Luwu, Katasulsel.com — Negeri tidak selalu perlu didinginkan dengan air.
Tetapi bagi masyarakat adat Luwu, ada sebuah ritual yang memang menggunakan air untuk “mendinginkan negeri”.
Namanya Mappaccekke Wanua.
Secara harfiah, mappaccekke wanua berarti mendinginkan negeri. Namun yang dimaksud bukan menurunkan suhu sebuah wilayah.
Ritual ini dimaknai sebagai upaya mendinginkan suasana, meredakan ketegangan, serta memulihkan kembali hubungan yang renggang di tengah masyarakat.
Karena itu, air dalam ritual ini bukan sekadar air.
Ia diambil melalui prosesi adat dari sebuah sumur yang dikenal sebagai Bubung Parani.
Airnya tidak diambil sembarangan
Bubung Parani berada di Kelurahan Senga, Kecamatan Belopa, Kabupaten Luwu.
Kajian cagar budaya yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat sumur tersebut berada di dalam kebun masyarakat dan berjarak sekitar 200 meter dari tepi jalan provinsi. Bentuknya kini sudah mengalami perubahan karena pernah diperbaiki menggunakan cincin beton.
Dalam tradisi masyarakat adat Luwu, sumber air semacam ini disebut memiliki fungsi khusus dalam pelaksanaan upacara adat.
Air dipandang sebagai simbol kebersihan sekaligus kesejahteraan. Karena itulah air yang digunakan untuk Mappaccekke Wanua harus diambil melalui tata cara tertentu.
Pada pelaksanaan yang didokumentasikan Pemerintah Kabupaten Luwu, tokoh-tokoh adat mengambil air dari Bubung Parani secara bergantian.
Air tersebut kemudian ditempatkan dalam wadah untuk dibawa ke tempat pelaksanaan ritual.
Setelah diambil, air itu justru diarak
Bagian ini yang membuat Mappaccekke Wanua berbeda dari ritual air biasa.
Air yang telah diambil dari Bubung Parani tidak langsung digunakan.
Ia lebih dahulu diarak menggunakan Sinrangeng Lakko, sebuah usungan adat. Dalam prosesi yang didokumentasikan Pemkab Luwu, wadah berisi air ditempatkan di atas pangkuan seorang gadis remaja yang belum akil balig sebagai simbol kesucian.
Iring-iringan tersebut disertai para pemuka adat serta palluru gau, yaitu instrumen dan atribut upacara adat.
Air kemudian dibawa menuju Baruga Arung Senga untuk ditempatkan di atas Lamming Pulaweng, atau singgasana kehormatan.
Jadi, air menjadi pusat perjalanan ritual.
Dari sumur.
Dibawa dalam usungan.
Kemudian ditempatkan di ruang kehormatan.
Barulah rangkaian Mappaccekke Wanua berlanjut.
“Mendinginkan” yang dimaksud adalah hubungan manusia
Di sinilah nama Mappaccekke Wanua memperoleh maknanya.
Pemerintah Kabupaten Luwu menjelaskan ritual ini sebagai bagian dari upaya melakukan rekonsiliasi dan memulihkan keseimbangan ikatan masseddi’ siri’ di antara berbagai unsur masyarakat.
Dengan kata lain, yang hendak “didinginkan” bukan tanah Luwu.
Melainkan suasananya.
Ketegangan.
Kerenggangan.
Konflik yang dapat mengganggu hubungan antarmanusia.
Harapannya, masyarakat kembali berada dalam keadaan harmonis dan dapat menjalani kehidupan bersama dengan lebih baik.
Menariknya, gagasan tersebut tetap dijalankan dalam konteks kehidupan masyarakat sekarang.
Pada 2 Juli 2025, Pemerintah Kabupaten Luwu kembali melaksanakan Mappaccekke Wanua di Baruga Arung Senga sebagai bagian dari rangkaian Hari Jadi Kabupaten Luwu ke-66. Prosesi kembali diawali dengan mallekke wae, yakni pengambilan air dari Bubung Parani.
Ada malam untuk berjaga sebelum air dipercikkan
Mappaccekke Wanua juga tidak berhenti pada pengambilan air.
Dalam rangkaian ritual yang didokumentasikan Pemkab Luwu, terdapat prosesi Maddoja Roja pada malam hari.
Prosesi ini dilakukan sebagai bentuk menjaga dan membersihkan kesadaran bersama sebelum memasuki tahap berikutnya.
Maddoja Roja diawali dengan Mattoana, atau perjamuan adat. Setelah itu dilakukan pembacaan doa oleh sembilan orang ulama. Pemerintah Kabupaten Luwu mencatat rangkaian doa tersebut berkaitan dengan harapan keselamatan dan kesejahteraan masyarakat Luwu.
Baru setelah rangkaian tersebut selesai, ritual memasuki bagian yang disebut Mangeppi Wae, yakni memercikkan air.
Air yang sebelumnya diambil dan diarak menjadi bagian inti dari prosesi Mappaccekke Wanua.
Ada sesuatu yang menarik dari urutannya.
Air tidak langsung dipercikkan.
Ia harus diambil lebih dahulu, dibawa melalui prosesi adat, kemudian melewati rangkaian doa dan perjamuan sebelum akhirnya digunakan.
Seolah-olah yang hendak dipulihkan bukan hanya keadaan sebuah wilayah, tetapi juga kesiapan batin orang-orang yang hidup di dalamnya.
Dari sebuah sumur, untuk sebuah negeri
Bubung Parani sendiri bukan sumur yang berdiri jauh dari kehidupan masyarakat.
Kajian cagar budaya Kemendikbud mencatat bahwa sumur tersebut berada di lingkungan masyarakat Kelurahan Senga dan telah digunakan dalam kegiatan Mappaccekke Wanua. Pada 2014, misalnya, air dari sumur itu digunakan dalam rangkaian perayaan ulang tahun Kota Belopa.
Kini bentuk fisiknya telah berubah. Sumur yang dahulu hanya berupa lubang berisi air kemudian diberi cincin semen sehingga bentuk aslinya tidak lagi tampak.
Namun, makna yang dilekatkan masyarakat terhadap sumber air itu masih dibawa dalam ritual.
Itulah yang membuat Mappaccekke Wanua menarik.
Sebuah sumur sederhana menjadi bagian dari ritual yang berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih besar: bagaimana sebuah masyarakat berusaha menjaga hubungan di antara anggotanya.
Air hanya menjadi medianya.
Yang hendak dijaga adalah persatuannya.
Dan yang hendak didinginkan adalah suasananya. (*)
