Kepulauan Selayar, Katasulsel.com — Dari kejauhan, rumah-rumah di Kampung Tua Bitombang terlihat seperti rumah panggung pada umumnya.
Namun, semakin diperhatikan, ada sesuatu yang membuatnya berbeda.
Tiang kayu yang menopang rumah dapat menjulang hingga sekitar 10 sampai 15 meter di bagian belakang. Sementara bagian depan rumah hanya berada sekitar 2 sampai 3 meter dari tanah.
Bukan karena masyarakat ingin membuat rumah bertingkat.
Rumah-rumah itu dibangun mengikuti bentuk tanah Bitombang yang berada di dataran tinggi dengan kontur berundak dan sebagian berupa tebing.
Kampung Tua Bitombang berada di Kelurahan Bontobangun, Kecamatan Bontoharu, Kabupaten Kepulauan Selayar, sekitar tujuh kilometer dari Kota Benteng.
Di tempat ini, kondisi alam ikut menentukan bagaimana sebuah rumah harus berdiri.
Rumah yang Mengikuti Bentuk Tanah
Konstruksi rumah di Bitombang memperlihatkan cara masyarakat menyesuaikan bangunan dengan lingkungan.
Bagian belakang rumah berada pada posisi tanah yang lebih rendah. Karena itu, tiang penyangganya harus dibuat jauh lebih panjang dibandingkan bagian depan.
Penelitian mengenai Perkampungan Tua Bitombang mencatat tinggi tiang bagian belakang dapat mencapai 10 hingga 15 meter, sedangkan bagian depan sekitar 2 hingga 3 meter. Tiang-tiang tersebut ditopangkan pada batuan alami yang kuat.
Dengan konstruksi seperti itu, rumah tetap dapat berdiri di atas lahan yang tidak rata.
Artinya, bentuk rumah bukan sekadar persoalan estetika.
Ia merupakan jawaban masyarakat terhadap kondisi tempat tinggal mereka.
Mengapa Tiangnya Bisa Setinggi Itu?
Ada beberapa cerita yang berkembang mengenai alasan masyarakat Bitombang membangun rumah dengan tiang sangat tinggi.
Salah satunya berkaitan dengan kondisi geografis kampung yang berbukit dan bertebing. Alasan lainnya muncul dalam cerita masyarakat mengenai kehidupan pada masa lalu, termasuk upaya menghindari gangguan hewan liar.
Sementara itu, terdapat pula kepercayaan masyarakat bahwa rumah dengan tiang tinggi menjadi simbol kekokohan.
Karena alasan-alasan tersebut berasal dari penuturan masyarakat dan kajian yang berbeda, semuanya tidak bisa diperlakukan sebagai satu-satunya penjelasan sejarah.
Yang dapat dilihat secara jelas adalah hubungan antara arsitektur rumah dan kondisi alam Bitombang.
Tanahnya berundak.
Rumahnya ikut berundak.
Rumah Tua yang Bertahan Puluhan hingga Ratusan Tahun
Nama “Kampung Tua” bukan tanpa alasan.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mencatat sejumlah rumah tradisional di Bitombang berusia sekitar 100 hingga 200 tahun. Rumah-rumah tersebut menggunakan material kayu dan bambu, dengan kayu yang dikenal masyarakat sebagai kayu bitti atau holasa.
Kajian lain mengenai Bitombang juga mencatat keberadaan rumah-rumah tua dengan konstruksi yang telah bertahan dalam waktu panjang.
Ciri khasnya tidak hanya terletak pada tiang.
Rumah tradisional di kampung ini juga memiliki jendela pada sejumlah sisi, serambi, serta penggunaan material tradisional pada bagian tertentu bangunan.
Karena itu, rumah di Bitombang tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal.
Ia juga menjadi bagian dari jejak sejarah permukiman masyarakat Selayar.
Ketika Rumah Menjadi Cara Membaca Alam
Ada sesuatu yang menarik dari arsitektur Bitombang.
Masyarakat tidak mengubah seluruh bentang alam agar sesuai dengan rumah.
Sebaliknya, rumah yang menyesuaikan diri dengan bentang alam.
Cara seperti ini memperlihatkan pengetahuan lokal yang terbentuk dari pengalaman masyarakat dalam menghadapi kondisi lingkungan selama bertahun-tahun.
Rumah panggung menjadi bukan sekadar bentuk tradisional yang diwariskan.
Ia menjadi cara hidup.
Ketinggian tiang, posisi rumah, bahan bangunan, hingga pemilihan lokasi semuanya berhubungan dengan kondisi tempat masyarakat tinggal.
Penelitian tentang budaya Perkampungan Tua Bitombang menyebut konstruksi tersebut sebagai salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat setempat.
Bukan Hanya Soal Rumah
Bitombang juga menyimpan kehidupan budaya lain.
Seni bela diri Kontaw dan Manca’ Pa’dang, misalnya, masih dipelajari secara turun-temurun. Pada 2025, tokoh masyarakat setempat menyebut anak-anak dan remaja di Bitombang masih mempelajari kedua kesenian tersebut.
Dengan demikian, yang bertahan di Bitombang bukan hanya bentuk rumah tua.
Ada pula pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan yang terus dipelajari oleh generasi berikutnya.
Inilah yang membuat kampung tersebut menarik untuk dilihat bukan semata-mata sebagai objek wisata.
Ia merupakan ruang hidup.
Ada Cerita tentang Orang yang Berumur Panjang
Bitombang juga sering dikaitkan dengan cerita tentang usia panjang penduduknya.
Sejumlah warga menyebut terdapat orang-orang tua yang berusia 90 tahun hingga lebih dari 100 tahun. Namun, laporan lokal yang lebih baru mengingatkan bahwa belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan hubungan antara usia panjang penduduk dengan konstruksi rumah bertiang tinggi.
Karena itu, cerita tersebut lebih tepat ditempatkan sebagai bagian dari pengetahuan dan kepercayaan masyarakat, bukan sebagai kesimpulan ilmiah.
Justru di sinilah Bitombang menarik.
Satu kampung dapat menyimpan dua lapisan cerita sekaligus: fakta arsitektur yang dapat diamati dan kepercayaan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Ketika Rumah Tua Masih Menjadi Rumah
Di tengah banyak bangunan lama yang akhirnya hanya menjadi peninggalan, rumah-rumah di Bitombang memiliki cerita yang berbeda.
Sebagian masih berada dalam lingkungan kehidupan masyarakat.
Orang masih tinggal di dalamnya.
Aktivitas sehari-hari tetap berlangsung di sekitar bangunan yang usianya telah melewati banyak generasi.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mencatat Perkampungan Tua Bitombang sebagai salah satu kawasan budaya di Kabupaten Kepulauan Selayar. Keunikan rumah panggungnya menjadi salah satu daya tarik utama kawasan tersebut.
Namun, nilai terpenting Bitombang mungkin bukan pada seberapa tinggi tiangnya.
Melainkan pada pengetahuan yang membuat rumah itu bisa berdiri.
Masyarakat membaca tanah, mengenali kemiringan, memilih material, lalu membangun rumah mengikuti kondisi alam.
Di Kampung Tua Bitombang, rumah tidak dipaksa menaklukkan tanah. Rumah justru belajar berdiri mengikuti tanah.
Dan mungkin, dari sanalah sebuah kampung bisa mempertahankan ceritanya selama ratusan tahun.
