Luwu Utara, Katasulsel.com — Ada gerakan dalam tari tradisional Luwu yang diibaratkan seperti gasing.

Ia harus berputar dengan tenang. Tidak mudah goyah. Semakin stabil gerakannya, semakin baik pula tariannya.

Gerakan itu terdapat dalam Pajjaga Bone Balla, tari tradisional yang dahulu dimainkan anak-anak bangsawan di lingkungan istana Tanah Luwu.

Hari ini, Pajjaga Bone Balla tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia kategori seni pertunjukan. Warisan budaya tersebut ditetapkan pada 2018 dan persebarannya tercatat di Kabupaten Luwu Utara.

Tetapi Pajjaga Bone Balla bukan sekadar tari untuk dipertontonkan.

Ada cara hidup yang ikut diajarkan melalui gerakannya.

Dari kata “jaga”

Nama pajaga berkaitan dengan kata jaga atau majjaga.

Maknanya dekat dengan sikap berjaga, siaga, dan mawas diri.

Karena itu, ketenangan gerak dalam Pajjaga Bone Balla bukan sekadar persoalan estetika. Tubuh penari dituntut mampu menjaga keseimbangan dan mengendalikan gerak.

Katalog Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencatat Pajjaga Bone Balla sebagai salah satu bentuk pajaga di Tanah Luwu. Bentuk lainnya adalah Pajaga Lili.

Pajjaga Bone Balla dikenal sebagai tari istana dan dahulu dimainkan oleh anak-anak bangsawan.

Di sinilah tari tersebut menjadi menarik.

Sebab yang dilatih bukan hanya tubuh anak-anak bangsawan, tetapi juga sikap mereka.

Gasing yang tidak boleh goyah

Bayangkan sebuah gasing ketika berputar.

Ia tampak sederhana. Namun, ketika putarannya mulai kehilangan keseimbangan, tubuh gasing akan bergoyang sebelum akhirnya jatuh.

Gerak Pajjaga Bone Balla mengambil perumpamaan semacam itu.

Katalog WBTB menggambarkan gerakan tari yang menyerupai putaran gasing. Stabilitas menjadi bagian penting dari kesempurnaan gerak.

Dari sini, tari tidak lagi sekadar menjadi rangkaian langkah.

Ada latihan untuk menguasai tubuh sebelum seseorang dituntut menguasai perannya dalam kehidupan.

Sikap tenang, waspada, dan mampu mengendalikan diri menjadi nilai yang melekat pada Pajjaga Bone Balla.

Tari istana yang menyimpan cara melihat kekuasaan

Lingkungan tempat tari ini tumbuh juga membuatnya memiliki lapisan makna lain.

Pajjaga Bone Balla berada dalam tradisi kedatuan Luwu. Karena itu, ia tidak bisa sepenuhnya dipisahkan dari tata kehidupan istana dan masyarakat pada masa lalu.

Dokumentasi Kemendikbud mencatat adanya nilai sosial dan demokratis dalam Pajjaga Bone Balla. Hubungan antara datu, keluarga-keluarga besar, dan masyarakat menjadi bagian dari konteks yang menyertai kesenian tersebut.

Dengan kata lain, sebuah pertunjukan tari dapat menyimpan gambaran tentang bagaimana sebuah masyarakat mengatur hubungan antara pemimpin dan orang-orang yang dipimpinnya.

Yang diwariskan bukan cuma gerak.

Tetapi juga cara memandang kehidupan bersama.

Dari halaman istana ke generasi berikutnya

Pajjaga Bone Balla memang lahir dari lingkungan bangsawan.

Namun, warisan tersebut tidak berhenti ketika zaman istana berubah.

Katalog WBTB Indonesia mencatat komunitas pelestari Pajjaga Bone Balla di Sanggar Seni Budaya Kemakolean Baebunta, Desa Sassa, Kecamatan Baebunta, Luwu Utara. Nama Andi Masita Kampasu dan Sulaeka Andi Husain tercatat sebagai maestro dalam pendataan tersebut.

Unsur Pajjaga Bone Balla juga masih digunakan dalam pengembangan karya seni di Tanah Luwu. Pemerintah Kabupaten Luwu, misalnya, mencatat Pajjaga Bone Balla sebagai salah satu unsur yang digunakan dalam penciptaan tari Wija To Luwu pada 2025.

Artinya, pelestarian tidak selalu berarti membuat sebuah kesenian berhenti pada bentuk masa lalu.

Kadang-kadang, ia justru bertahan karena diberi ruang untuk bergerak mengikuti zaman.

Yang tersisa dari sebuah tari

Nama Pajjaga Bone Balla mungkin belum setenar banyak tari tradisional lain di Indonesia.

Namun, ceritanya menyimpan sesuatu yang lebih panjang daripada sebuah pertunjukan.

Dari gerakan yang menyerupai gasing, orang belajar tentang keseimbangan.

Dari kata pajaga, ada pesan untuk tetap siaga dan mawas diri.

Dan dari sejarahnya sebagai tari istana, tersimpan gambaran tentang bagaimana seni pernah menjadi bagian dari pendidikan, kehidupan sosial, dan kebudayaan masyarakat Tanah Luwu.

Barangkali itu sebabnya sebuah tarian bisa bertahan jauh lebih lama daripada orang-orang yang pertama kali menarinya.

Geraknya boleh diwariskan.

Tetapi yang membuatnya tetap hidup adalah makna yang terus menemukan generasi baru untuk menjaganya. (*)