Penulis
Berliana Rizki Kusuma Wardani

TAKALAR β€” Persoalan akses air bersih masih menjadi tantangan di sejumlah wilayah pesisir, termasuk dalam upaya menekan angka stunting dan penyakit berbasis lingkungan. Menjawab tantangan tersebut, Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Himpunan Mahasiswa Kedokteran Hewan (HIMAKAHA) Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (FK Unhas) menggelar sosialisasi dan pelatihan filtrasi air sederhana bagi masyarakat Desa Popo, Kecamatan Galesong Selatan, Kabupaten Takalar.

Kegiatan yang berlangsung di Kantor BUMDes Kale Marewa, Sabtu (18/7/2026), merupakan bagian dari Program OCEANS (One Health Coastal Environment and Nutrition Sustainability), sebuah program pengabdian berbasis pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan aspek kesehatan lingkungan, kesehatan masyarakat, dan ketahanan gizi dalam kerangka pendekatan One Health.

Puluhan warga, kader kesehatan, kader Posyandu, tokoh masyarakat, hingga perwakilan pemerintah desa mengikuti pelatihan yang dirancang untuk meningkatkan literasi kesehatan lingkungan sekaligus memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola sumber air secara mandiri.

Dalam sesi pelatihan, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai pentingnya air bersih bagi kesehatan keluarga, tetapi juga mendapat praktik langsung membuat sistem filtrasi sederhana menggunakan bahan yang mudah diperoleh. Warga diperkenalkan pada mekanisme penyaringan air, fungsi setiap lapisan media filtrasi, hingga teknik perawatan agar alat dapat digunakan secara berkelanjutan.

Tim PPK Ormawa HIMAKAHA FK Unhas menjelaskan bahwa kualitas air memiliki hubungan erat dengan status kesehatan masyarakat. Air yang tercemar dapat menjadi media penyebaran berbagai penyakit infeksi, terutama gangguan saluran pencernaan yang kerap menjadi faktor penyebab menurunnya kualitas kesehatan anak.

“Intervensi terhadap kualitas air merupakan langkah preventif yang sangat penting. Ketersediaan air bersih mendukung penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), mengurangi risiko penyakit berbasis lingkungan, serta berkontribusi terhadap upaya pencegahan stunting,” ungkap perwakilan tim.

Mewakili Pemerintah Desa Popo, Kepala Dusun Kampung Parang, Syarifuddin Dg. Sore, menyampaikan apresiasi atas kontribusi mahasiswa Universitas Hasanuddin yang dinilai menghadirkan solusi nyata bagi kebutuhan masyarakat.

Ia berharap pengetahuan dan teknologi sederhana yang diperkenalkan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh warga dan terus dikembangkan meskipun program pengabdian telah berakhir.

“Kami berharap masyarakat dapat memanfaatkan ilmu yang diberikan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Program seperti ini sangat bermanfaat karena tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga membangun kesadaran dan keterampilan masyarakat untuk menjaga kualitas air secara mandiri,” katanya.

Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi contoh konkret bagaimana institusi pendidikan tinggi menjalankan fungsi tridarma perguruan tinggi melalui pengabdian kepada masyarakat yang berbasis riset dan kebutuhan lapangan.

Melalui Program OCEANS, mahasiswa tidak sekadar hadir sebagai pelaksana kegiatan, tetapi juga sebagai fasilitator perubahan sosial yang mendorong lahirnya perilaku hidup sehat berbasis komunitas. Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan dampak jangka panjang, khususnya dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat pesisir dan mendukung terwujudnya Desa Popo sebagai desa sehat, mandiri, dan berkelanjutan.

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu kesehatan lingkungan dan gizi anak, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, tenaga kesehatan, serta masyarakat menjadi modal penting untuk membangun generasi yang lebih sehat dan berkualitas di masa depan. (*)