Luwu Utara, Katasulsel.com — Di Kecamatan Rampi, Kabupaten Luwu Utara, ada peninggalan batu yang sekilas menyerupai wajah manusia.
Namanya Arca Kontara.
Batu ini bukan sekadar batu biasa. Pemerintah Kabupaten Luwu Utara telah menetapkannya sebagai cagar budaya melalui Keputusan Bupati Luwu Utara Nomor 188.4.45/659/XII/2019. Dalam keputusan tersebut, Arca Kontara tercatat sebagai cagar budaya jenis benda yang berada di Kecamatan Rampi.
Namun, yang membuatnya menarik bukan hanya status cagar budayanya. Arca Kontara merupakan salah satu bagian dari jejak budaya megalitik yang ditemukan di kawasan Rampi.
Wajah manusia dipahat pada batu
Penelitian arkeologi Balai Arkeologi Sulawesi Selatan yang diterbitkan dalam Jurnal Walennae pada 2016 mencatat keberadaan Situs Kontara di Dusun Pongtara, Desa Dodolo, Kecamatan Rampi.
Situs tersebut berada di jalur dari Desa Onondowa menuju Desa Dodolo. Dalam penelitian itu, tinggalan arkeologis yang ditemukan berupa arca menhir berbahan batu.
Meski permukaannya telah mengalami keausan, bentuk manusia pada batu tersebut masih dapat dikenali. Peneliti mencatat adanya pahatan yang membentuk wajah oval, bagian kening, serta dua lingkaran yang dapat diidentifikasi sebagai mata.
Bagian kiri dan kanan wajah juga memiliki tonjolan yang menyerupai telinga. Sementara bentuk hidung sudah tidak tampak dengan jelas. Sebagian permukaan batu bahkan telah terkelupas sehingga beberapa atribut wajahnya hilang.
Ukuran arca tersebut juga cukup besar. Penelitian mencatat tinggi keseluruhannya sekitar 134 sentimeter, dengan lebar 85 sentimeter dan panjang wajah sekitar 90 sentimeter. Batu yang digunakan merupakan jenis andesit.
Saat penelitian dilakukan, arca tersebut berada di halaman rumah penduduk. Masyarakat setempat bahkan telah memasang pagar bambu di sekitarnya, meski peneliti mencatat kondisi keterawatannya masih minim.
Bukan satu-satunya arca di Rampi
Arca Kontara ternyata tidak berdiri sendiri.
Survei arkeologi di Kecamatan Rampi menemukan empat lokasi yang memiliki arca menhir, yakni Timo’Oni 1, Timo’Oni 2, Kontara, dan Batu Barani.
Keempatnya menunjukkan karakter yang serupa, yakni batu dengan bentuk yang dibuat menyerupai sosok manusia. Penelitian tersebut menyebut arca menhir sebagai perkembangan dari menhir yang kemudian diberi bentuk lebih menyerupai figur manusia.
Temuan tersebut penting karena memperlihatkan bahwa kawasan Rampi pernah menjadi ruang berkembangnya tradisi megalitik.
Penelitian Fakhri dari Balai Arkeologi Sulawesi Selatan menyebut persebaran arca menhir di Rampi berkaitan dengan masa logam awal atau paleometalik. Pertanggalan dari konteks penelitian di Situs Timo’Oni menunjukkan rentang sekitar abad ke-2 hingga ke-3 Masehi.
Artinya, kawasan Rampi menyimpan jejak kebudayaan yang jauh lebih tua daripada banyak catatan sejarah tertulis yang dikenal masyarakat sekarang.
Rampi berada di wilayah pegunungan
Kawasan Rampi sendiri merupakan wilayah pegunungan dan lembah di Luwu Utara.
Dalam penelitian 2016, Kecamatan Rampi digambarkan memiliki bentang alam perbukitan dan lembah dengan ketinggian wilayah yang banyak berada pada kisaran 1.500 hingga 2.500 meter di atas permukaan laut. Masyarakatnya juga memiliki wilayah adat yang masih menjadi bagian penting dalam kehidupan setempat.
Menariknya, peneliti melihat posisi Rampi sebagai kawasan yang secara geografis berada di wilayah transisi antara bagian tengah Pulau Sulawesi dan bagian utara lengan selatan Sulawesi.
Karena itu, keberadaan arca menhir di Rampi tidak hanya penting untuk memahami kebudayaan lokal, tetapi juga dapat membantu melihat hubungan perkembangan budaya antara Sulawesi Selatan dan kawasan Sulawesi Tengah.
Penelitian tersebut menemukan kemiripan antara arca menhir Rampi dengan tinggalan megalitik di kawasan Lore Selatan, Sulawesi Tengah. Meski demikian, peneliti mencatat arca menhir Rampi memiliki bentuk yang lebih sederhana.
Batu tua yang masih menyimpan pertanyaan
Arca Kontara pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah batu yang menyerupai manusia.
Ia merupakan bagian dari rangkaian tinggalan arkeologis yang membantu menunjukkan bahwa masyarakat di kawasan Rampi telah memiliki tradisi budaya yang berlangsung jauh pada masa lampau.
Penelitian arkeologi juga masih membuka ruang untuk pertanyaan lebih lanjut mengenai hubungan antara situs-situs megalitik Rampi dengan kawasan lain di Sulawesi.
Bahkan, dugaan mengenai hubungan masyarakat Rampi dengan masyarakat di Lembah Bada masih disebut sebagai hal yang memerlukan penelitian lebih lanjut.
Hari ini, Arca Kontara telah masuk dalam daftar cagar budaya Kabupaten Luwu Utara.
Sebuah batu dengan wajah manusia itu menjadi salah satu penanda bahwa di balik pegunungan Rampi, tersimpan jejak kebudayaan yang telah berusia sangat panjang dan masih terus dipelajari.
