Kepulauan Selayar, Katasulsel.com — Di Selayar, pohon kelapa bukan hanya tumbuh di kebun atau menjadi sumber penghidupan.
Dalam tradisi lama masyarakat setempat, kelapa bahkan diperkenalkan kepada manusia sejak hari pertama kehidupannya.
Ketika seorang bayi lahir, ari-arinya ditanam bersama tunas kelapa. Tradisi tersebut dikenal sebagai Anjoro Tahuni, salah satu adat istiadat masyarakat Selayar yang berkaitan dengan kelahiran.
Bagi masyarakat yang menjalankannya, pohon kelapa bukan sekadar tanaman yang ditanam di tanah.
Ia menjadi penanda kelahiran sekaligus simbol harapan tentang kehidupan seorang anak.
Ari-Ari Bayi dan Tunas Kelapa
Anjoro Tahuni merupakan tradisi yang tercatat dalam dokumen pemajuan kebudayaan Kabupaten Kepulauan Selayar.
Dalam tradisi tersebut, ari-ari bayi ditempatkan menggunakan tempurung kelapa, kemudian ditanam bersama tunas kelapa. Harapannya, sang anak dapat tumbuh dan berhasil di kemudian hari.
Salah satu sumber mengenai kehidupan sosial budaya masyarakat Selayar menjelaskan bahwa tradisi ini memiliki makna simbolis.
Kelapa dipandang sebagai tanaman yang memiliki banyak manfaat. Karena itu, penanaman tunas kelapa bersama ari-ari menjadi doa agar anak kelak dapat menjadi manusia yang berguna bagi orang lain dan keluarganya.
Tradisi ini dikenal terutama dalam masyarakat di wilayah Bontolempangan, Kecamatan Buki, Kepulauan Selayar.
Ada rangkaian ritual yang menyertainya.
Sumber yang mendokumentasikan Anjoro Tahuni mencatat adanya prosesi bakbese, yaitu prosesi siraman yang melibatkan ibu dan bayi serta kelapa yang sedang bertunas. Air kelapa digunakan dalam rangkaian tersebut sebelum akhirnya ari-ari ditanam bersama tunas kelapa.
Dengan demikian, kelapa tidak hadir sebagai pelengkap.
Ia menjadi bagian dari cara masyarakat memaknai kelahiran.
Dari Kelahiran hingga Pernikahan
Menariknya, hubungan masyarakat Selayar dengan pohon kelapa tidak berhenti ketika seorang anak lahir.
Dalam adat lama, kelapa juga memiliki posisi penting dalam perkawinan.
Kajian mengenai kehidupan sosial budaya masyarakat Selayar mencatat pohon kelapa digunakan sebagai sunrang, atau mahar dalam perkawinan. Pohon-pohon kelapa yang menjadi sunrang memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai sosial bagi keluarga.
Artinya, satu tanaman dapat muncul dalam dua fase penting kehidupan manusia.
Ketika seorang anak lahir, kelapa menjadi bagian dari doa dan penanda kelahiran.
Ketika anak tumbuh dewasa dan memasuki perkawinan, kelapa dapat menjadi bagian dari harta yang diberikan sebagai sunrang.
Dalam sumber lain mengenai budaya Selayar, terdapat pula tradisi A’bokong Bura’ne, ketika orang tua menyiapkan lahan dan bibit kelapa bagi anak laki-laki sebagai bagian dari persiapan sunrang untuk perkawinannya kelak.
Kelapa dengan demikian bukan sekadar tanaman.
Ia ikut mengikuti perjalanan hidup manusia.
Mengapa Kelapa Begitu Penting?
Jawabannya berkaitan dengan posisi kelapa dalam kehidupan masyarakat Selayar.
Kelapa memiliki banyak kegunaan. Bagian pohonnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, sementara buahnya menjadi sumber pangan dan komoditas.
Dalam kajian mengenai kelapa di Selayar, tanaman tersebut juga dicatat memiliki fungsi dalam pengobatan tradisional masyarakat. Berbagai bagian kelapa digunakan bersama bahan lain untuk pengobatan sejumlah keluhan kesehatan.
Nilai ekonomi dan manfaat tersebut kemudian bertemu dengan nilai sosial.
Kelapa dapat diwariskan.
Kelapa dapat menjadi bagian dari perkawinan.
Kelapa juga hadir dalam tradisi kelahiran.
Karena itu, hubungan masyarakat dengan pohon kelapa tidak semata-mata hubungan antara petani dan tanaman.
Ada hubungan antara manusia, keluarga, tanah, dan keberlanjutan hidup.
Pohon yang Ditanam untuk Masa Depan
Dalam tradisi Anjoro Tahuni, tunas kelapa yang ditanam bersama ari-ari membawa sebuah gagasan sederhana.
Anak tumbuh.
Pohon juga tumbuh.
Keduanya sama-sama diarahkan menuju masa depan.
Pohon kelapa membutuhkan waktu untuk menjadi besar dan menghasilkan manfaat. Anak juga membutuhkan waktu untuk tumbuh, belajar, dan menjalani kehidupannya.
Karena itu, menanam kelapa pada saat kelahiran dapat dibaca sebagai simbol harapan agar kehidupan anak berkembang dan kelak memberi manfaat. Makna tersebut juga tercatat dalam dokumentasi budaya mengenai Anjoro Tahuni.
Hari ini, praktik tradisi masyarakat terus mengalami perubahan. Tidak semua adat lama otomatis dilakukan dengan bentuk yang sama oleh setiap keluarga.
Namun, jejak pemikirannya masih dapat ditemukan dalam dokumentasi kebudayaan Selayar.
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar sendiri masih menempatkan kelapa sebagai bagian dari identitas budaya dan kehidupan masyarakat. Dalam persiapan tradisi A’Lampareng pada 2025, pemerintah daerah kembali menyebut kelapa sebagai bagian dari kehidupan dan tradisi masyarakat Selayar sejak dahulu.
Di banyak tempat, kelapa mungkin hanya terlihat sebagai pohon yang tumbuh di kebun.
Di Selayar, ceritanya jauh lebih panjang.
Ia bisa ditanam ketika seorang anak baru saja lahir, tumbuh bersamanya, lalu suatu hari menjadi bagian dari bekal ketika anak itu membangun keluarganya sendiri.
Satu pohon.
Satu kehidupan.
Dan sebuah cara lama masyarakat Selayar untuk menitipkan masa depan kepada tanah.
