Oleh: Ismail Suardi Wekke
Redaktur Senior Katasulsel.com

SAYA punya teman.

Penggemar Messi garis keras.

Kalau Argentina menang, ia bahagia.

Kalau Argentina kalah, ia menyalahkan rumput.

Kalau Messi tidak mencetak gol, ia bilang Messi sedang menyusun strategi.

Pokoknya apa pun yang terjadi, Messi tetap benar.

Malam ini saya menemukan satu lagi anggota klub itu.

Namanya Pramono Anung.

Gubernur Jakarta.

Orang nomor satu di ibu kota.

Mantan Sekretaris Kabinet hampir satu dekade.

Politikus senior yang sudah kenyang asam garam kekuasaan.

Tetapi begitu bicara final Piala Dunia 2026, semua jabatan itu mendadak hilang.

Yang tersisa hanya seorang penggemar sepak bola.

Seorang penggemar Argentina.

Seorang yang masih percaya kepada Lionel Messi.

Saya membayangkan banyak orang bertanya.

Mengapa masih Argentina?

Mengapa masih Messi?

Bukankah di seberang sana ada Spanyol yang sedang muda?

Sedang cepat?

Sedang lapar gelar?

Bukankah ada Lamine Yamal yang membuat dunia heboh?

Bukankah ada Rodri yang menjadi pengatur ritme permainan?

Bukankah ada Oyarzabal yang diam-diam mematikan?

Ya.

Semua itu benar.

Tetapi sepak bola tidak selalu soal logika.

Kadang sepak bola adalah soal rasa.

Dan rasa itu sulit dilawan.

Messi adalah rasa itu.

Pria kecil dari Rosario itu sudah terlalu lama tinggal di hati para penggemarnya.

Ia tumbuh bersama mereka.

Mereka melihat Messi saat masih berambut gondrong.

Mereka melihat Messi saat memenangi Ballon d’Or.

Mereka melihat Messi menangis.

Mereka juga melihat Messi akhirnya mengangkat Piala Dunia.

Hubungan seperti itu sulit diputus.

Mungkin itulah yang dirasakan Mas Pram.

Karena bagi sebagian orang, mendukung Argentina hari ini bukan lagi soal negara.

Bukan lagi soal taktik.

Bukan pula soal statistik.

Ini soal menyaksikan bab terakhir seorang legenda.

Sementara Spanyol datang dengan cerita yang berbeda.

Spanyol adalah masa depan.

Argentina adalah kenangan yang belum ingin pergi.

Spanyol membawa Yamal.

Argentina membawa Messi.

Spanyol menawarkan harapan baru.

Argentina menawarkan kisah yang belum selesai.

Saya tidak tahu apakah Mas Pram nanti menonton pertandingan sampai selesai atau tidak.

Tugas gubernur tentu tidak sedikit.

Jakarta tidak pernah benar-benar tidur.

Tetapi saya yakin satu hal.

Saat peluit pertama berbunyi, Mas Pram bukan lagi gubernur.

Ia hanyalah satu dari jutaan orang yang berharap Messi sekali lagi membuat keajaiban.

Dan memang begitulah sepak bola.

Ia bisa membuat seorang gubernur, seorang menteri, seorang sopir, seorang wartawan, seorang pedagang kopi, duduk dalam perasaan yang sama.

Sama-sama cemas.

Sama-sama berharap.

Sama-sama berdoa agar tim favoritnya menang.

Malam ini Mas Pram sudah menentukan pilihan.

Argentina.

Messi.

Titik.

Tidak ada revisi.

Tidak ada lobi.

Tidak ada kompromi.

Kalau nanti Argentina juara, mungkin senyum Mas Pram sedikit lebih lebar saat memulai aktivitas esok hari.

Kalau kalah?

Yah…

Empat tahun lagi masih ada Piala Dunia berikutnya.

Begitulah nasib para pencinta sepak bola.

Selalu punya harapan baru.

Bahkan sebelum kesedihan lama benar-benar hilang. (*)

Ditulis: Jakarta, 19 Juli 2026