Oleh: Dinda Fatimah Zahra
Ada orang yang kalau memilih tim jagoan, alasannya rumit.
Harus lihat statistik.
Harus lihat penguasaan bola.
Harus lihat siapa pelatihnya.
Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif tidak.
Ia memilih Argentina.
Alasannya satu.
Messi.
Selesai.
Begitulah sepak bola. Kadang yang membuat orang jatuh cinta bukan negaranya. Bukan pula warna kostumnya. Tapi satu orang.
Satu pemain.
Yang membuat jutaan orang rela begadang.
Dini hari nanti, ketika Argentina bertemu Inggris di semifinal Piala Dunia 2026, banyak yang akan mendukung Inggris. Itu wajar. Inggris punya sejarah besar. Permainannya disiplin. Materi pemainnya luar biasa.
Tapi ada satu masalah.
Di kubu seberang ada Messi.
Nama itu terlalu besar untuk diabaikan.
Syaharuddin tahu, Messi sebenarnya sudah tidak punya utang kepada sepak bola. Semua gelar sudah pernah ia genggam. Semua penghargaan individu sudah habis ia sapu. Orang yang terus mencari kekurangan Messi, mungkin memang sedang kehabisan pekerjaan.
Namun, sepak bola tidak hidup dari logika.
Sepak bola hidup dari cerita.
Dan cerita yang paling indah selalu punya akhir yang indah.
Kalau ini benar-benar menjadi Piala Dunia terakhir Messi, masa iya ia harus pulang sambil menunduk?
Masa iya kisah pemain terbaik generasinya ditutup dengan air mata?
Jangan.
Biarkan ia tertawa.
Biarkan ia mengangkat trofi sekali lagi.
Lalu bilang kepada dunia, “Sudah. Saya selesai.”
Begitu saja.
Tidak perlu pidato panjang.
Karena legenda tidak lahir dari banyak bicara.
Legenda lahir dari momen.
Syaharuddin tampaknya sedang menunggu momen itu.
Ia ingin melihat Messi menutup karier internasional dengan senyum, bukan dengan penyesalan.
Kalau nanti Inggris yang menang?
Ya, sepak bola memang kejam.
Bola itu bundar. Tidak pernah bertanya siapa yang lebih pantas. Kadang yang bermain lebih baik justru pulang lebih dulu.
Tetapi menjadi suporter memang tidak pernah soal kepastian.
Suporter itu modalnya cuma dua.
Harapan.
Dan doa.
Syaharuddin sudah menjatuhkan pilihannya.
Argentina.
Bukan karena Inggris tim lemah.
Bukan pula karena ikut-ikutan.
Ia hanya ingin, suatu hari nanti, ketika orang membuka kembali buku sejarah sepak bola, halaman terakhir tentang Lionel Messi ditulis dengan satu kalimat sederhana:
“Ia pergi sebagai juara. Dan dunia berdiri memberi tepuk tangan.”
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
