Palopo, Katasulsel.com — Ada tradisi masyarakat pesisir Palopo yang dahulu digelar sebagai pesta laut. Nelayan berkumpul, doa dipanjatkan, sajian disiapkan, dan laut menjadi bagian penting dari sebuah perayaan adat.
Namanya Maccera Tasi.
Tradisi tersebut bahkan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia asal Kota Palopo melalui SK Nomor 362/M/2019. Dalam daftar resmi WBTB, Maccera Tasi masuk domain adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan.
Namun ada fakta yang membuatnya menarik.
Di salah satu komunitas nelayan Palopo, tradisi tersebut ternyata tidak lagi digelar dalam beberapa tahun terakhir.
Pernah Menjadi Pesta Laut Nelayan
Maccera Tasi dikenal sebagai tradisi masyarakat pesisir yang berkaitan dengan kehidupan nelayan.
Penelitian mengenai nelayan di Carede, Kota Palopo, mencatat masyarakat memaknai Maccera Tasi sebagai pesta laut yang dilakukan secara berkala. Tradisi tersebut berkaitan dengan rasa syukur atas kehidupan dan hasil laut, sekaligus harapan agar masyarakat memperoleh keselamatan ketika melaut.
Dalam tradisi masyarakat setempat, laut bukan sekadar tempat mencari ikan.
Ia menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat pesisir.
Karena itu, ketika hasil tangkapan berkurang atau masyarakat menghadapi keadaan sulit, Maccera Tasi memiliki tempat tersendiri dalam ingatan komunitas nelayan.
Ada Doa, Sajian, dan Prosesi ke Laut
Pelaksanaan Maccera Tasi memiliki sejumlah tahapan.
Dokumentasi mengenai tradisi di Palopo mencatat prosesi diawali dengan massimang, yakni memohon izin kepada pihak yang dituakan dalam adat untuk memulai pelaksanaan.
Setelah itu terdapat sejumlah rangkaian seperti massorong sebbu kati, mappinarekka, mallappeseng manassa, hingga prosesi penyerahan dan pertukaran sajian.
Tradisi tersebut berlangsung selama dua hari dalam dokumentasi yang diteliti. Hari pertama diisi dengan doa sebelum prosesi inti, sedangkan hari berikutnya dilanjutkan dengan pelepasan sajian yang dibawa masyarakat.
Sajian yang digunakan tidak hanya berasal dari hasil laut.
Hasil bumi dan bahan pangan masyarakat juga menjadi bagian dari perlengkapan tradisi.
Dalam penelitian tersebut, pelepasan sajian dimaknai sebagai simbol hubungan dan kekeluargaan masyarakat sekaligus ungkapan terima kasih atas karunia yang diterima dari Tuhan.
Mengapa Disebut Maccera Tasi?
Nama Maccera Tasi berasal dari bahasa Bugis.
Dalam kajian mengenai tradisi tersebut, kata maccera berkaitan dengan kata cera yang berarti darah. Sementara tasi merujuk pada laut.
Istilah tersebut kemudian digunakan untuk menyebut tradisi pesta laut masyarakat pesisir.
Namun, pemaknaan Maccera Tasi tidak bisa dilepaskan dari konteks masyarakat yang menjalankannya.
Penelitian di Carede menunjukkan bahwa masyarakat memaknainya sebagai bentuk syukur, penghormatan terhadap leluhur, sekaligus harapan akan keselamatan dan terhindar dari malapetaka.
Karena itu, tradisi ini menyimpan lapisan makna yang lebih kompleks daripada sekadar pesta masyarakat nelayan.
Pernah Digelar oleh Masyarakat Berbeda Agama
Salah satu sisi menarik Maccera Tasi di Palopo adalah keterlibatan masyarakat dengan latar keagamaan berbeda.
Sejumlah penelitian tentang Maccera Tasi di Palopo mencatat tradisi tersebut menjadi ruang komunikasi masyarakat pesisir yang berbeda keyakinan.
Kajian tentang budaya lokal dan pendidikan toleransi bahkan mencatat Maccera Tasi di Palopo sebagai salah satu kegiatan budaya yang mempertemukan masyarakat Muslim dan Hindu.
Dalam konteks tersebut, tradisi tidak hanya berfungsi sebagai ritual kebudayaan.
Ia juga menjadi ruang sosial.
Masyarakat bertemu, berkomunikasi, bekerja bersama, dan mempertahankan hubungan di tengah perbedaan keyakinan.
Tetapi Tradisinya Berhenti
Di sinilah kisah Maccera Tasi menjadi berbeda dari banyak tradisi yang masih rutin digelar.
Penelitian khusus mengenai Tradisi Maccera Tasi’ Nelayan Kota Palopo mencatat bahwa di kawasan Carede, tradisi tersebut terakhir dilaksanakan pada 2017.
Penelitian yang dilakukan pada 2022 itu menyebut persoalan kepercayaan dan pendanaan menjadi salah satu hambatan pelaksanaan kembali tradisi.
Artinya, status sebagai warisan budaya tidak otomatis membuat sebuah tradisi terus berlangsung.
Sebuah tradisi dapat tercatat dalam dokumen negara, diteliti akademisi, dan dikenal sebagai bagian dari identitas daerah, tetapi pelaksanaannya tetap bergantung pada masyarakat yang menjadi pemilik budaya tersebut.
Pemerintah Palopo Tetap Mengakuinya sebagai Budaya Daerah
Meski pelaksanaannya menghadapi persoalan, Maccera Tasi tetap mendapat tempat dalam kebijakan kebudayaan Kota Palopo.
Dokumen pemerintah daerah mencatat Maccera Tasi sebagai bagian dari upaya pelestarian dan aktualisasi adat budaya daerah.
Dalam dokumen tata ruang Kota Palopo, Maccera Tasi bahkan ditetapkan sebagai salah satu kawasan pariwisata budaya, khususnya di Kecamatan Wara Timur dan Kecamatan Wara Utara.
Dalam regulasi tata ruang Kota Palopo yang lebih baru, kegiatan wisata budaya Maccera Tasi juga disebut dalam ketentuan kawasan pesisir dan ekosistem mangrove.
Ini menunjukkan bahwa pemerintah masih menempatkan Maccera Tasi sebagai bagian dari kekayaan budaya dan potensi budaya pesisir Kota Palopo.
Warisan Budaya Tidak Selalu Berarti Masih Ramai Digelar
Maccera Tasi memberikan pelajaran menarik tentang arti sebuah warisan budaya.
Menjadi WBTB bukan berarti sebuah tradisi pasti masih dilakukan setiap tahun.
Dalam kasus Maccera Tasi di Palopo, dokumen resmi negara masih mencatatnya sebagai warisan budaya. Pemerintah daerah juga masih memasukkannya dalam dokumen kebudayaan dan tata ruang.
Sementara penelitian terhadap masyarakat nelayan menunjukkan bahwa pelaksanaannya di Carede pernah berhenti.
Di antara dua kondisi tersebut terdapat pekerjaan besar bernama pelestarian.
Bukan hanya menyimpan nama Maccera Tasi dalam daftar warisan budaya, tetapi juga memahami alasan sebuah tradisi berhenti, mendokumentasikan pengetahuan yang masih tersisa, dan melihat apakah masyarakat pemiliknya masih menginginkan tradisi tersebut dihidupkan kembali.
Sebab sebuah tradisi tidak benar-benar hidup hanya karena namanya tercatat.
Ia hidup ketika masih ada masyarakat yang mengingat, memahami, dan memilih untuk meneruskannya.
