Luwu, Katasulsel.com — Parang, perisai, tombak, dan gerakan yang menyerupai persiapan menghadapi lawan menjadi bagian dari sebuah kesenian tradisional masyarakat Luwu.
Namanya Mangaru’.
Tarian ini menggambarkan keperkasaan pasukan perang Kedatuan Luwu pada masa lampau. Di dalam pertunjukannya, penari yang disebut pangaru’ membawakan rangkaian gerakan yang menggambarkan suasana peperangan dan keberanian para prajurit.
Namun, Mangaru’ tidak hanya berbicara tentang perang.
Di balik gerak dan perlengkapannya, kesenian yang tumbuh di masyarakat subetnis Rongkong tersebut menyimpan cerita tentang hubungan Rongkong dengan Kedatuan Luwu sekaligus menjadi bagian dari identitas budaya Luwu.
Dari Prajurit Menjadi Pertunjukan
Penelitian Iriani dalam Walasuji: Jurnal Sejarah dan Budaya menjelaskan bahwa Mangaru’ berkaitan dengan gambaran pasukan perang Kedatuan Luwu pada masa lalu.
Tarian tersebut kemudian berkembang sebagai seni tradisi. Mangaru’ tidak lagi hadir dalam konteks peperangan, tetapi dipentaskan dalam berbagai kegiatan masyarakat.
Penelitian tersebut mencatat Mangaru’ masih dipertunjukkan dalam acara resmi dan pesta pernikahan. Kesenian ini juga menjadi bagian dari berbagai perayaan yang berkaitan dengan kebudayaan Luwu.
Dokumen pemerintah mengenai tari daerah Bugis juga mencatat Pangaru’ versi Rongkong sebagai bentuk yang memiliki ciri tersendiri.
Dalam pertunjukan tersebut terdapat penari laki-laki yang disebut toborani. Salah seorang bertugas membacakan ossong atau ikrar mangaru, sementara penari lainnya membawa perlengkapan seperti perisai, kelewang, dan doke, yakni tombak yang dihiasi rambut.
Pertunjukan juga dapat melibatkan penari perempuan yang disebut pangngidung sebagai pengapit.
Perlengkapannya Bukan Sekadar Aksesori
Salah satu hal yang membuat Mangaru’ menarik adalah penggunaan perlengkapan yang menyerupai peralatan perang.
Ada kelewang atau parang, perisai, tombak, serta pakaian dan perlengkapan tradisional yang menjadi bagian dari karakter penari.
Penelitian mengenai Mangaru’ menyebut gerakan dan kostum dalam tarian memiliki makna yang berkaitan dengan nilai masyarakat tempat kesenian itu berkembang. Dengan demikian, benda yang dibawa penari bukan sekadar pelengkap visual, tetapi bagian dari bahasa simbolik pertunjukan.
Dokumen pemerintah juga mencatat bahwa dalam versi Rongkong, penari laki-laki menggunakan perlengkapan seperti kalewang, doke, seppuk, perisai, dan songkok bertanduk logam. Penari perempuan memiliki perlengkapan busana dan perhiasan tersendiri.
Ada Ikrar Sebelum Tarian
Mangaru’ juga memiliki unsur verbal.
Dalam pertunjukan Pangaru’ Rongkong, satu atau dua orang membuka pertunjukan dengan membacakan aru. Dokumen pemerintah menyebut ossong sebagai ikrar yang berkaitan dengan Mangaru’.
Artinya, pertunjukan tidak hanya dibangun oleh gerakan tubuh dan musik. Ada pula ucapan yang menjadi bagian dari ekspresi kesenian tersebut.
Hal ini memperlihatkan bahwa Mangaru’ merupakan seni pertunjukan yang memadukan gerak, busana, perlengkapan, dan tuturan.
Dari Penyambutan hingga Pesta Adat
Mangaru’ versi Rongkong tidak hanya dipentaskan dalam satu jenis kegiatan.
Dokumen pemerintah mencatat kesenian ini digunakan untuk menyambut orang yang memperoleh kemenangan dari medan perang, menyambut tamu adat dan tamu terhormat, serta menjadi bagian dari sejumlah pesta adat.
Di antaranya pesta panen sebagai bentuk syukuran, pesta perkawinan bangsawan, pelantikan Tumakaka, dan pengukuhan Tomokaka.
Dalam perkembangan berikutnya, Mangaru’ juga hadir dalam acara resmi dan pernikahan masyarakat Luwu. Penelitian tentang kesenian ini mencatat keberadaannya tetap bertahan hingga sekarang.
Perubahan fungsi tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah kesenian yang memiliki gambaran kuat tentang peperangan dapat bertahan setelah konteks sosialnya berubah.
Rongkong dan Ingatan tentang Kedatuan Luwu
Mangaru’ tumbuh kuat di lingkungan masyarakat subetnis Rongkong.
Dalam kajian Iriani, keberadaan Mangaru’ tidak dapat dilepaskan dari hubungan historis antara masyarakat Rongkong dan Kedatuan Luwu. Penelitian tersebut menyebut Mangaru’ sebagai salah satu ekspresi yang menggambarkan hubungan tersebut.
Katalog Warisan Budaya Takbenda Indonesia juga mencatat Mangaru’ sebagai karya budaya Sulawesi Selatan pada 2018. Dokumen tersebut menjelaskan Mangaru’ sebagai ekspresi seni yang menggambarkan keperkasaan pasukan perang Kedatuan Luwu dan menyebut masyarakat Rongkong sebagai komunitas tempat kesenian itu tumbuh dan berkembang.
Karena itu, Mangaru’ dapat dibaca lebih jauh sebagai bagian dari ingatan kolektif masyarakat.
Yang diwariskan bukan peperangannya, melainkan cerita tentang keberanian, hubungan antarkelompok, serta posisi sebuah komunitas dalam sejarah Luwu.
Ketika Perang Tinggal Menjadi Gerakan
Tidak ada lagi medan perang yang menjadi panggung Mangaru’.
Kini, ruangnya berpindah ke acara adat, pernikahan, perayaan, dan kegiatan kebudayaan.
Gerakan yang dahulu dikaitkan dengan keberanian prajurit kemudian menjadi bahasa seni yang dapat ditonton dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Penelitian tentang Mangaru’ bahkan menyimpulkan bahwa kandungan yang kuat dalam kesenian tersebut adalah integrasi antarsubetnis di Luwu.
Di situlah Mangaru’ menjadi lebih dari sekadar tari yang menampilkan parang dan perisai.
Ia menjadi cara masyarakat menyimpan ingatan tentang masa lalu dalam bentuk yang masih dapat dimainkan pada masa kini.
Perang telah berlalu. Tetapi gerakannya masih diwariskan.
