Oleh: Edy Basri

ADA dua jenis penonton ketika Argentina bermain.

Yang pertama, mereka yang menonton sambil santai.

Yang kedua, mereka yang jantungnya ikut bermain.

Saya kira Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif (Syahar), masuk kelompok kedua.

Maklum.

Syahar sangat ngefans Argentina.

Kalau Argentina menang, wajahnya biasanya cerah.

Kalau Argentina kalah, mungkin kopi terasa kurang manis.

Babak semifinal Piala Dunia 2026 dini hari tadi sepertinya menjadi subuh yang tidak ramah bagi para pendukung Argentina.

Termasuk bagi mereka yang berada ribuan kilometer dari stadion.

Termasuk di Sidrap.

Awalnya semua berjalan normal.

Argentina menguasai bola.

Messi mondar-mandir mencari ruang.

Pendukung Albiceleste masih tenang.

Mereka percaya satu hal:

Selama ada Messi, selalu ada harapan.

Lalu menit ke-55 datang.

Dan harapan itu mendadak terganggu.

Anthony Gordon mencetak gol untuk Inggris.

Umpan Morgan Rogers berhasil diselesaikan dengan baik.

Gol.

Inggris unggul 1-0.

Seketika suasana berubah.

Pendukung Inggris bersorak.

Pendukung Argentina mulai gelisah.

Di rumah-rumah, di warung kopi, di depan televisi, ekspresi wajah mulai berubah.

Mungkin termasuk di Sidrap.

Karena bagi penggemar Argentina, skor 0-1 itu bukan sekadar angka.

Itu ancaman.

Itu alarm.

Itu tanda bahwa final bisa menjauh.

Menit demi menit berjalan.

Belum ada gol.

Saya membayangkan suasana hati para penggemar Argentina saat itu.

Mereka mulai menghitung waktu.

Bukan menghitung skor.

Karena waktu terasa lebih menakutkan daripada lawan.

Semakin sedikit waktu tersisa, semakin besar kecemasan.

Argentina menyerang.

Messi berusaha.

Tetapi Inggris bertahan dengan disiplin.

Lalu datanglah menit ke-85.

Menit yang mungkin akan dikenang lama oleh para pendukung Argentina.

Messi menerima bola.

Messi melihat ruang.

Messi mengirim umpan.

Dan Enzo Fernandes melakukan sisanya.

Tendangan keras dari luar kotak penalti.

Gol.

Seketika dunia Argentina hidup kembali.

Skor berubah 1-1.

Saya tidak tahu bagaimana reaksi Syaharuddin Alrif saat itu.

Tetapi saya yakin bukan hanya dia yang lega.

Jutaan pendukung Argentina di seluruh dunia mungkin melakukan hal yang sama.

Ada yang berteriak.

Ada yang melonjak dari kursi.

Ada yang hampir menumpahkan kopi.

Karena gol itu bukan sekadar penyama kedudukan.

Gol itu menyelamatkan mimpi.

Dan ternyata Enzo belum memberikan akhir cerita.

Ia hanya membuka pintu.

Yang menyelesaikan cerita tetap seorang pria bernama Lionel Messi.

Bukan dengan gol.

Melainkan dengan cara yang lebih Messi.

Assist.

Lagi.

Di menit 90+2, Messi mengirim umpan manis ke kotak penalti.

Lautaro Martinez menyambutnya dengan sundulan.

Gol.

2-1.

Selesai.

Argentina berbalik menang.

Inggris pulang.

Argentina ke final.

Dan Messi kembali melakukan sesuatu yang membuat orang menggelengkan kepala.

Ia tidak mencetak gol.

Tetapi dua gol Argentina lahir dari kakinya.

Dua assist.

Dua momen penting.

Dua alasan mengapa Argentina masih hidup di Piala Dunia.

Karena Messi memang seperti itu.

Ketika orang menunggu gol darinya, ia justru memilih menjadi penyedia gol.

Ketika orang mengira usianya mulai mengejar, ia justru mengatur pertandingan seperti sedang bermain catur.

Malam itu Argentina menang.

Tetapi selama 30 menit setelah gol Inggris, para pendukung Albiceleste sempat merasakan sesuatu yang tidak nyaman.

Tegang.

Cemas.

Khawatir.

Mungkin termasuk seorang bupati di Kabupaten Sidrap.

Untung ada Enzo Fernandes.

Dan lebih untung lagi, masih ada Lionel Messi (*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

๐Ÿ‘‰ Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini