Oleh: Edy Basri
MUSDA Golkar Sulsel sudah selesai.
Tidak sampai larut.
Tidak sampai membuat orang menebak-nebak sampai tengah malam.
Tidak ada kejutan besar.
Tidak ada drama yang membuat peserta harus bolak-balik mengecek telepon genggam.
Nama Ilham Arief Sirajuddin—IAS—meluncur mulus.
Aklamasi.
Selesai.
Kadang politik memang begitu.
Yang paling menarik justru ketika tidak ada keributan.
Di Hotel Claro Makassar, Sabtu kemarin, para kader Golkar Sulsel seperti sudah sepakat sejak awal.
IAS adalah pilihan bersama.
Maka pemilihan pun berjalan seperti sungai yang mengalir.
Tenang.
Lancar.
Tanpa batu besar di tengah jalan.
Jauh di Sidrap, suasana itu ikut disambut dengan senyum.
Muh. Farid Ghalib termasuk yang paling bahagia.
Wakil Ketua Bidang Organisasi DPD II Partai Golkar Sidrap itu melihat hasil Musda bukan sekadar pergantian ketua.
Baginya, itu adalah sinyal.
Sinyal bahwa Golkar Sulsel sedang mencoba kembali menyatukan langkah.
Dan orang Sidrap tahu betul arti sebuah kekompakan.
Di daerah yang terkenal dengan semangat kerja dan budaya musyawarah itu, perpecahan jarang menghasilkan sesuatu yang besar.
Sebaliknya, ketika orang-orang bergerak dalam satu irama, hasilnya sering kali lebih cepat terlihat.
Mungkin karena itulah Farid begitu optimistis.
Ia melihat IAS bukan orang baru yang harus belajar dari nol.
Politisi yang pernah memimpin Makassar itu sudah lama berkecimpung di dunia politik Sulawesi Selatan.
Sudah kenyang pengalaman.
Sudah mengenal karakter daerah-daerah di Sulsel.
Termasuk Sidrap.
“Kami di Golkar Sidrap siap mendukung kepemimpinan beliau,” kata Farid.
Kalimatnya pendek.
Tetapi maknanya panjang.
Karena dalam partai politik, dukungan dari daerah bukan sekadar formalitas.
Partai hidup di daerah.
Partai bernapas di daerah.
Dan kemenangan politik selalu dimulai dari daerah.
Dari tempat-tempat seperti Sidrap.
Kabupaten yang dalam beberapa tahun terakhir semakin sering diperhitungkan dalam peta politik Sulawesi Selatan.
Farid juga tertarik pada pesan Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia.
Menurutnya, ada satu bagian yang patut disimpan baik-baik.
Bahwa Golkar tidak dibangun dengan kebencian.
Tetapi dengan persaudaraan.
Dengan saling pengertian.
Dengan kebersamaan.
Kalimat seperti itu terdengar sederhana.
Tetapi di dunia politik, kadang justru yang sederhana paling sulit dijalankan.
Karena politik sering membuat orang lebih sibuk melihat perbedaan daripada persamaan.
Musda telah usai.
Lampu ruang sidang sudah dipadamkan.
Kursi-kursi peserta sudah kembali kosong.
Foto-foto kemenangan sudah beredar di media sosial.
Tetapi pekerjaan sesungguhnya baru dimulai.
IAS kini memegang kemudi Golkar Sulsel.
Sementara dari Bumi Nene Mallomo, Farid Ghalib dan kader-kader Golkar Sidrap sudah menyatakan siap ikut mengayuh.
Karena mereka paham satu hal.
Memilih ketua itu penting.
Tetapi membawa kapal sampai ke tujuan jauh lebih penting.
Dan perjalanan lima tahun ke depan baru saja dimulai. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
