Kepulauan Selayar, Katasulsel.com — Dua orang bisa saling berbalas nyanyian tanpa membawa naskah lagu. Satu melantunkan syair, yang lain menjawab. Isinya bisa berupa nasihat, percintaan, humor, hingga pesan-pesan kehidupan.
Di Kepulauan Selayar, tradisi semacam itu dikenal sebagai Batti’-Batti’.
Batti’-Batti’ bukan sekadar pertunjukan musik. Di dalamnya terdapat tradisi berbalas syair yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat Selayar dan diwariskan melalui praktik pertunjukan. Dalam penyajiannya, kesenian ini menggunakan gambusu’ sebagai alat musik petik dan rebana sebagai pengiring.
Kesenian tersebut telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Kini, Batti’-Batti’ bahkan kembali didata untuk memperkuat upaya pengusulannya ke tingkat Warisan Budaya Takbenda dunia.
Syair yang Lahir dari Percakapan
Salah satu hal menarik dari Batti’-Batti’ adalah hubungan antara musik dan syair.
Batti’-Batti’ tidak hanya mengandalkan melodi. Syair menjadi bagian penting dari pertunjukan. Dalam perkembangannya, kesenian ini dikenal dengan lantunan syair berbentuk pantun atau lagu yang diiringi gambusu’ dan rebana.
Karena itu, Batti’-Batti’ dapat menjadi ruang untuk menyampaikan sesuatu yang lebih luas daripada hiburan.
Nasihat dapat disampaikan melalui syair. Perasaan dapat diungkapkan lewat lagu. Humor dapat diselipkan di tengah pertunjukan.
Tradisi lisan tersebut membuat kemampuan merangkai kata menjadi bagian penting dalam pertunjukan.
Orang tidak hanya mendengarkan musik.
Mereka juga mendengarkan cerita.
Gambusu’ yang Berubah Mengikuti Zaman
Namun, Batti’-Batti’ tidak sepenuhnya berada di masa lalu.
Perubahan justru dapat dilihat dari alat musik yang menjadi salah satu unsur penting dalam kesenian tersebut, yakni gambusu’.
Penelitian Hamrin dari Universitas Negeri Makassar mencatat perubahan bentuk gambusu’ di Kepulauan Selayar. Alat musik yang sebelumnya memiliki bentuk tradisional kemudian berkembang menjadi gambusu’ dengan bentuk menyerupai gitar elektrik. Perubahan tersebut mulai terlihat sejak sekitar 1990-an.
Perubahan itu bukan terjadi tanpa sebab.
Penelitian tersebut mengaitkannya dengan perubahan kondisi sosial masyarakat, perkembangan teknologi, serta pengaruh musik dan budaya dari luar.
Bahkan, perubahan tidak hanya terjadi pada bentuk alat musik.
Bahasa dalam teks lagu juga mengalami perkembangan. Penelitian menemukan adanya penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa asing di samping bahasa daerah Selayar dalam praktik Batti’-Batti’.
Artinya, tradisi ini tidak sepenuhnya diam ketika zaman berubah.
Ia ikut bergerak.
Ketika Tradisi Tidak Harus Berarti Tidak Berubah
Perubahan gambusu’ menimbulkan satu pertanyaan menarik: apakah sebuah kesenian masih bisa disebut tradisional ketika alat musiknya telah berubah?
Penelitian mengenai Batti’-Batti’ menunjukkan bahwa masyarakat tetap memandang praktik tersebut sebagai bagian dari tradisi meskipun bentuk fisik gambusu’ telah mengalami perubahan. Spirit dan praktik keseniannya masih dipertahankan, sementara unsur tertentu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Penelitian lain yang terbit lebih baru juga melihat transformasi gambusu’ sebagai bentuk adaptasi terhadap teknologi, perkembangan ekonomi kreatif, dan selera penonton.
Perubahan tersebut kemudian ikut memengaruhi pola pertunjukan, penggunaan bahasa dalam lirik, hingga peran para pelaku di dalamnya.
Di titik ini, Batti’-Batti’ memberikan pelajaran sederhana tentang kebudayaan.
Tradisi tidak selalu bertahan dengan cara mempertahankan seluruh bentuk lamanya.
Kadang-kadang, ia bertahan justru karena mampu berubah.
Dari Pesta Pernikahan hingga Pertunjukan Budaya
Dalam kehidupan masyarakat Selayar, Batti’-Batti’ tidak hanya hadir sebagai kesenian panggung.
Penelitian mencatat kesenian ini digunakan dalam berbagai kegiatan masyarakat, termasuk pernikahan, sunatan, hajatan, dan kegiatan seremonial lainnya.
Ruang pertunjukan yang berubah menunjukkan bahwa Batti’-Batti’ juga mengikuti kebutuhan masyarakat pendukungnya.
Dahulu, kesenian ini lebih banyak hadir dalam ruang sosial tertentu. Dalam perkembangannya, Batti’-Batti’ juga tampil dalam kegiatan seni dan festival.
Perubahan ruang pertunjukan tersebut membuat Batti’-Batti’ tidak hanya menjadi milik satu generasi.
Ia dapat diperkenalkan kembali kepada masyarakat yang lebih luas.
Dari Selayar, Menuju Dunia
Upaya mempertahankan Batti’-Batti’ kini memasuki tahap yang lebih serius.
Pada April 2025, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX melakukan pendataan Batti’-Batti’ di Kabupaten Kepulauan Selayar. Pendataan tersebut dilakukan untuk memperkuat data kebudayaan sekaligus mendorong pengusulan Batti’-Batti’ sebagai Warisan Budaya Takbenda dunia.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pelestarian kebudayaan tidak cukup hanya dengan menggelar pertunjukan.
Tradisi juga perlu dicatat, diteliti, dikenalkan kepada generasi berikutnya, dan diberi ruang untuk tetap hidup di tengah perubahan masyarakat.
Batti’-Batti’ telah melewati perubahan bentuk alat musik, bahasa, ruang pertunjukan, dan zaman.
Tetapi satu hal masih sama: masyarakat Selayar tetap punya cara untuk bercerita melalui suara.
Sebab pada akhirnya, tradisi tidak selalu hidup karena bentuknya tidak berubah.
Ia hidup karena masih ada orang yang mau menyanyikannya.
