Oleh: Dinda Fatimah Zahra

Sudah lama jalan itu menjadi bahan obrolan.

Di warung kopi.

Di teras rumah.

Di pinggir sawah.

Bahkan kadang lebih sering dibicarakan daripada pertemuan Inggris Vs Argentina di perempat final Piala Dunia.

Namanya; Jalan Sidrap–Soppeng.

Jalan yang setiap hari dilewati warga.

Jalan yang menghubungkan aktivitas ekonomi, sekolah, pasar, dan kehidupan banyak orang.

Kalau jalan itu mulus, orang jarang membicarakannya.

Tetapi kalau mulai rusak, semua orang tiba-tiba menjadi ahli jalan raya.

Begitulah.

Beberapa bulan terakhir, keluhan soal ruas itu cukup sering terdengar.

Saya juga mendengarnya.

Mungkin Anda juga.

Karena itu ketika melintas di wilayah Panca Lautang (Sidrap) dan melihat alat-alat mulai bekerja, saya langsung teringat satu kalimat lama:

“Rakyat tidak butuh penjelasan terlalu panjang. Rakyat ingin melihat pekerjaan.”

Tapi, pekerjaan itu kini mulai terlihat.

Di Wanio, orang-orang mulai berbicara soal aspal.

Bukan karena harga aspal.

Tetapi karena persiapan pengaspalan sudah dimulai.

Di Bilokka dan Corawali, cerita yang beredar berbeda lagi.

Di sana talud mulai dibangun.

Pekerja terlihat.

Material terlihat.

Aktivitas pembangunan terlihat.

Bagi sebagian orang mungkin itu biasa.

Tetapi bagi warga yang setiap hari melewati jalan tersebut, itu bukan hal kecil.

Karena harapan memang sering lahir dari hal-hal sederhana.

Dari suara mesin alat berat.

Dari tumpukan batu.

Dari pekerja yang mulai sibuk di lapangan.

Saya teringat satu kebiasaan masyarakat kita.

Kalau pembangunan belum dimulai, mereka bertanya.

Kalau pembangunan sudah dimulai, mereka memperhatikan.

Kalau pembangunan selesai dengan baik, mereka mengingatnya bertahun-tahun.

Karena itu jalan bukan sekadar urusan aspal.

Jalan adalah urusan kepercayaan.

Masyarakat ingin tahu apakah aspirasinya didengar.

Apakah keluhannya sampai.

Apakah pemerintah benar-benar hadir.

Di sinilah pentingnya sebuah pekerjaan yang terlihat nyata.

Saya membayangkan seorang petani dari Corawali yang setiap hari membawa hasil panennya.

Atau seorang ibu yang harus mengantar anaknya ke sekolah.

Mereka mungkin tidak mengikuti rapat anggaran.

Tidak membaca dokumen proyek.

Tetapi mereka bisa melihat alat berat bekerja.

Dan itu sudah cukup menjadi jawaban.

Tentu pekerjaan ini tidak datang sendiri.

Ada pemerintah yang menganggarkan.

Ada yang memperjuangkan.

Ada yang mengawal.

Karena itu tidak sedikit warga yang menyampaikan apresiasi kepada Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, dan Wakil Gubernur Fatmawati Rusdi.

Masyarakat melihat perhatian pemerintah provinsi mulai terasa hingga ke daerah.

Di Sidrap sendiri, nama Bupati Syaharuddin Alrif dan Wakil Bupati Nurkanaah juga ikut disebut-sebut warga.

Bukan karena baliho.

Bukan karena pidato.

Tetapi karena masyarakat melihat adanya hasil yang mulai muncul di lapangan.

Dan rakyat memang paling mudah percaya pada sesuatu yang bisa dilihat.

Bukan yang dijanjikan.

Melainkan yang dikerjakan.

Jalan Sidrap–Soppeng itu memang belum selesai.

Aspalnya belum seluruhnya terhampar.

Taludnya belum seluruhnya berdiri.

Masih ada proses yang harus dilalui.

Tetapi setidaknya sekarang jalan itu sudah mulai bergerak.

Dan bagi warga, itu sudah cukup untuk memulai harapan baru.

Karena kadang-kadang, kabar baik tidak datang dalam bentuk peresmian besar.

Ia datang dalam bentuk alat berat yang mulai bekerja di pinggir jalan. (*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini