaten Kepulauan Selayar memiliki ciri yang tidak banyak ditemukan di tempat lain.

Kampung itu dikelilingi pagar batu yang disusun rapi dengan ketinggian sekitar satu hingga dua meter.

Di tengah perkampungan berdiri sebuah masjid tua yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai Masjid Tua Gantarang Lalang Bata atau Masjid Awaluddin.

Masjid tersebut diperkirakan telah berdiri sejak abad ke-16, menjadikannya salah satu peninggalan penting dalam sejarah perkembangan Islam di Sulawesi Selatan.

Kampung dan masjid itu berada di Dusun Gantarang Lalang Bata, Desa Bontomarannu, Kecamatan Bontomanai, Kabupaten Kepulauan Selayar.

Dari Kota Benteng, lokasinya berjarak sekitar 12 kilometer. Pemerintah daerah mencatat kawasan tersebut sebagai salah satu kawasan cagar budaya unggulan di Selayar.

Mengapa Disebut Lalang Bata?

Nama Gantarang Lalang Bata tidak muncul begitu saja.

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar menjelaskan bahwa kata lalang dalam konteks nama kampung dimaknai sebagai “di dalam”, sedangkan bata merujuk pada batu yang disusun menjadi pagar pembatas kebun atau rumah pada masa lalu.

Karena itu, pagar batu menjadi bagian penting dari identitas perkampungan tersebut.

Susunan batu itu mengelilingi kawasan kampung dan menjadi salah satu ciri yang membedakan Gantarang Lalang Bata dari perkampungan lain di Kepulauan Selayar.

Pagar tersebut bukan sekadar elemen bangunan.

Ia menjadi penanda ruang sebuah komunitas yang telah dihuni dan berkembang sejak masa lampau.

Masjid di Tengah Kampung

Di tengah kawasan itu berdiri Masjid Tua Gantarang.

Dokumen Direktori Potensi Wisata Budaya Pulau Selayar dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat masjid tersebut berada di Kampung Gantarang Lalang Bata dan berjarak sekitar 12 kilometer dari Kota Benteng.

Masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Awaluddin.

Salah satu keunikannya adalah keberadaan sumur yang berada di bawah bangunan masjid. Dalam dokumentasi pemerintah, sumur tersebut disebut berada tepat di tengah areal perkampungan dan ditutup menggunakan dulang yang disebut berbahan emas.

Bangunan masjid memiliki konstruksi kayu dan batu dengan atap bertingkat atau tumpang. Pada bagian puncaknya terdapat mustika.

Bentuk tersebut memperlihatkan karakter arsitektur masjid tua di Nusantara yang beradaptasi dengan bahan dan tradisi bangunan setempat.

Jejak Islam dari Abad ke-16

Sejumlah sumber pemerintah daerah memperkirakan Masjid Tua Gantarang dibangun pada abad ke-16, pada masa pemerintahan Sultan Pangali Patta Raja.

Pangali Patta Raja disebut sebagai raja pertama Kerajaan Gantarang yang memeluk Islam.

Tradisi sejarah setempat juga mengaitkan proses tersebut dengan Datuk ri Bandang, salah satu tokoh penyebaran Islam di Sulawesi Selatan.

Karena itu, Masjid Tua Gantarang tidak hanya dipandang sebagai bangunan tempat ibadah.

Ia menjadi bagian dari narasi mengenai awal perkembangan Islam di wilayah Kepulauan Selayar.

Pemerintah daerah bahkan menyebut Gantarang sebagai salah satu wilayah penting dalam sejarah penyebaran Islam di Sulawesi Selatan. Namun, klaim mengenai masjid tertua maupun kronologi persis penyebaran Islam perlu ditempatkan sebagai bagian dari catatan dan penafsiran sejarah yang masih memiliki sejumlah versi.

Bukan Hanya Masjid

Nilai sejarah Gantarang Lalang Bata tidak berhenti pada bangunan masjid.

Di kawasan tersebut juga terdapat sejumlah benda dan peninggalan lama yang berkaitan dengan sejarah masyarakat setempat.

Direktori potensi wisata budaya pemerintah mencatat adanya sebuah meriam besi yang ditemukan di sekitar Masjid Tua Gantarang. Asal-usul meriam tersebut belum diketahui secara pasti oleh masyarakat sekitar.

Keberadaan benda-benda lama itu memperlihatkan bahwa kawasan Gantarang memiliki lapisan sejarah yang lebih luas daripada sekadar sebuah bangunan ibadah.

Masjid, pagar batu, permukiman, serta berbagai peninggalan menjadi bagian dari satu ruang budaya.

Kampung yang Menyimpan Ingatan

Gantarang Lalang Bata menarik bukan karena bentuk bangunannya saja.

Yang lebih penting adalah bagaimana ruang kampung tersebut menyimpan ingatan tentang kehidupan masyarakat masa lalu.

Pagar batu menjadi penanda kawasan.

Masjid menjadi pusat kehidupan keagamaan.

Dan kampung menjadi ruang tempat sejarah itu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar sendiri memasukkan Gantarang Lalang Bata sebagai salah satu kampung yang memiliki kekhasan budaya dan sejarah. Lokasinya yang berada di dataran tinggi membuat kawasan ini juga memiliki karakter ruang yang berbeda dari permukiman pesisir yang banyak ditemukan di Kepulauan Selayar.

Di tengah perubahan zaman, keberadaan kampung seperti Gantarang Lalang Bata menjadi pengingat bahwa sejarah sebuah daerah tidak selalu tersimpan dalam buku.

Kadang, ia tersisa dalam susunan batu yang mengelilingi kampung.

Dalam kayu tua sebuah masjid.

Dalam sumur yang berada di bawah bangunan.

Atau dalam nama sebuah tempat yang masih digunakan hingga hari ini.

Gantarang Lalang Bata pada akhirnya bukan sekadar kampung tua di Kabupaten Kepulauan Selayar. Ia adalah ruang tempat sejarah, agama, arsitektur, dan kehidupan masyarakat bertemu dalam satu lanskap yang masih dapat ditelusuri hingga sekarang.